
Aldo
“Kamu kenapa sih?”, tanya Aini padaku ketika aku tengah mengantarnya pulang kala itu.
“Kok aku malah di cuekin? Aku salah apa sih do?”
Masih ajaya dia gak tau salahnya apa. Dasar wanita. Egois.
Mengalahlah ketika salah. Memperbaiki tak semudah mendapatkan. Karena biasanya, satu kesalahan kerap menghabiskan sejuta kebaikan. Jangan sampai menyesal. Sifat egois itu manusiawi. Tapi sifat memaafkan justru lebih baik jika dimiliki.
“Aku itu kok udah kayak gak kenal lagi ya sama kamu! Kamu gak suka liat aku dekat sama Gara? Ya kamu kan bisa bilang! Kenapa harus ngediamin aku kayak gini?”, cercahnya secara beruntun yang membuatku malah terkejut ketika sadar dia mulai setengah menangis berbicara di kursi sebelahku.
“Maaf”, ucapku.
Hal yang paling aku benci dari setiap pertengkaran kami adalah ‘Air Mata’. Ya, aku benar-benar akan kalah bila dia menangis. Yang benar saja. Masa aku buat dia nangis, disaat aku sudah berjanji akan menjaganya.
“Kamu itu gak ngerti Do. Kamu kan tau aku paling benci di diamin gini. Kamu tinggal bilang ajakan salah aku apa, terus aku bisa perbaiki. Gak perlu buat kita seolah gak kenal gini”
“Maaf. Kok malah nangis sih. Aku cuma lagi bete aja Ni”
“Iya kamu itu bete karena aku. Kalau kamu bilang alasannya apa kan aku bisa buat kamu gak bete lagi!”
“Kamu itu aneh do. Aneeeehhhh banget. Aku kayak disebelah orang asing aja tau gak sihh”
“Udah berhenti dulu nangisnya. Lihat tuh ingus kamu keluar”
“Ih mana ada!”, ucapnya jengkel.
Aku menepikan mobil dan menghapus air matanya dengan tissue. Yap. Ini kekalahanku yang mutlak. Cowok mana yang bisa menang kalau cewek udah mewek begini. Arghhh....
“Kamu udah mau sampai rumah. Udah dong nangisnya. Aku mau jemput Papa lagi. Jadi gak bisa lama Aini”
__ADS_1
“Kamu sih...”, ucapnya sembari menormalkan diri.
“Aku gak suka liat kamu dekan sama Gara”
“Kenapa?”
“Feeling ku gak baik tentang dia. Gak tau kenapa”
“Iya. Aku akan coba jaga jarak sama dia. Lagian kami juga gak terlalu dekat. Hanya teman biasa. Kenapa kamu malah gini?”
“Kamu selalu bela dia di depan aku. Sadar gak sih?”
“Masasih?”
“Dasar wanita!”
“Itu perasaan kamu aja gaksih do?”
“Iya. Kamu jangan diamin aku lagi”
“Iyaa. Udah bersihin tuh ingus. Meler entah kemana aja”
“Apaansih. Iya iya”
Hingga akhirnya pun cewek itu memang sulit sekali minta maaf. Aini apa gak ngerasa salah ya? Kok malah aku yang minta maaf sih? Tapi dia benar-benar gak ada minta maaf loh ya. Ini sifat dia yang paling buruk.
Apakah sesulit itu bagi seorang wanita mengakui kesalahannya? Udah tau salah masih aja gak ngerasa salah.
“Lap dulu muka kamu tuh. Jadi kusut begitu. Entar dikira Bunda kamu habis dijahatin orang loh”
“Emang dijahatin kok!”, ucapnya ketus.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan. Dia sangat lucu ketika sedang marah begini.
“Apa kamu senyum-senyum”
“Kamu lucu”
“Emangnya kamu pikir aku itu badut apa?”
“Loh bukan ya?”
“Aku itu Joker”
“Ngeri dong”
“Biarin”
“Kok mau?”
“Mau apa?”
“Mau jadi Joker”
“Kan kamu suka”
“Suka bukan berarti aku mau kamu jadi kayak dia sayang”, aku mengacak rambutnya hingga berantakan.
“Nyebelin!”, ucapnya.
“Iya iya maaf. Udah deh enceng”
Pada akhirnya, ‘asing’ bukan kata yang tepat untuk memperbaiki sebuah keadaan. Memahami, mencoba mengerti atau bahkan melupakan terkadang jauh lebih berarti untuk membentuk sebuah hubungan yang sudah ada sejak dahulu”
__ADS_1