
Aldo
Aku terbangun lebih lama dari biasanya. Aku merasa sangat lelah. Ku paksakan diriku bangkit karna harus pergi kesekolah. Kepalaku terasa berat. Dengan linglung aku bersiap-siap kesekolah dengan cepat.
Aku terlambat kesekolah. Ya, untuk kesekian kalinya harus terlambat lagi. ‘bakal dihukum nih kayaknya’, kataku dalam hati. Tidak hanya aku yang terlambat, ada beberapa orang yang kebanyakan siswa kelas sepuluh.
Setelah menyelesaikan hukuman, aku kekelas dengan hati yang jengkel. Guru-guru aneh! Udah tau lagi gak enak badan malah disuruh beresin taman sekolah.
“Kenapa terlambat bro?” tanya Didit yang melihat kelusuhan di mimik muka ku.
“Telat bangun. Lagi gak enak badan juga aku nih bro”
“Abis ngapain aja kamu semalam rupanya bro?”
“Udah ahh, pusing nih kepala ku. Ntar ajadeh ceritanya”
Istirahat pertama aku keluar dari kelas dengan lusuh. Tiba-tiba Wella sudah berdiri di depan kelasku.
“Nih buat kamu, kamu belum makan kan?” kata Wella kepadaku sambil memberikan kotak nasi.
“Makasih, yuk ke depan. Biar aku cicipin nih makanan buatan kamu”
__ADS_1
“Tumben kamu gak keluar bareng sama Didit Do?”
“Didit mau temuin temennya katanya. Oh iya, Aini mana? Gak bareng sama kamu?”
“Aini sih tadi ada di kelas do. Lagi asik cerita sama yang lain, sampe gak denger aku panggilin tadi”
“Oh”, aku memakan nasi goreng yang diberikan Wella kepadaku.
“Enak?” tanya Wella kepadaku.
“Enak. Enak banget malah. Makasih ya”
“Hm, iya”
“Haha, boleh aja. Tapi ada syaratnya”
“Apa? Jangan yang aneh-aneh dong”
“Enggak aneh kok. Aku cuma mau kamu tiap hari anter jemput aku. Mau gak? Weekkk” katanya sambil mengejekku.
“Woo, matre ihh!”
__ADS_1
“Hahahaha”
Setelah selesai makan, aku bercanda bersama Wella. Ada yang aneh dengan Wella, aku merasa ada kejanggalan saat melihat Wella menatapku. Tapi aku tak tau apa itu. Wella memang baik, tapi aku hanya menggapnya sebagai teman. Aku takut Wella malah jadi salah mengartikannya. Aku takut sesuatu yang tak ku inginkan terjadi. Hm, semoga Wella mengerti.
Tiba-tiba aku melihat Aini sedang berjalan berdua dengan Gara di arena ruang guru. Sedang apa mereka. Aku berlari kecil mendatangin Aini dan meninggalkan Wella sebentar.
“Ainiii” panggilku. Aini menoleh ke arahku.
“Ehh, Aldo. Halo Do” sapa Aini kepadaku sambil tersenyum. Aku hanya diam dan menatap Gara.
“Kamu mau kemana?” tanyaku pada Aini.
“Mau keperpus kami do. Kamu mau ikut?” kata Gara kepadaku
“Enggak!” bentakku ketus. Memang dasar cowok kurang ajar! Bukan dia yang ditanya eh, malah dia yang jawab. Bilang aja kalau emang gak mau aku ikut. Huh!
“Aldo!” Aini memperingatkan ku.
“Apa sih ni? Salah kalau aku bentak dia? Dia gak punya etika! Bukan dia yang ditanya kok malah ngerocos kaya bensin!”
“Aldo, please jangan ribut. Kamu kenapa sih do?”
__ADS_1
“Siapa yang mau ribut sih? Aku gak suka liat kamu bareng sama dia!” aku langsung pergi meninggalkan mereka. Aku lagi ingin sendiri, jadi aku mengirim pesan kepada Wella yang mungkin masih menungguku.
Ketika rasa milikmu salah diartikan oleh orang lain, maka akan banyak masalah yang muncul. Berhati-hatilah, karena hati tak boleh main-main.