GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Warna Baru-4


__ADS_3

Aldo


Ketika aku mencari ketenangan dengan cara pulang kerumah, tapi malah hal lain yang kutemukan dirumah.


“Ngapain kamu disini”, ucapku kesal.


“Ketemu kamu”, jawab Tia dengan percaya diri.


“Kan tadi udah”


“Emang”


“Mau apalagi?”


“Cuma mau lihat wajah kamu”


“Kamu gila ya?”


“Iya nih tergila-gila denganmu”


“Cewek sint*ng!”


“Antarin aku pulang!”, ucapnya dengan tegas.


“Buat apa?”


“Tega kamu biarin aku pulang sendirian di petang hari bengini”


“Langit masih terang. Pergi sana pulang sendiri”


Aku tak menolehnya lagi dan melangkah ke dalam rumah. Bisa kurasakan langkahnya yang mengikutiku di balik punggungku. Aku menghiraukannya dan langsung masuk ke kamarku. Kulihat dia ikut masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


“Apasih mau mu?”, ucapku dari depan kamar.


“Kok kamu bisa berubah gini?”, ucapnya.


“Berubah apanya? Lagian kamu ngapain muncul di hidupku lagi?”


“Kan aku juga teman kamu”

__ADS_1


“Bik, kasih dia minuman dan setelah itu suruh saja dia pulang”


“Iya tuan”, ucap Bibik dari arah dapur.


Aku merebahkan badanku di kamar tidurku dan membiarkan Tia bersantai di ruang tamu sendirian.


Baru saja aku beristirahat beberapa menit hingga terdengar suara Papa memanggil namaku.


“Aldo...”, teriaknya, “Buka pintunya Do”


“Apa sih pa”


“Itu Tia kenapa dibiarin begitu diruang tamu?”


“Loh? Dia belum pulang?”


“Belum tuh”


Aku melihat ke ruang tamu dan mendapati Tia sedang duduk sambil tertidur di kursi tersebut. Gila. Ini anak kenapa beginisih. Biasa juga langsung pulang kalau aku tinggalin.


Ketika tanganku hendak menyentuh lengannya agar membangunkannya, betapa terkejutnya aku merasakan lengannya yang sangat hangat. Kuraba dahinya dengan punggung tanganku memastikan apakah dia benar-benar sakit atau tidak. Ternyata sangat panas. Dia terlihat demam. Akhirnya aku memanggil Bibik untuk membereskan kamar tamu dan memapahnya ke dalam kamar tersebut. Dia tampak sangat lemas dan tak berdaya. Sepertinya dia masih tak sadarkan diri. Aku membiarkannya tidur diatas kasur dan menutup kembali pintu kamar tersebut.


“Aldo juga gak ngerti kenapa Pa”


“Bukannya kalian sudah tidak berhubungan lagi?”


“Iya Pa, tadi dia tiba-tiba telepon minta pertolonganku”


“Ngapain?”


“Gak ada. Cuma jemput dia di kantor Papa nya saja”


“Terus?”


“Ya kami pisah lagi. Aku langsung pulang”


“Yasudah biarkan saja dia beristirahat disini malam ini”


“Iya Pa”

__ADS_1


Akupun kembali masuk ke dalam kamarnya dan membawa kain serta air hangat untuk mengompresnya. Setelah sudah terletak dengan benar, aku kembali meninggalkannya di kamar.


Trrrrzzzzz trrrrzzzzz


Ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dari Aini. Aku segera menggangkatnya.


“Assalamualaikum Do”


“Waalaikumsallam, Aini. Kamu sudah pulang?”


“Iya. Barusan aja. Tadi Bunda bilang kamu datang ya?”


“Iya”


“Kok gak bilang aku dulu sih”


“Ya aku pikir kamu dirumah aja”


“Hem, ada apa Do?”


“Eh, Aini. Coba tanya sama Bunda. Kamu boleh gak menginap dirumahku malam ini?”


“Ada apa?”


“Ada Tia dirumahku. Dia sedang sakit, gak enak juga kalau dia dirumahku sendirian. Masa iya aku keluar masuk kamarnya untuk memastikan keadaannya”


“Kok bisa ada Tia?”


“Nanti aku ceritain sama kamu. Kamu mau gak?”


“Aku tanya Bunda dulu ya”


“Iya. Kabari aku biar aku jemput kamu”


“Oke. Assalamualaikum Aldo”


“Waalaikumsallam”


Benar. Dirumah ini hanya ada aku dan Papa. Bibik terkadang pulang kerumahnya, kalaupun ada tetap saja. Tetap saja hanya aku yang harus merawatnya di kamar itu. Lebih baik Aini saja yang merawatnya. Agar dia juga merasa nyaman ketika sudah sadar nanti.

__ADS_1


Moveon selama bertahun-tahun bisa rusak hanya karena semenit senyum darinya,- (Mungkinkah?)


__ADS_2