GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Warna Baru-2


__ADS_3

Aldo


Setelah beberapa hari beristirahat di rumah akhirnya Aini bisa beraktifitas seperti biasanya. Aku menemaninya selama masa istirahatnya di rumah. Sepulang sekolah aku pasti sudah menjenguknya dan berbincang beberapa hal padanya. Aku sudah mencoba melupakan kesalahpahamanku dengan Papa maupun Gara. Ketika aku sudah yakin akan berbincang atau bertemu dengan Gara , tetapi lubuk hatiku seolah berkecamuk menolak perbuatanku. Akhirnya kuputuskan untuk tak menemuinya ataupun membahas tentang hal itu lagi. Aku malah pulang ditengah perjalananku untuk menemuinya. Seolah ada sesuatu dalam diriku yang berharap bahwa lebih baik aku kembali menjadi orang yang tak perduli dan tak mengurusi apapun. Dan sikapku yang seperti itu kembali menang. Menang melawan pertengkaran benakku yg berkecamuk secara terus-menerus.


Siang itu sepulang sekolah aku masih menikmati keriuhan sekitar sekolah. Aini sudah pulang lebih awal bersama dengan teman-temannya. Aku masih duduk memandang sekeliling dengan tenang. Kulihat sepasang mata sedang memandangku seolah ingin mengutarakan sesuatu. Sosok itu semakin dekat denganku bahkan duduk di sebelahku dengan tenang.


“Sorry”, katanya tanpa menoleh kearahku.


Kami sama-sama memandang lurus ke depan kami tanpa menoleh satu sama lain.


“Buat apa?”, balasku.


“Aku baru tahu, kalau Papa kamu sama Mama kamu itu sahabat Bunda”, kata Gara dengan penuh penyesalan.


“Oh”, ucapku datar karena memang aku sudah tahu hal tersebut, sehingga tak membuatku terkejut lagi.


Aku sudah malas membahas hal ini. Karena bagiku, mengurusi hal yang tak penting hanya membuat beban pikiranmu bertambah.


“Ko udah tau memang ya?”, tanyanya samaku.


“Udah”


“Kok gak bilang samaku?”


“Supaya apa? Gak penting”


“Aku benar-benar menyesal. Aku tak tahu apa-apa tapi malah menyerangmu penuh dengan amarah”


“Hem”

__ADS_1


“Aku benar-benar minta maaf”


“Udah?”


“Maksudnya?”


“Udah selesai kau ngomong?”


“Eh udah”


“Yaudah. Jaga Aini dengan baik. Jangan sakiti dia apalagi membuatnya bersedih. Kalau aja aku tahu kau buat dia bersedih. Akan kupastikan kau gak akan bisa ketemu dengan dia lagi”


“Tenang aja. Aku udah lama suka sama dia. Dia cerita samamu ya”


“Lebih baik kau gak tau apa-apa. Daripada kau merasa bersalah samaku”


“Kenapa?”


Aku pergi meninggalkan Gara di kursi tersebut dengan rasa penasaran miliknya. Sudah kuputuskan sejak kemarin untuk tidak berurusan dengannya lagi. Atau bahkan hanya sekedar peduli dengannya. Sudah cukup kemarin aku mencoba menenangkan Aini agar dia mencoba membuka dirinya dan berpikir apa yang harus ia lakukan berikutnya. Ternyata Aini mengambil keputusan itu. Dia mencoba belajar kembali untuk mengerti dan memahami perasaan orang itu. Aku takkan mungkin menentangnya. Harapku hanyalah sebuah kebahagiaan selalu mengelilingi dunia milik Aini.


Sayap yang patah takkan bisa kembali dengan sempurna. Tapi bibit yang patah masih bisa kembali tumbuh dengan cabang baru di dahan lainnya.


^^^^


Dering ponselku menghentikan langkahku. Aku mengernyitkan dahi melihat nama di layar ponselku.


“Do, tolongin aku”, ucap suara di balik sana.


“Ini siapa?”, tanyaku karena tak tahu siapa pemilik nomer telepon yang menghubungiku ini.

__ADS_1


“Tia”, ucapnya.


“Ha?”, aku terkejut dan memastikan kembali. Kulihat layar ponselku yang masih aktif dan kembali bertanya, “ini siapa?”


“Tia”, ucapnya lagi dengan lebih jelas, “Do, kamu dimana?”


“Sekolah”


“Tolongin akuuuu”


“Kenapa kamu?”


“Aku di kantor Papa. Papa cariin kamu terus. Tolongin aku dong. Bilang kita baik-baik aja ya? Please”


“Apaansih? Itu urusanmu”


“Sekali ini aja do. Aku janji gak akan gangguin kamu lagi”


“Kenapa gak bilang saja dengan Papa mu itu?”


“Gak bisa Do. Dia sudah sangat menyetujui kamu. Ayolahh.... tolong aku sekali ini saja”


“Eh udah ya, Papa sudah datang. Kamu kesini secepatnya ya. Aku tunggu kamu. Aku tunggu kamu Aldo. Cepat yaaa. Byee”


Sambungan terputus-


Apaan nih cewek bar-bar. Maksudnya apa coba. Buat apa aku harus kesana.


Dia adalah orang yang pernah mengisi hari-hariku. Dia adalah orang yang awalnya memahami kedekatanku dengan Aini sebagai sahabat tetapi pada akhirnya dia malah cemburu dan berakhir untuk pergi meninggalkanku. Alasan yang tak masuk akal. Sudah beberapa waktu kami tak saling berhubungan. Aku bahkan tak memiliki kontaknya lagi saat ini. Dan apa maksudnya dengan teleponnya itu? Apa-apaan? Haruskah aku pergi menemuinya?-

__ADS_1


—————


__ADS_2