
Aini
Aku menunggu Aldo dan teman-teman lainnya di parkiran. Sebelum melihat Aldo, Aku melihat Gara berjalan mengarah kearah parkiran tempatku menunggu Aldo.
“Nunggu siapa Ni?”, tanya Gara kepadaku.
“Nunggu Aldo keluar kelas Gar. Kamu mau pulang?”, tanyaku.
“Iya, aku lagi males latihan basket. Kan kemarin udah selesai tournament jadi gakpapa deh kayaknya aku bolos hari ini”
“Kamu pulang barengan Aldo? Gak mau barengan aku aja?”
‘Pengen sih Gar. Tapi Aku belum yakin Aldo lagi baik-baik saja’, ucapku dalam hati.
“Ehm, gak usah Gar. Aku ada keperluan juga sama Aldo”
Tiba-tiba Aldo muncul menghampiri kami. Aldo langsung menghidupkan alarm mobil dan membuka pintunya. Dia masuk tanpa memperdulikanku yang sedang berbicara pada Gara.
“Yang lain udah pada berangkat. Kamu jadi ikut aku gak?”, tanyanya dari balik jendela mobil.
“Iya sabar dong”, ucapku, “Aku deluan ya Gar, kamu hati-hati. Bye”
“Oke kamu juga Ni, See you”
Aku masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan kepada Gara. Aku memperhatikan Aldo yang hanya diam saja di sampingku mengendarai mobilnya. Ku hidupkan radio mobil agar suasana di dalam mobil tidak terlalu hening.
“Kenapa yang lain gak ikut kita perginya?”, tanyaku pada Aldo memecahkan keheningan di dalam mobil.
“Mereka bawa motor. Mau langsung pulang setelah futsal”, jawabnya singkat tanpa menoleh kearahku.
Kok dia jadi dingin bengini sih. Aneh. Padahal tadi di kelas waktu aku jumpai dia gak secuek ini. Akukan jadi serbasalah kalau dianya begini.
__ADS_1
“Papa kamu belum pulang Do?”
“Nanti sore sampe Medan kayaknya”
“Kamu jemput?”
“Enggak”
“Kenapa? Kan asyik ke bandara. Lagian kamu bawa mobil sekarang”
“Dia mau ketemu tante Ellys dulu baru pulang kerumah”
“Tante Ellys? Ngapain? Oppa kamu di Medan ya?”
“Kayaknya begitu”
“Kok kayaknya?”
“Ya aku manatau Aini”
“Apanya?”
“Ya kamunyaaa. Kenapaaaaa?”
“Gapapa”
Aku melihat kearahnya. Memasang wajah menjengkelkan. Memastikan dia menoleh kearahku. Tapi bukannya dia menoleh dia malah tetap diam memandang jalanan.
“Kita sudah sampai”, ucapnya padaku.
Aku masih memasang wajah kesal padanya. Dan membuka pintu mobil tanpa menanyakan dia dimana teman-teman yang lain.
__ADS_1
Ketika keluar mobil aku melihat sekeliling dan menemukan teman-teman Aldo di sudut lapangan. Tanpa menunggu Aldo keluar dari mobil. Aku segera berjalan menuju kearah mereka.
“Aldo mana say?”, tanya Jepri kepadaku.
“Masih di mobil”
“Kok ditinggalin?”
“Dia suruh aku deluan”, ucapku berbohong kepada mereka.
Tidak berapa lama, Aldo datang bersebelahan dengan Wella. ‘Kok bisa ada Wella sih’, pikirku.
“Well, kirain kamu gak jadi ikutan gabung bareng kita”, ucap Didit kepada Wella.
“Ya jadi lah. Kan aku juga mau di traktir sama Bowok”, ucap Wella.
“Emang Bowok kenapa?”, tanyaku bingung dengan arah pembicaraan mereka.
Aku benar-benar tak tahu. Beberapa hari ini Wella dan Aldo sering bersama karena kegiatan osis. Bowok dan Jepri juga merupakan anggota osis yang sudah pasti sering berinteraksi dengan mereka. Aku jadi seperti orang bodoh ditengah kerumunan mereka tanpa tahu apa dan kemana arah pembicaraan mereka.
“Kamu gak tau Ni? Bowok mau kenalin kita ke cewek barunya”, ucap Wella kepadaku, “Noh.... tuh orangnya dateng tuh”
Kami melihat kearah yang dituju Wella. Dan benar saja. Bowok sedang berjalan berdampingan dengan seorang wanita. semakin kulihat wanita itu seperti orang yang ku kenal. Tapi aku lupa, dimana pernah mengenalnya.
“Kenalin guys, ini Nisa. Nis, mereka teman-teman aku”, ucap Bowok memperkenalkan ceweknya kepada kami.
Kami saling berjabat tangan. Hingga aku sadar si Nisa juga terlihat seperti mengingatku. Tapi aku benar-benar tak ingat dimana aku pernah bertemu dengannya. Karena takut salah orang, aku malah diam saja tanpa bertanya.
Mereka mulai bersiap-siap untuk main futsal. Aku, Wella, Nisa dan dua orang adik kelas yang juga ikut menonton duduk di bangku penonton. Aku merasa agak canggung kali ini. Entah mengapa seperti asing di tengah lapangan ini. Aku melihat bowok menghampiri Nisa memberikan Nisa air minum dan juga menitipkan tas serta kemeja sekolahnya kepada ceweknya itu. Kemudian aku melihat Aldo juga datang menghampiri kami. Aku pikir Aldo akan menitipkan tasnya kepadaku. Aku sudah bersiap ingin mengambil kemeja dan juga tasnya. Tapi ternyata dia memberikan barangnya kepada Wella yang duduk di sebelahku.
“Aku titip ya Wel”, ucapnya dan langsung pergi meninggalkan bangku penonton.
__ADS_1
Aku hanya diam saja memperhatikan permainan berlangsung. Mencoba biasa saja tanpa berpikir ada yang salah dengan Aldo. Wella juga sepertinya agak canggung di sebelahku. Hingga akhirnya sepanjang permainan berlangsung kami sama-sama tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Kami larut dalam pikiran masing-masing.
Berpura-pura baik-baik saja itu tidak semudah yang kita pikirkan. Hal itu sulit. Karena berbohong pada diri sendiri lebih menyakitkan daripada berbohong pad oranglain.