GARIS TUJUH BELAS

GARIS TUJUH BELAS
Tak Terduga-5


__ADS_3

Aini


Mataku tampak layu karena kurang tidur, pagi ini aku bangun dengan sangat berat. Apa yang di katakan Gara tadi malam membuatku tak bisa konsentrasi belajar bahkan untuk istirahatpun aku sulit. Aku tak mengerti mengapa ini sangat menggangguku. Pagi ini aku ada ulangan. Harusnya aku lebih fokus. Tapi pikiranku melayang entah kemana. Beberapa teman-temanku bertanya banyak hal kepadaku. Tapi aku tak menjawab berbagai pertanyaan mereka. Aku merasa sangat tidak enak badan hari ini.


Jam istirahat ku habiskan di ruang UKS, Artha dan Bintang mengantarku ke ruang UKS sebelum mereka beranjak ke kantin. Tak ada seorangpun yang ada diruang UKS itu, bahkan bu Dina penjaga UKS sedang istirahat makan siang di kantin.


Trrrzzzzzzz trrrrrrzzzzzz


Getar ponselku membangunkanku dari lamunanku yang hampir kealam bawah sadarku. Dengan malas ku lihat nama di layar ponselku. Gara. Anggara mengguhubungiku. Aku tak menggubris panggilan itu dan mematikan ponselku. Aku sedang tak ingin berpikir. Saat ini aku hanya istirahat.


Pikirku hanya sebentar, tapi ternyata deretan kata yang kau ucap malah membuatku gusar dan terganggu. Sepertinya aku juga mulai menyukainya, tapi entah mengapa seolah berat sekali untuk mengakui itu semua. Apa tidak apa-apa bersikap biasa saja?


^^^^


Mataku terbuka ketika bel masuk sekolah berdering dengan sangat keras. Perlahan bisa kulihat bayangan seseorang yang sedang menungguku di sebelah tempat tidurku sambil memainkan ponselnya.


“Gara?”, kataku parau menetralkan suara sehabis tidur.


“Hem? Udah bangun?”


“Eh jangan bangkit. Kamu tidur saja lagi”


“Kok kamu bisa di sini?”


“Tadi teman-teman kamu bilang kamu disini. Aku khawatir. Jadi aku tungguin kamu aja disini”


“Kamu baik-baik sajakan?”


“Iya. Aku hanya sedikit pusing saja”


“Apa ini karena ucapanku semalam?”

__ADS_1


“Enggak kok Gar”, elakku dengan berbohong.


“Aku cuma butuh istirahat saja Gar. Gak ada yang lainnya kok”


“Nih makan siang dulu. Aku tahu kamu gak sempat ke kantin karena kesini”


Aku mengambil sepiring nasi soto yang telah di belikkan Gara. Perlahan aku memakannya tanpa bersuara. Gara hanya memandangiku yang sedang makan tanpa bertanya apapun. Ya, syukurlah dia tidak bertanya yang macam-macam.


“Ni, kamu itu harus makan yang banyak. Jangan sampe sakit lagi dong”, ucapnya padaku.


“Kamu kok gak masuk kelas Gar?”, tanyaku.


“Males. Lagian kami masuk keterampilan doang. Aku bisa nyusul ngerjainnya nanti aja”


“Kamu pulang sama aku aja ya?”, tanyanya padaku.


“Gak usah ya Gara. Aku sama Aldo aja. Tadi pagi Bunda bilang kalau Bunda mau ketemu Aldo”


“Oh iya”


“Ya?”


“Kamu itu Yoga ya?”


“Eh?”


Bisa kulihat raut wajahnya yang kebingungan menanggapi perkataanku.


“Kamu Yoga bukan sih?”, tanyaku ragu-ragu, “Kamu yang sering kasih aku surat sama coklat ya?”


“Ni....”

__ADS_1


“Hem?”


“Kamu gak marahkan?”


“Marah kenapa?”


“Aku gak maksud bohongi kamu”


“Iya akukan emang gak pernah tanya kamu Ga” “Jadi benar ya itu kamu”


“Iya Aini, aku gak berani dekat sama kamu. Apalagi bilang sama kamu. Aku gak tahu kenapa aku bisa berani ngomong kayak gitu sama kamu”


“Ga.....”


“Ya?”


“Bisakah aku berpura-pura tak mendengar ucapanmu semalam?”


“Iya Aini. Maaf. Aku tak akan mengungkitnya lagi”


“Bisakah kamu meninggalkan aku sendiri dulu Gara?”


“Tidak”


“Ga....”


“Tidak Aini. Kalau kamu mau kekelas sekarang, aku akan temani kamu kesana. Kalau kamu mau pulang hayuk aku antar. Kalau kamu mau pulang sama Aldo. Yaudah. Aku antar kamu sampai ketemu Aldo”


Aku jadi semakin bingung harus bersikap bagaimana. Sangat canggung sekali jika aku semakin lama di ruangan ini bersamanya tanpa suara. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Gara mengantarku sampai di depan kelasku.


Dia tersenyum manis dan berkata, “Sampai ketemu besok Aini. Maaf mangganggu. Lupakan saja segalanya. Masih bisakan kita berteman?”

__ADS_1


Aku mambalas senyumnya dan berkata, “Iya Gara”


Mencintai bukan berarti harus memiliki, aku bukan tak menyukainya tapi aku tak ingin kehilangan temanku. Aku bukan tak ingin bersamanya. Tapi aku lebih tak ingin bila kelak harus berpisah dengannya. Aku hanya tak ingin kata perpisahan setelah kata bersama. Tidak. Pertemuan tak harus berakhir perpisahan.


__ADS_2