
Aini
Malam ini, ketika Aldo secara tiba-tiba menghubungiku. Ingin sekali aku bertanya siapa yang aku temui tadi siang bersama Papanya. Tapi setelah ku dengar suaranya yang tampak sedang tidak baik-baik saja, maka ku urungkan niatku untuk bertanya. Biarlah dia bercerita denganku malam ini.
Setelah telepon kami terputus, aku menghelakan napas yang panjang. Aku tak ingin menduga-duga. Ada banyal hal yang masih menggangguku. Tapi sepertinya apa yang aku lihat hari ini akan berkaitan dengan apa yang akan di bilang Aldo padaku. Aku akan bersabar menunggu hari esok, hari di mana Aldo akan bercerita kepadaku.
^^^^
“Aini?”
Aku mendengar seseorang memanggilku dengan sangat kencang. Aku menoleh dan kemudian melihat sosok Gara yang setengah berlari menuju kearahku.
“Selamat pagi Gara”, kataku dengan ceria.
“Wah, senangnya pagi-pagi dapat sapaan dari kamu. Selamat pagi Aini. Tumben kamu cepat berangkat kesekolah.”
“Iya, ada yang ingin aku cari tahu pagi ini Gar”
“Apa itu?”
“Ada deh. Udah dulu ya Gar. Aku mau masuk kelas deluan. Bye Gara”
“Eh oke Aini”
^^^^
Aku sangat penasaran dengan si pengirim surat. Hingga hari ini aku memaksakan diri untuk datang lebih pagi dari biasanya. Hanya untuk melihat si pengirim surat. Siapatau saja aku melihat seseorang yang meletakkan surat itu dilaci mejaku.
Ku lihat sekeliling kelas yang sangat kosong dan tak berpenghuni. Belum ada yang datang. Ya wajar sih. Ini masih terlalu dini untuk berangkat kesekolah. Karena waktu belajar masih lama, aku menggambil novel di dalam tasku kemudian membaca novel tersebut dengan seksama.
“Tumben kamu datang cepat Ni”, kata Bintang ketika melihatku sudah duduk dikursiku menikmati novel yang kubaca.
__ADS_1
“Iya, tadi mau datang lebih cepat aja”, ucapku.
“Ni, ada Gara tuh nyariin di depan kelas. Tadi waktu aku mau masuk kelas dia suruh panggilin kamu”
“Loh, tadi kami udah ketemu. Mau ngapain ya”
“Gatau”
Aku bangkit dan meninggalkan Bintang di kelas. Tampak sosok Gara tengah duduk menungguku di kursi koridor kelas.
“Ada apa Gar”, tanyaku.
“Kamu serius banget bacanya. Sampe gak kedengar aku panggilin daritadi”, ucapnya.
“Eh, masa sih? Kamu manggil aku daritadi?”
“Iya. Aku sampe berdiri di depan kelas nunggu kamu menoleh ke belakang. Rupanya malah gak terjadi”
“Yaampun. Aku lagi fokus bangetsih”
“Novel”
“Eh, nanti pulang sekolah mau kemana Ni?”
“Hem, kayaknya sih mau pergi Ga. Emang kenapa?”
“Yahh, yaudah deh. Tadinya mau minta temani ke Gramedia”
“Ngapain?”
“Mau cari bahan untuk tugas”
__ADS_1
“Gak bisa Ga. Besok aja gimana?”
“Bisa?”
“Ya bisa lah”
“Oke. Besok ya. Aku jemput kamu dirumah”
“Iya Gara”
“Yaudah, aku balik dulu. Sampai ketemu besok Aini”, ucapnya.
“Iya Gara”
“Ehh... Nih buat kamu. Lupa. Tadi aku datang mau kasih ini”
“Coklat?”
“Iya”
“Wah, makasih Gara”
“Sama-sama”
Diapun pergi meninggalkanku.
Ku melihat coklat yang diberikan Gara dengan tersenyum. Seperti ada yang menggelitik dadaku. Aku sangat senang ketika menerima coklat itu. Apalagi membayangkan akan pergi bersama Gara lagi Minggu besok. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang menuju hari esok.
Masih tentang senyum yang mengembang. Mudah sekali melayang kedunia terbentang. Rasanya menyenangkan, dada berdetak tak beraturan dan bibir berucap lebih manis dari biasanya. Bukan menjadi orang lain, hanya sebatas ingin terlihat sempurna dimata khalayak ramai.
^^^^
__ADS_1
Note:
Halo readers tercinta, jangan lupa ya dukung Autor dengan cara like dan vote Novel ini ya. Terimakasih :)