
Aldo
Aku tiba di rumah Aini setelah selesai menggurus beberapa berkas dari sekolah. Ku pikir ada hal yang harus Aini ketahui. Aini harus tahu bahwa Gara ini adalah orang yang suka mengusik kehidupan pribadi seseorang. Apa untungnya dia menggangguku? Apa untungnya kalau dia tahu kehidupanku yang sangat ribet seperti ini? Dia pikir dia itu siapa hingga bisa mengusik hidupku.
“Assalamualaikum”, ucapku dibalik pintu rumah Aini.
“Waalaikumsallam. Loh, Aldo?”
Betapa terkejutnya aku ternyata yang membuka pintu adalah Wella. ‘Kenapa dia ada disini’, pikirku dalam hati.
“Kok kamu disini? Aini mana?”, tanyaku padanya.
“Eh masuk do. Aini ada di dalam kok”
Dia mempersilahkan aku masuk. Aku langsung masuk dan mencari Aini. Aku melihatnya tengah mengiris bawang di dapur.
“Kamu ngapain?”, tanyaku padanya.
“Kamu datang Do? Udah makan? Kami mau masak mie nih”, jawabnya sambil melambaikan tangannya seolah menguruhku untuk menghampirinya di dapur.
Aku mendekatinya dan membantunya membuka sekaleng ikan sarden.
“Kamu buat mie kok pake sarden gini?”, tanyaku.
__ADS_1
“Biar enak dong. Kamu belum makankan? Biar sekalian makan sama kami aja”
“Belum. Kok ada Wella?”
“Iya, tadi dia main kesini. Aku yang undang buat main ke rumahku”, balasnya “Loh, kok kamu tinggalin dia di depan sendirian sih Do? Ajak bicara dong sana. Biar ini aku aja yang selesaikan”
Aku berjalan ke ruang tamu dan meninggalkan Aini memasak di dapur seorang diri.
“Kamu dari mana do?”, tanya Wella kepadaku.
“Dari sekolah tadi”
“Kok lama banget pulangnya?”
“Iya ada urusan”
“Itu, pengurus paskib yang baru tadi jumpai aku. Mau minta bantu cek proposal mereka”
“Ohh”
Kami saling memainkan ponsel masing-masing, sehingga membuat suasana menjadi hening. Tak banyak kata yang bisa terlontar untuk memulai percakapan sehingga yang terjadi adalah dunia tanpa suara.
Seharusnya berkumpul bukan tentang kesibukan masing-masing. Berkumpul adalah tempat untuk kita saling berbagi cerita. Tinggalkan ponsel dan beberapa hal yang membentuk kita pada kehidupan lain diluar kenyataan. Karena yang dekat harus menjadi dekat. Bukan yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat.
__ADS_1
Ku lihat Wella bangkit dari duduknya dan kembali ke dapur. Dia menyusun beberapa piring dan gelas di atas meja makan. Tampak Aini telah selesai memasak makanan yang aromanya telah berlabuh kesegala penjuru ruangan. Membuat perut menggema ingin menyantapnya.
“Ayo makan teman-teman”, ucap Aini.
Aku berjalan dan menghampiri mereka yang telah duduk.
“Kenapa kalian diam-diaman? Membosankan sekali”, ucap Aini.
“Apaansih kamu”, ucapku.
“B aja kali Ni”, timpal Wella.
Kami menggambil makanan masing-masing. Kulihat Wella yang tampak berseri ketika aku memandangnya. Sepertinya ada yang tidak beres. Apa Wella naksir aku? Ah tak mungkin. Kok aku jadi ke GR begini sih.
“Kamu kenapa senyum Well, senang banget apa ya aku gabung bareng kalian?”, godaku pada Wella.
“Kalau iya kenapa?”, tantang Wella.
“Ya gakpapa, berarti aku emang sekeren itu”, ucapku bangga.
“Keren apanya?”, ucap Aini sambil tertawa.
“Keren bulu hidungmu ituu ya do”, timpal Wella sambil cengengesan.
__ADS_1
Kami menikmati makanan dengan canda tawa. Aku mengurungkan niatku untuk berbicara dengan Aini. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Lain kali saja. Aku tak ingin merusak kesenangan kami seperti ini.
Tawamu renyah sekali. Seperti menghapus luka di dalam dada. Senyummu manis sekali. Mengalahkan penyedap rasa yang dipakai Bunda, besok aku minta lagi, besoknya juga ya. Gak apa-apakan. Aku lagi banyak maunya.