GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Secara Kebetulan-3


__ADS_3

Aldo


​Rutinitas adalah kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Hal yang tak pernah bisa kit hindari. Karena rutinitas merupakan tindakan dan pekerjaan wajib yang kita miliki.


*


Bosan! Ya. Saat ini adalah saat-saat dimana aku bosan dengan statusku sebagai ketua OSIS. Hm, mengapa semua kegiatan yang ku lakukan harus serumit ini sih? Huh! Menyebalkan!


Kali ini rapat dikendalikan oleh Wella sehingga membuatku menjadi diam dan hanya mendekarkan perkataan yang di katakan olehnya. Walau kadang Wella menyebutkan ku dan meminta persetujuanku. Tapi tetap saja dia yang mengendalikan semuanya.


​Akhirnya rapatnya selesai! Dan aku menarik nafas lega karna semua sudah berakhir. Dan saat ini perutku benar-benar merasa lapar. Aku baru ingat tadi pagi aku tak sempat sarapan karna terlambat bangun.


​“Do, kita ke kantin yuk”, ajak Wella kepadaku saat sedang membereskan segala kursi-kursi yang ada dalam ruangan itu.


​“Iya yuk. Aku udah lapar dari tadi nih Well”, kataku menggerutu.


​Kami pun berjalan menuju kantin. Wella menarikku dengan sangat bersemangat. Kami berjalan menelusuri kantin, Wella tetap memegang tanganku tanpa melepaskan genggamannya sekalipun. Kadang aku sering berpikir tindakan Wella dan kepedulian Wella kepadaku terlalu berlebihan. Tapi aku selalu menghilangkan rasa pikiranku itu.

__ADS_1


Aku terlalu takut berjauhan dengan Aini. Aku terlalu takut untuk mengabaikan Aini, walau aku tau aku hanyalah seorang sahabat bagi Aini. Aku sangat menginginkan kedekatan ku dan Aini itu lebih dari sekedar sahabat. Tapi aku tak bisa, aku tak bisa menghianati Aini. Aku tak ingin dia marah karna keegoisan diri ku sendiri. Oleh karna itu kadang aku harus bersikap berjaga jarak dengannya.


​“Kamu mau pesan apa Do? Biar aku yang pesanin ya”, kata Wella yang membuyarkan lamunanku.


​“Aku cuma mau roti coklat 2 sama teh botol 1 ya Well”, ucapku dengan jelas.


​“Oke. Kamu tunggu sini bentar ya”.


Wella pergi mengambil pesanan yang ku inginkan. Seketika mataku tertuju pada Aini. Aini terlihat ingin pergi dari tempat duduk yang sedari tadi di dudukinya. Aku berdiri dan tiba-tiba jari-jari tangan Wella menghentikan tindakan yang mau ku buat.


​“Kamu mau kemana? Nih, pesanan kamu udah aku bawain loh. Ayuk makan dulu”, kata Wella dengan tulus.


​“Eng… Enggak kok. Gak kemana-mana”, kataku sedikit gugup. Wella pun diam dan makan dengan tenang.


​“Kamu tau gak. Di XXI Hermes ada film baru yang keren loh do. Kita nonton yuk”


“Kamu itu ya, kalo ngomong sambil makan itu pelan-pelan jadi kotor gini kan”

__ADS_1


Aku menghapus saus mie yang ada di dekat bibir Wella. Dia hanya diam dan tersenyum.


“Hm, iya-iya sorry. Gimana? Kamu mau gak?”, tanyanya lagi.


“Judulnya apa?”


Aku ragu ingin pergi. Tapi entah mengapa pertanyaan ini malah muncul dari bibirku.


“The avenger do. Ayuk dong do, katanya filmnya juga lucu”, pujuknya.


“Hm, boleh-boleh. Kapan?”, jawabku dengan santai.


“Hari minggu ini kamu bisa gak? Aku minggu ini free”


“Yaudah minggu ini aku jemput kamu jam 1 ya”


“Oke boss” kami berdua tertawa dan melanjutkan makan kami.

__ADS_1


Terkadang kita harus belajar untuk berteman dengan siapa saja untuk menghapus rasa berlebih yang hampir tertumpah. Itu adalah wujud antisipasi terbaik sebelum rasamu benar-benar tumpah dan meluber kesegala arah. Karena akhirnya, hal itu akan membuat rasamu menjadi sia-sia.


__ADS_2