
Aldo
Emosiku tak bisa dikendalikan. Sepertinya aku masih sangat sensitif hingga hal kecil yang mengusikku bisa langsung membuat dadaku sesak terpenuhi dengan luapan emosi. Bagaimana bisa orang-orang memiliki sifat yang amat sangat baik. Seolah tak memiliki emosi negatif yang menyesakkan.
*
Aku kesal sekali melihat tingkah Aini tadi. Kenapa coba dia pake cara narik-narik tangan aku? Aku kan paling gak bisa marah sama orang kalau ada dia. Ih, siapa sih yang mangggil Aini tadii. Pokoknya aku bakal diemin dia aja nih. Aku gak bakal mau ngomong dulu sama dia, dia kan tau aku paling kesel kalau dia kayak gitu. Ini anak memang bener-bener deh.
“Do…” “Aldo… Ngomong dong”, Aini terus-terusan memanggil ku.
“Hmm”, Aku hanya berdehem membalas panggilannya.
“Do, aku balik ke kelas yah. Kamu jangan balik nemuin anak tadi! Bentar lagi bel, aku ada ulangan hari ini. Jadi aku mau belajar dulu”
“Do, ihh aku bisa mati kutu nih di diamin mulu”, Katanya setengah memohon kepadaku.
“Terserah kamu!”, Aku hanya menjawab dengan nada kesal.
__ADS_1
Siapa coba yang gak kesal di gangguin waktu lagi marah-marah? Aini emang kebangetan yah. Sekarang pake ngelarang-ngelarang segala lagi. Buat mood aku jadi gak enak aja nih anak.
“Emang bener yah feeling aku, kamu itu bisa diam kalau Aini yang nenangin kamu”, Tiba-tiba Didit masuk ke kelas dan duduk di sampingku.
“Jadi kamu yang manggil dia tadi?”
“Sorry bro, kalo kamu kelamaan disana kamu bisa di panggil guru. Aku kan gak mau teman aku di Skors”.
“Hm, yaudah deh. Aku pusing banget nih”
Sahabat adalah orang yang selalu mengerti memposisikan diri sebagai penengah setiap pertikaianmu pada seseorang.
Aini selalu memposisikan dirinya seolah-olah menjadi pusat penghapus kemarahaku terhadap oranglain. Mungkin, kalau Aini tidak menjadi sahabatku hingga saat ini. Aku sudah menjadi anak yang sangat nakal dan suka berantem seperti para preman diluar sana. Bagaimana bisa ya, aku yang begitu pemarah benar-benar tak ingin menunjukkan sikap kasarku di depannya.
“Kamu kenal anak tadi Did?”, kataku dan melihat kearah Didit.
“Kenal do, dulu dia sekelas sama aku sama Aini juga. Tapi dia duduk jauh dari kami, jadi aku sih gak kenal-kenal banget sama dia”
__ADS_1
“Belagu banget sih dia Did”
“Kamu cuma lagi emosi tuh Do”
“Siapa Nama dia?”
“Kalau aku gak salah sih namanya Anggara”
Yang bener aja? Dia sekelas sama Aini? Apa Aini kenal sama dia? Ahh gak tau lah. Fikirian ku kok jadi kacau gini sih. Padahal harusnya aku senang-senang nih hari ini.
Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu saat ini. Tapi sepertinya lebih banyak hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata. Kelak, aku akan terbiasa diam dan mengurung diri daripada berbicara dan mengeluarkan kesedihanku padamu. Mungkinkah ini terjadi padaku? Ahh... entahlah.
*
Pak Bowo guru Matematika ku masuk dan mulai menerangkan pelajaran-pelajaran yang amat-sangat membosankan.
Dan mulailah bla… bla… bla…
__ADS_1