
Aini
Akibat dari peristiwa ribut ketika istirahat tadi adalah gosip yang menyebar cepat di sana sini. Hal itu cukup berdampak buruk bagi Sella. Dia menjadi biang gosip yang sangat ngetrend di sekolah. Bahkan teman-teman dari kelas lain malah ribut datang ke kelas kami hanya karena melihat orang yang dapat kejutan meriah siang ini. Sepertinya Zul berhasil meluluhkan hati Sella. Padahal selama ini Zul ngekorin Sella kemana-mana tetap saja tak menghasilkan apapun. Dan anehnya si Zul ini dapat ide kreatif darimanasih sampe buat acara seheboh itu. Ahh entahlah. Tapi sepertinya akan sangat bahagia sekali jika mendapatkan kejutan yang sangat sweet seperti itu. Zul emang keren dehh.
Sepulang sekolah aku melihat Gara di gerbang sekolah. Dia sedang berdiri di pagar sekolah, seolah menunggu seseorang. Dia melihatku yang tengah memperhatikannya. Dengan sigap ia menyunggingkan senyumnya bersama dengan lambaian tangan. Aku membalas senyumnya dan berjalan kearahnya dengan santai.
“Kenapa kamu lama sekali keluar dari kelas?”, tanya Gara.
Dia ngapain nanya aku ya.
“Iya tadi masih ada ribut-ribut di kelas. Kamu nunggu siapa?”, tanyaku padanya.
“Kamu”
“Kok aku?”
“Iyaa kamulah”
Aku tersenyum tak percaya dengan apa yang ia katakan.
“Yang benar Gara. Kamu nunggu siapasih?”
“Aku nunggu kamu Aini”
“Serius?”
“Semiliarius”
“Apaantuh?”
“Banyak. Gak cuma satu”
“Mau ngapain?”
“Kasih kamu”
“Apanya?”
__ADS_1
“Miaratusnya biar senang”
“Bukan. Maksud aku mau ngapain nunggu aku”
“Oh kirain”
“Terus?”
“Enggak. Belok aja”
“Ehh apaan sih ini”
Kami tersenyum dan tertawa. Aku selalu menikmati dialog bersama Gara. Dia unik. Kalau ngomong gak pernah jelas. Sejak beberapa bulan terakhir ini kami lumayan dekat. Tapi ya begitu saja. Aku juga selalu menikmati kebersamaan bersama kami. Tak tahu entah sejak kapan. Tapi ketika melihatnya, aku menjadi lebih bersemangat daripada biasanya. Tak jarang juga jantungku ini tak kaharuan berdetak menggelegar tanpa alur dan irama teratur.
“Ada yang mau aku bilang sama kamu Aini”, ucapnya kemudian.
“Apa?”
“Iya aku mau ngomong sama kamu”
“Lah iya ya. Berarti udah dong”
“Udahhh?”, tanya ku tak percaya dengan apa yang dia ucapkan.
“Iya udah. Hati-hati di jalan Aini”
Dia berjalan meninggalkanku sambil melambaikan tangan.
‘Udah ya?’, batinku masih tak percaya kalau dia benar-benar berjalan menjauh dariku.
Aku masih terbengong ketika Aldo tiba-tiba datang mengejutkanku.
“Woii!!”, bentaknya mengagetkanku.
“Heh... Apasih”, ucapku kaget.
“Ngelamunin apa nona manis?”
__ADS_1
“Itu tadi si Gara kek ada gilanya”, kataku sambil tertawa membayangkan tingkah dan dialog kami tadi.
“Dia gangguin kamu?”
“Enggak kok Do. Cuma aneh aja tadi”
“Aneh gimana?”
“Adadeh......”
“Heleh. Pake rahasia-rahasiaan. Aku udah bilangkan aku gak suka”
“Dia gak ganggu Aldo....”, ucapku menegaskan.
“Ada yang mau aku bilang sama kamu tentang dia”
“Kenapa dia?”
“Yaa hummm yaaaa”
“Apasih”
“Nanti aja deh ni”
“Gak jelas kamu. Udah ahh... aku mau pulang. Aku deluan ya. Bye Aldo”
“Iya hati-hati ni.”
“Kamu jangan lama-lama pulang dari sekolah do. Kamu gak di gaji loh ya”
“Iya iya bawel”
Aku pergi meninggalkan Aldo yang masih membeli camilan di depan gerbang sekolah.
Diperjalanan aku melihat Papa Aldo sedang membukakan pintu mobil penumpang disebelahnya. Aku melihat sekilas bahwa Papanya sedang membukakan pintu itu kepada seorang wanita. Tak jelas. Aku bahkan hampir tak percaya bahwa itu Papa Aldo. Hingga aku tak sadar bahwa aku membalikkan kepalaku untuk memastikan orang yang kulihat itu benar atau salah. Masih saja tak jelas. Aku tak bisa menandai siapa sosok wanita di bangku penumpang Papanya Aldo. Tapi yang pasti kali ini membuatku sangat terkejut. Besok aku tanya Aldo aja deh. Manatau aku salah lihat.
Dialog kita singkat sekali. Namun gurih. Membuatku ingin terus memakan kata demi kata itu. Rasaku ini masih tak jelas. Mungkinkah ada rasa seperti mencinta? Nanti saja kita pinta, ketika dialog kita mencerna rasa.
__ADS_1