GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Tak Terduga-6


__ADS_3

Aldo


Sepasang mataku masih mencari sekeliling kelas selama jam istirahat. Nyaris tak kutemukan sosok yang ku cari saat itu. Aku menyerah dan akhirnya kembali merebahkan diri di kursi kelas milikku.


“Dari mana kau kok udah letoy gitu?”, tanya Didit menertawakanku.


“Nyari Gara”, jawabku santai.


“Eh? Ngapain bro?”, tanya Jepri yang juga penasaran dengan tingkahku yang sumringah hari ini.


“Bukan karena masalah cewekkan?”, timpal Bowok.


“Ya enggaklah. Emang tampang ku muka habis di selingkuhi cewek apa?”, jawabku kesal.


“Udah nanya Aini?”, tanya Didit.


“Aku juga gak liat Aini di kelasnya. Kayaknya gak masuk tuh anak. Tapi aku belum hubungi dia sih”, jawabku.


“Ini masalah?”, tanya Bowok.kamu


“Ini ngomongin apaan?”, tanya Jepri sama penasaranya dengan Bowok.


Aku malas menanggapi berbagai pertanyaan mereka hingga pembicaraan kami terhenti ketika bel masuk sudah berbunyi.


Sepulang sekolah aku bisa melihat Aini yang sudah menungguku di depan kelasku. Ia tampak pucat dan seperti sedang sakit. Aku langsung menghampirinya agar Ia tak menunggu terlalu lama.


“Kamu sakit?”, tanyaku padanya.


“Antarin aku pulang ya Do”, ucapnya lembut dan tersenyum kearahku.


Dia mengabaikanku. Membuatku khawatir dengan keadaannya yang tidak seperti biasanya.


“Mau makan dulu atau langsung pulang?”, tanyaku di parkiran.


“Kita makan dirumah aku aja ya. Bunda pasti sudah masak, tadi aku bilang aku pulang bareng sama kamu”, jelasnya.


“Oh yaudah”


Sepanjang jalan kami tak saling bicara. Aini memelukku dengan erat. Masih bisa kurasakan dia memelukku tanpa tenaga. Aku jadi menyesal kenapa hari ini malah bawa motor bukannya bawa mobil. Udara kota medan sangat terik saat itu hingga kupastikan kami melesat dengan cepat di rumah Aini agar keadaannya tidak tambah lebih buruk dari ini.


“Assalamualaikum”, ucapku dari balik pintu.


“Waalaikumsallam. Eh nak Aldo. Sini masuk. Kita Makan dulu ya”, balas Bunda dari arah dapur.

__ADS_1


Ku papah Aini berjalan kearah kamarnya.


“Aku ganti baju dulu. Kamu ke dapur aja temani Bunda”, kata Aini kepadaku.


“Kamu jangan lama. Kita makan bareng. Aku gak mau kamu gak makan”, kataku padanya.


“Iya”


Kulihat Bunda sedang menyusun beberapa lauk di atas meja makan. Aku menghampiri bunda dan mencium punggung tangannya.


“Lama sekali Bunda tidak lihat kamu. Kok jadi makin kurus begini”, ucap bunda meledekku.


Aku tersenyum dan berkata, “Males makan Bunda”


“Papa kamu masih sibuk di luar kota?”


“Tidak Bunda. Di sini, tapi ya gitu”


“Makanya main kesini biar makan bareng sama Bunda terus”, ucapnya sambil membelai ujung rambutku, “kamu sudah jadi sangat dewasa. Bunda sampe pangling”


“Aku kan emang tampan dari dulu bun”, ucapku dengan percaya diri.


Kami berduapun tertawa.


“Kamu kok pucat sekali sayang, apa kita perlu ke dokter”, tiba-tiba terdengar ucapan bunda yang sangat khawatir melihat keadaan Aini.


“Yasudah hayuk hayuk makan”, ucap bunda kepada kami.


^^^^


“Aldo, Gara nembak aku”, ucap Aini dengan sangat pelan.


Kami sedang duduk di halaman rumah Aini, aku sudah berniat akan pulang sebelumnya. Tapi Aini tiba-tiba membuka pembicaraan yang membuatku sangat terkejut.


“Terus?”, kataku dengan sangat berhati-hati.


“Aku bingung”


“Kenapa?”


“Gak tau”


“Kamu sakit karena itu?”

__ADS_1


“Enggak”


“Jangan bohong!”


“Aku hanya kepikiran Do”


“Perasaanmu bagaimana?”


“Sakit”


“Kok sakit?”


“Dia itu Yoga”


“Ha?”


“Iya. Dia Yoga. Yang aku pernah bilang itu. Si pengirim surat”


“Serius?”


“Iya. Aku bingung”


“Kamu sakit kenapa Aini?”


“Kenapa dia tidak bilang langsung saja padaku?”


“Dia takut Aini”


“Kenapa tidak bicara sebelum aku menebaknya!”


“Dia itu kenapa begitusih Do? Kan kita udah dekat. Kenapa gak bilang aja kalau dia yang kirim surat. Kenapa malah dia masih kirim surat disaat kami udah dekat?”


Aku bingung harus berujar apa. Ku biarkan Aini meluapkan emosinya sore itu di depanku.


“Aku seperti sudah jatuh. Tapi malah terhempas”, ucapnya.


“Maksud kamu apa?”


“Aku sudah menyukainya Do....”


Kulihat deretan air mata Aini sudah jatuh tak lagi terbendung.


“Tapi kenapa ternyata dia itu Yoga? Aku harus bagaimana Aldo?”

__ADS_1


Aku tak bisa melihatnya seperti itu. Aku langsung memeluknya dan mencoba membuatnya lebih tenang. Masi kudengarkan sederetan kata yang terlontar dari mulutnya. Tanpa kata aku hanya memeluknya dengan erat.


Aku masih disini. Menjadi seseorang yang berharap berarti untukmu.


__ADS_2