
Hampir 4 jam lebih pak Minggus mendapat perawatan Di Rumah Sakit Tersebut, Dokter keluar menemui mereka dengan muka yang murung dan sedih. Pak Mimin, Rio dan lainnya bergegas bergegas menghampiri dokter yang merawat pak Minggus untuk bertanya tentang keadaan Pak Minggus
"gimana keadaan bapak ?" tanya Pak Mimin pada Dokter dengan sedikit panik
"mohon maaf pak. Kami sudah berusaha semampu kami" jawab dokter dengan suara yang sedikit tersendat - sendat
"maksud Dok gimana ?" Sela Rio yang sudah panik mendengar yang di katakan barusan
"ayah kamu gk bisa tertolong, dek" jawab dokter sambil melihat ke Arah Rio yang Sudah panik
"maksud dokter, ayah sudah meninggal dunia ?"tanya Rio seakan tidak percaya dengan yang di sampaikan dokter
"iya nak. maafkan kami" Sahut dokter sedikit sedih melihat keadaan Rio
Seketika itu juga air mata Rio langsung menetes dipipinya tanpa Dia sadari. Dia mulai menjerit memanggil ayahnya.
Semua kaget melihat Rio yang tiba - tiba saja menjerit memanggil nama ayahnya. Mereka langsung menghampiri orang - orang yang tadi menemui dokter bersama Rio untuk bertanya mengenai keadaan pak Minggus.
Mereka sudah mulai mencurigai jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Pak Minggus, Namun mereka ingin memastikannya. Mereka tidak ingin mengabarkan kepada orang - orang di rumah sebelum mereka memastikannya.
Bunda Rida langsung menghampiri Rio dan memeluknya, Namun di hempas oleh Rio. Dia menyalahkan Ibunya atas kejadian yang menimpah ayahnya. Dia juga sangat membenci ibunya karena menyembunyikan semua ini dari dirinya.
Rio juga sangat mara pada Pak Mimin karena tidak memberitahukan padanya kalau selama ini ayahnya sakit. Rio benar - benar sangat marah dan kecewa pada mereka sehingga Dia tidak membiarkan Pak Mimin dan juga ibunya mendekati dirinya.
Kelakuan Rio tersebut membuat pandangan orang - orang terhadap dirinya semakin jelek. Bahkan mereka menganggap Rio kini sudah sombong dan terjangkit virus kota besar semenjak Dia pergi bersekolah di Jakarta Bersama paman dan bibinya.
Itu membuat mereka semakin yakin kalau desas - desus mengenai Pak Minggus jatuh sakit karena ulah Rio semakin nyata. Namun Rio tidak mempedulikan itu semua karena Dia masih larut dalam kesedihan setelah kehilangan Ayahnya yang begitu cepat di panggil Yang Maha Kuasa.
Setelah lebih tenang, Rio bersama pak Mimin dan yang lainnya mengantar pak Minggus ke ruang jenasah untuk di mandikan supaya bisa di bawah pulang ke Rumah duka. Rio mengikuti jenasah ayahnya sambil terus menangis menjerit memanggil nama ayahnya.
Bunda Rida sudah terlebih dulu di bawa ke rumah oleh keluarga lainnya. Mereka membawa Bunda Rida cepat kembali kerumahnya agar mereka bisa menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulangan jenasah Pak Minggus ke kediamannya.
Di rumah sakit tertinggal Rio, Pak Mimin serta keluarga mereka lainnya yang hendak Mengiringi pengantaran jenasah pak Minggus ke rumah duka sebagai tanda penghormatan dan juga rasa Respect dari masyarakat sekitar pada dirinya.
__ADS_1
Sekitar Jam 01.00 malam, Rio bersama pak Mimin dan yang lainnya membawa jenasah ayahnya kembali ke rumah mereka menggunakan ambulans. Rio yang selama ini takut akan mayat, Langsung hilang rasa takut itu. Dia seperti kehilangan akal sehatnya, sehingga terus meratapi jasad ayahnya di dalam ambulans.
Pak Mimin yang melihat kesedihan pada diri Rio hanya bisa ikut menangis. Dia benar - benar bingung, apa yang harus Dia lakukan untuk menghibur Rio. Itu semua karena Rio masih menyalahkan dirinya dan juga Bunda Rida ibunya karena menyembunyikan penyakit yang di derita ayahnya selama ini dari dirinya.
Sebenarnya Bunda Rida dan Pak Mimin tidak sepenuhnya salah atas hal itu. Semua itu mereka lakukan atas permintaan dari Pak Minggus ayah Rio sewaktu Dia masih hidup. Dia tidak ingin membuat putra semata wayang mereka kwatir tentang keadaannya yang sedang sakit.
Jarak antar Rumah Rio dan Rumah sakit tidak begitu jauh sehingga hanya perlu beberapa menit untuk sampai kerumah Duka.
tiba di rumah, semua sudah di persiapkan oleh ibunya dan orang - orang di rumah sehingga mereka langsung membaringkan jenasah ayahnya di tempat yang sudah di sediakan. Rio dan Pak Mimin turut membopong jenasah ayahnya.
Mendengar kakanya meninggal dunia, Paman Hans dan keluarganya langsung pulang ke kampung halaman. Dia tidak bisa menahan kesedihannya sehingga langsung membeli tiket pesawat dan pulang tanpa ijin terlebih dahulu ke kantornya.
Hans hanya menelpon mengabarkan kepulangan mereka pada Direktur perusahaan tempat dimana Dia bekerja melalui telfon genggam. Dia sudah tidak mempedulikan apa yang akan di lakukan direktur perusahaan pada dirinya dan juga istrinya nanti.
Yang di pikirkan Hans saat ini adalah kembali ke kampung halaman dan menemani jasad kakanya hingga di makamkan. Karena cuma Pak Minggus yang Hans punya saat ini sehingga setelah Dia, Hans sudah tidak punya siapa - siapa lagi selain Rio keponakannya.
Hans sangat menyayangi saudaranya itu sehingga Dia tidak ingin membiarkan momen terakir bersama kakanya di dunia ini terlewatkan. Dia membawa serta seluruh keluarga kecilnya bersama Dia kembali ke kota kecil mereka.
Setibanya Dirumah Duka, Hans langsung mendapat kabar yang sangat tidak mengenakan di telinganya. Dia begitu banyak mendengar cibiran dan juga makian terhadap Rio karena di tuduh menjadi penyebab utama meninggalnya Pak Minggus.
Mendengar semua cibiran tersebut, Hans lalu bertanya mengenai Hal itu pada Pak Mimin dan juga Bunda Rida. Karena sebelumnya, Hans sudah diberitahukan mengenai penyakit Pak Minggus tersebut pada dirinya.
Bahkan, karena alasan itulah Hans membiarkan Rio kembali ke kampung Halaman mereka menemani ayahnya yang sudah sangat sekarat. Karena Dia tidak ingin Rio melewatkan hari - hari terakir bersama ayahnya.
Bunda Rida dan juga Pak Mimin hanya menjawab Hans bahwa semua itu hanya salah paham. Mereka juga meminta Hans untuk sebisa mungkin menghalau desas desus tersebut sehingga tidak semakin menyebar Luas.
Namun Hans juga tidak bisa menghalaunya. Desas - desus tersebut beredar cukup cepat sehingga Hanspun tidak dapat menghalaunya. Mereka sudah pasra dengan semuanya itu.
Hans yang merasah Risih dengan desas - desus tersebut mulai menghampiri Rio dan bertanya padanya
"apa yang kamu lakukan setelah pulang dari jakarta, nak ?" tanya Hans pada Rio yang masih terus menangis meratapi jenasah ayahnya
"aku cuma bersekolah terus jalan - jalan bersama teman - temanku" jawab Rio dengan polos
__ADS_1
"terus, Kenapa bisa terjadi desas - desus seperti ini, Io ?" sahut Hans yang mulai ikut menangis melihat Rio yang terus menangis
"aku juga gk tau. tiba - tiba saja, berita ini sudah tersebar paman" jawab Rio dengan pasrah
Ya tuhan, apa yang harus kita lakukan nak" sahut paman Hans yang mulai kebingungan sambil memeluk Rio
"aku juga Gk tau paman. saat ini, aku hanya ingin menguburkan jenasah ayahku dengan tenang. aku tidak mempedulikan yang lainnya, Paman" Jawab Rio sambil melihat jenasah ayahnya yang terbaring kaku di depan mereka
"iya nak. semua keputusan ada di tangan kamu. kamu tidak sendirian, ada paman yang akan selalu berada disisimu" sahut Hans sambil mengecup kepala Rio
"iya paman. Terima kasih ya, sudah mempercayai saya" jawab Rio sedikit lega karena Hans ternyata masih memihak pada dirinya
"kamu sudah paman dan bibi anggap anak sendiri" jawab Hans sambil menyapu pundak Rio
"iya paman. Terima kasih" sahut Rio
"iya nak. Tetap kuat dan tabah ya. Kamu adalah putra kebanggaan keluarga kita" jawab Hans menguatkan hati Rio
"iya paman. aku akan berusaha semampuku" sahut Rio
"paman percaya padamu, Nak" sahut Hans lalu pergi meninggalkan Rio untuk duduk bersama tamu yang datang melayat Jenasah pak Minggus.
Di selah mereka bercerita dengan tamu yang datang melayat, Hans berusaha meluruskan pandangan dari semua tamu yang hadir tentang kematian pak Minggus sehingga mereka tidak sepenuhnya menyalahkan Rio atas kejadian tersebut.
Namun tidak semudah yang di pikirkan. semua terlanjur menyalahkan Rio atas kejadian yang menimpa pak Minggus. Bahkan Hans juga ikut terkena cibiran tersebut karena dituduh telah terkontaminasi dengan virus kota besar.
Semua usaha yang di lakukan Hans bersama Pak Mimin untuk mengubah pandangan mereka terhadap Rio gagal sehingga mereka hanya pasrah menghadapi semua yang terjadi. mereka hanya berharap, Rio mampu menghadapi rintangan yang sudah menunggu di depannya.
Semua keluarga serta para tetangga ikut mengantar jenasah pak Minggus ke tempat pemakaman keluarga mereka, yang bersampingan dengan perkebunan milik keluarga pak Minggus. Banyak juga rombongan yang mengiringi pengantaran jenasah pak Minggus untuk di semayamkan.
Karena selain dari keluarga terpandang, Pak Minggus juga merupakan orang yang sangat baik dan juga dermawan. Dia juga sangat ramah pada penduduk yang ada di kota mereka sehingga mereka menganggap itu sebuah kehormatan, dapat mengantar jenasah pak Minggus hingga ke tempat peristrahatan terakirnya.
#Hallo Readers.... jangan lupa like dan Vote'nya ya 🙂🙂😉😉😉
__ADS_1