
ALDO
Aku menunggu Papa pulang di ruang tamu. Biasanya kalau sudah malam begini aku akan berada di kamarku dengan musik yang menemani atau bahkan suara televisi yang berada di kamarku. Rumah ini sudah lama sekali terasa sepi. Pernah dulu aku mencoba berbicara dengan Papa dan bilang untuk pindah rumah ke rumah yang lebih sederhana saja. Tapi beliau tidak mengizinkan dengan alasan beliau masih ingin melihat potret bayangan Mama di berbagai sudut ruangan ini.
Sekitar pukul 23.30 terdengar suara mobil Papa memasuki garasi mobil. Aku sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan yang akan kutanyakan kepada Papa malam ini. Aku ingin tahu apakah perkataan Gara itu benar atau malah dia hanya sekadar bercanda saja denganku.
Ku lihat Papa berjalan memasuki ruangan dengan perlahan. Sengaja aku tak menghidupkan lampu ruangan agar terlihat sama seperti biasanya ketika Papa pulang kerja di jam ini. Samar-samar kulihat Papa menghidupkan lampu ruangan dengan santai, hingga kemudian ia terkejut melihatku yang tengah duduk diatas sofa dengan cahaya gelap sebelumnya.
“Kamu ngapain gelap-gelapan gitu?”, tanya Papa.
“Papa darimana?”, ucapku yang malah balik nanya ketika di tanya.
Kulihat raut wajah Papa yang bingung menjawab pertanyaanku.
“Ehm, Papa habis jenguk Oppa kamu”, ucapnya berbohong. Tentu saja aku tahu kalau Papa sedang berbohong, kan aku tadi sore habis main kesana lihat Oppa.
Kecurigaanku semakin memuncak kala mengetahui kebohongan Papa padaku malam ini. Tiba-tiba hal itu membuatku tak berselera menanyakan apapun lagi padanya.
“Aku tadi habis dari sana lihat Oppa!”, ucapku setengah berteriak. Aku pergi meninggalkan Papa yang mencoba menjelaskan sesuatu padaku. Aku tak mengerti, tapi aku tak berselera mendengarkan Papa bicara apapun. Sepertinya aku hanya ingin istirahat di kamarku saat ini. Aku masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Masih ku dengar suara Papa memanggilku dari balik pintu kamarku. Dia hanya memanggil. ‘Tak mencoba menjelaskan apapun’, pikirku. Jadi biarlah seperti ini.
Beberapa menit kemudian tak kudengar lagi suara Papa memanggilku. Mungkin dia juga lelah karena baru pulang. Aku mencari poselku dan menekan beberapa deret kata di dalamnya. Ku cari nama Aini di kontak teleponku kemudian menghubunginya. Aku membutuhkan orang yang bisa merubah suasana atau sekadar membuatku lupa dengan penilaian burukku kepada Papa.
“Assalamualaikum, Aldo. Ada apa? Udah lama kamu gak telepon aku malam-malam begini”, ucapnya dari balik telepon. Suaranya yang terdengar sangat bersemangat membuatku tersenyum ceria.
“Waalaikumsallam. Aku baru jawab salam loh Aini”
__ADS_1
“Eh iya. Maaf Do”
“Senang banget ya aku telepon”
“Sebenarnya sih enggak. Aku lagi males dengar suara kamu. Tapi kalau terpaksa gini yaudah deh”
“Siapa yang maksa kamu?”
“Kamu”
“Kapan? Aku gak pernah maksa deh. Lagian ini panggilan pertama ku langsung di angkat kok”
Terdengar suara tawanya dibalik telepon sana. Menyenangkan sekali. Aku malah jadi ingin melihat tawanya secara langsung.
“Kamu ngapain do?”, tanyanya kepadaku.
“Ngapain telepon?”
“Mau minta contekan”
“Contekan apa? Biasa aku yang nyontek kamu kok”
“Eh iya. Kan kamu yang kurang pintar kan ya”
“Heleh, gak gitu juga kali do”, ucapnya, “Kamu mau bilang apa tadi do? Aku penasaran”
__ADS_1
“Aini……”, ucapku lembut.
“Ya?”, ucapnya. Terdengar suaranya yang sedang menungguku untuk bicara.
“Sepertinya ada yang salah dengan Papa”, ucapku.
“Kenapa Papa kamu?”, tanyanya.
“Aku mau cerita langsung denganmu”, kataku dengan berat.
Jelas terdengar suara helaan nafas Aini yang berat
“Baiklah. Besok saja. Sudah malam. Apakah kamu masih ingin ngomong denganku?”, tanyanya.
“Enggak. Aku mau tidur saja. Sudah ya Aini. Terimakasih. Selamat malam bawel”
“Iya Aldo. Kapanpun kamu butuh. Aku selalu ada kok. Selamat malam juga jelek”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsallam”
Aku menutup telepon dan mencoba untuk tidur agar melupakan prasangka buruk itu. Walau sulit tapi aku terus memaksakan diriku untuk terlelap malam ini.
*
__ADS_1
Bisa saja kita tidak saling berbicara. Boleh saja diam menjadi teman terbaik. Tapi tanpa itu semua, kita takkan pernah tahu. Kebenaran sepeti apa yang ada di depan sana.*