
Aini
“Kita udah sampai nih, mau sampai kapan kamu ngelamun di belakang punggung ku ni?” Gara menyadarkan ku dari lamunanku. Dia tertawa mengejekku.
“Ih, apaan sih kamu Gara” aku turun dari Motor itu dengan wajah manyun.
“Ngelamunin apa sih? Ngelamunin aku ya? Hahaha Kalau iya juga gak kenapa-kenapa kok” dia tetap tertawa dan tidak memperhatikan wajah manyunku.
“Ihh, siapa juga yang mau ngelamunin kamu? Ogah banget deh!” kali ini aku yang mengejeknya sambil tertawa.
“yaudah yuk masuk” dia menarik tanganku dengan lembut dan membimbing ku masuk kedalam kerumunan orang yang sangat ramai.
Sekitar 30 menit kami mengantri untuk membeli tiket. Mickey Holliday! Suasana yang sejuk dan menyenangkan. Untuk kesekian kalinya aku datang ketempat ini. Tak ada perbedaan sedikitpun, hanya saja, ada beberapa wahana tambahan yang mungkin baru-baru ini saja di renovasi. Suasana ramai yang bembuatku sangat bersemangat. Banyak anak-anak kecil yang tertawa disana-sini, berfoto sama patung-patung yang lucu-lucu seperti patung sapi yang terlihat sangat lucu.
“Kita main yang mana dulu nih?” tanya Gara kepadaku.
“Terserah kamu aja deh Gar, semua terasa sangat menyenangkan” kataku sambil tersenyum manis kepadanya.
Kami memainkan semua wahana yang disediakan oleh wisata ini. Aku tertawa dan sangat senang sekali seharian ini. Semua terasa sangat menyenangkan hingga tanpa ku sadari waktu lah hampir sore hari. Kami pun pulang dengan hati gembira.
Di jalan mungkin kami hanya diam satu sama lain. Gara diam tak berbicara apapun, aku pun begitu. Aku hanya memeluknya dengan erat di kursi belakang motornya. Mungkin ini yang pertama kalinya aku pergi ke tempat yang sangat jauh seperti ini dengan motor besar. Hm, biasanya aku gak dikasi tuh sama Ayah naik motor jauh-jauh. Yang ada malah di suru naik mobil dan di antar sama supir pribadi kami. Huh! Kadang Ayah gak asik!
Sekitar pukul 7.00 malam kami sampai di depan rumahku. Gara meminggirkan motornya dan memberiku isyarat bahwa kami sudah sampai.
__ADS_1
“Kamu langsung pulang atau mau makan malam dulu dirumahku?” tanyaku padanya.
“Gak usah deh ni. Aku masih kenyang kok” balasnya sambil tersenyum.
“Kenyang apaan? Kita kan belum ada makan malam Ga, terus kamu juga pasti capek banget bawa motor. Yuk, masuk dulu” aku menarik tangannya dan menyuruhnya untuk turun.
Dia pun menurut. Aku memencet bell rumahku dan melihat Bunda berjalan ke hadapanku.
“Aini, kok lama sekali pulangnya? Hm, itu siapa sayang?” tanya Bunda kepada ku.
“Macet tadi bun. Ini teman Aini bunda, namanya Anggara”
“Malam tante” Gara menyalam tangan Bunda.
Kami masuk, dan Gara duduk di kursi ruang tamu. Aku menyuruhnya tetap menunggu disitu selagi aku akan mempersiapkan makan kami. Bunda menjumpai ku di dapur.
“Tamunya kok dibiarin sendiri sayang?” kata bunda padaku.
“Aini mau nyiapin ini dulu bun, kasian Gara belum makan malam. Pasti dia juga capek banget abis bawa motor seharian bun”
“Kamu ke depan gih, jumpain dia. Ajak ngobrol kasian kalau ditinggal begitu. Biar bunda aja yang beresi sayang, nanti bunda panggil deh kalau udah selesai” bunda menarikku untuk menjauh dari dapur. Aku hanya menurut saja.
Di ruang tamu aku menjumpai Gara dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Minum dulu Ga, makanan lagi diberesin Bunda” kataku membuka pembicaraan.
Oke, aku kaui saat ini aku gugup. Aneh! Kenapa aku malah jadi salah tingkah gini sih? Iss…
“Kamu anak tunggal ya ni?” tanyanya padaku.
“Enggak, aku punya satu Kakak laki-laki. Tapi gak tinggal disini. Dia kuliah di Semarang Ga”
“Ohh, pantesan sepi begini”
“Hm, begitu lah. Kamu sendiri gimana? Kamu punya adik atau kakak?”
“Aku sih gak punya kakak, tapi aku punya adik”
“Wah, asik dong kalau begitu. Berapa orang adik kamu Ga?”
“3 orang. 2 anak kembar ni. Hm, tapi yang kembar itu malah sering berantem. Makanya rumah aku jadi agak rame karna mereka”
“Kembar? Berapa tahun umurnya sekarang? Mereka cewek-cewek atau cowok-cowok?”
“Yang satu cewek yang satunya lagi cowok ni. Makanya berantem terus mungkin ya? Hm, sekarang sih mereka udah 5 tahun. Bentar lagi mau di masukin sekolah sama Mama ku biar gak ribut mulu” Gara tertawa kecil.
Tiba-tiba Bunda datang dan menyuruh kami untuk makan. Karna makanan sudah di siapkan. Setelah makan Gara pamit pulang. Aneh aku merasa tak ingin dia pulang secepat itu.
__ADS_1
Aku masuk ke kamarku dan berbaring di ranjang ku. Ku buka ponselku dan aku memperhatikan foto-foto aku bersama Gara tadi siang. Aku tersenyum danmerasa sangat senang melihat foto itu. Aku tak pernah sebahagia ini pergi bersama orang yang baru beberapa bulan saja ku kenal. Walau dia teman sekelasku saat kelas sepuluh. Tapi tetap saja dulu aku tak pernah berbicara atau hanya sekedar menyapanya. Sungguh, hatiku sangat bahagia sekali.