
Aldo
Hari itu sebenarnya aku masih merasa kesal sama Aini. Tapi setelah ku pikir lagi untuk apa aku kesal padanya? Toh hari minggu semalam ketika dia pergi bersama Gara, aku juga pergi bersama Wella. Itu kan hak dia juga ya. Tapi melihatnya pagi tadi yang seolah menyuruhku bungkam di depan Gara itu adalah hal yang aneh. Aku seperti tak mengenalnya saat itu. Aku buat kesalahan apa? Kenapa dia seolah selalu membela orang asing itu padahal dia tidak tahu kebenarannya apa. Melihatnya yang semakin akrab dengan anak itu membuatku tak mengerti akan dirinya. Bahkan aku hampir tak mengenalinya lagi. Entah karena memang kami jarang berinteraksi karena kesibukanku, atau memang orang asing itu yang mempengaruhi Aini hingga berubah drastis menjadi orang asing di depanku.
Entah mengapa dia tiba di kelasku dan ngajak pulang bersama. Sebenarnya aku mencoba bersikap biasa saja di depannya agar tidak banyak pertanyaan dari beberapa temanku. Aslinya aku masih males bicara padanya. Aku menawarkannya menjadi penontonku sebelum pulang. Ku pikir dia akan menolaknya. Tapi ternyata dia malah mau ikut.
Dia terus mencoba mengajakku berbicara sepanjang perjalanan menuju lapangan futsal. Aku yang memang sedang malas ngomong hanya menjawab beberapa pertanyaannya seadanya. Mungkin dia akan berpikiran apakah aku sedang bete atau marah. Biarlah. Pikirku. Karena hanya itu yang bisa membantuku meredakan emosi serta perasaanku yang tak enak karena kedekatannya pada Gara. Aku tak yakin Gara itu adalah anak yang baik. Biasanya aku hanya akan mendukung beberapa orang yang mencoba berteman dekat dengannya. Entah mengapa kali ini perasaanku berbeda. Aku seolah tak ingin Aini dekat dengan lelaki brengsek itu.
*
__ADS_1
Flashback
“Do.. menurut kamu Kak Genta itu orangnya gimana?”, tanya Aini ketika kami sedang menikmati bubur ayam di pinggir kompleks rumah saat itu.
“Hayooo, kamu naksir kakak itu ya?”, tanyaku.
“Kamu kok senyum-sengum gitusih? Hayoo ngaku sama akuuu”
“Wah, hebat tuh orang bisa buat kamu kesemsem beginii”, ucapku “Ya gak kenapa-kenapa sih. Toh aku juga lihat kayaknya anaknya baik. Kemarin kami pernah sih main futsal sama kakak kelas. Nah dia ikut juga”
__ADS_1
“Jadii.... gakpapa nih aku dekat sama dia Do?”
“Ya gakpapa loh Aini. Yang penting dia gak macem-macem. Kalau sampe dia aneh-aneh kamu harus lapor ke aku!”
“Siap kapten!”, senyumnya menggembang kala itu.
Ada sekitar beberapa bulan ketika Aini dekat bahkan pacaran dengan Kakak kelas kami saat itu. Aku tak pernah melarangnya dekat dengan siapapun, karena kami emang hanya sebatas sahabat yang sangat dekat. Aku tak pernah mempermasalahkan apapun. Kami tak pernah saling bejauhan walau saling memiliki teman dekat lainnya. Tapi yang pasti. Aku adalah tempat untuk ia kembali pulang. Begitupun sebaliknya.
Persahabatan bukan sebuah alasan untuk kita tak memiliki privasi masing-masing kan? Tapi sahabat adalah orang yang selalu mengingatkan kita bila ada hal yang salah telah kita perbuat. Jangan sungkan untuk menegur sahabatmu, karena mengomentari sesuatu adalah sifat kepedulianmu pada orang tersebut.
__ADS_1
Bukan salah langit bila Bumi tak ingin basah. Bukan salah Bumi bila lamgit tak menginginkan polusi udara. Tak ada yang salah. Hanya sebuah pemahaman saja yang tak pernah selaras.