
Setelah mendengar hasil Ujian Akir Nasional ( UAN ), Rio sangat bimbang mengenai dimana Dia harus melanjutkan sekolahnya. Apakah harus kembali ke Jakarta dan melanjutkan kuliah disana atau melanjutkan kuliah di kota kecil mereka dan tinggal bersama ibunya serta mengurus perkebunan yang sudah di tinggalkan beberapa generasi yang lalu.
Sementara memikirkan itu semua, Ibunya mengadakan perayaan syukuran atas keberhasilan putra semata wayangnya mengikuti Ujian Akir Nasional ( UAN ). Bunda Rida mengundang semua kerabat dekat dan juga tetangga mereka untuk turut hadir bersama Rio merayakan keberhasilannya mengikuti UAN.
Acara yang mereka rayakan kali ini tidak di hadiri oleh Ayahnya yang suda lebi dulu di panggil Tuhan juga Pamannya yang tinggal di Jakarta. meskipun sedikit ganjil, Namun mereka berdua tetap berusaha menikmati acara itu hingga selesai.
Bunda Rida membuka acara malam itu dengan memberi kata sambutan serta ucapan terima kasih kepada semua yang sudah meluangkan waktu untuk hadir di acara kecil mereka malam itu. sebenarnya ini tugas ayahnya, namun di gantikan oleh ibunya karena ayahnya yang sudah tiada.
Rio lalu duduk di kursi yang dulu di tempati ayahnya di saat mereka makan bersama, Sekaligus sebagai pemberitahuan kepada semua keluarganya jika Dia sudah siap menggantikan posisi ayahnya di rumah mereka.
Semua keluarga yang hadir mengangguk pertanda setuju. Mereka lalu duduk dan makan bersama setelah di persilakan oleh Rio sebagai Tuan Rumah. Semua yang hadir makan dengan sopan hingga selesai.
setelah itu, mereka sedikit berbasa - basi dan bertukar pikiran satu sama lain sekaligus menguji seberapa besar kemampuan Rio Karena mereka sangat berharap Rio bisa sama seperti sosok ayahnya dulu.
semenjak kepergian ayahnya, Mereka seperti kehilangan sosok yang selama ini selalu menasehati dan menganyomi mereka. hal itu baru mereka sadari setelah kematian pak Minggus sehingga mereka tidak ingin salah memilih orang, Karena itu akan berujung pada sesuatu yang sedikit merugikan mereka.
Setelah berbincang - bincang dengan Rio, Mereka lalu berpamitan kembali ke rumah mereka masing - masing dengan senang hati karena ternyata Rio mampu dan Dia bisa menggantikan posisi yang di tinggal ayahnya dulu, meskipun beberapa dari mereka masih meragukan kemampuan Rio karena beberapa kejadian di masa lalu Rio.
Setelah acara bubar dan semua sudah kembali ke rumah mereka masing - masing, Bunda Rida menghampiri Rio dan memberi selamat pada Rio
"selamat ya Nak" ucap ibunya dengan senang
"iya bu. Terima Kasih bu" sahut Rio
"ingat ya nak, Jangan pernah besar kepala dengan semua pujian yang kamu terima. Tetap rendah hati dan berikan yang terbaik yang kamu miliki" Nasehat Bunda Rida pada putranya
"iya bu. terima kasih sudah memberiku nasehat" sahut Rio
"iya nak. ibu percaya sama kamu" sahut bunda Rida sambil memeluk putranya
"terima kasih ya bu, sudah mempercayaiku dan menyiapkan segalanya buat aku" kata Rio pada ibunya
"ibu rela melakukan apa saja buat kamu nak. Jika ayah kamu masih hidup, pasti Dia akan melakukan Hal yang sama seperti yang ibu lakukan saat ini padamu, nak" sahut bunda Rida pada putranya
"iya bu. terima kasih untuk semuanya. Besok kita siarah ke makam ayah ya, bu ?" ajak Rio pada ibunya
"iya boleh nak. sudah lama kita tidak pergi kesana" sahut bunda Rida dengan antusias
"ok bu. saya pamit ke kamar buat istrahat bu" ijin Rio pada ibunya
"oh... iya boleh. ibu juga pengen istrahat" sahut bunda Rida sambil mempersilakan anaknya pergi
"iya bu" sahut Rio sambil meninggalkan ibunya menuju kamar tidurnya
__ADS_1
setelah mengobrol, Rio kembali mengecek pak Mimin yang sedang sibuk menyimpan segala sesuatu yang di perlukan untuk acara tadi sekaligus memberitahukan padanya kalau Dia ingin beristrahat karena sudah ngantuk juga keletihan.
Keesokan harinya, Ketika saat sarapan pagi. Rio menempati kursi yang selama ini di tempati ayahnya, sementara kursi yang selama ini di tempatinya seharusnya di tempati oleh pamanya. namun karena pamannya tidak ada, maka kursi itu di biarkan kosong atas permintaan Rio.
Sesuai janjinya semalam, Sore harinya Rio mengajak ibunya pergi bersiara ke makam ayahnya di temani Pak Mimin. Disana, ternyata mereka sudah di tunggu oleh beberapa pekerja perkebunan mereka sehingga mereka sama - sama bersyara ke makam ayahnya.
Disana, para pekerja perkebunan membantu Rio dan ibunya membersikan kuburan yang sudah di tumbui Rumput Liar hingga bersih. setelah itu mereka membakar Lilin yang sudah disiapkan ibunya lalu berdoa untuk ketenangan arwah ayahnya.
Mereka bercerita disitu dengan berbagai topik dan mendengar segala keluhan dari para pekerja di perkebunan hingga sore hari barulah mereka kembali ke rumah mereka.
Kejadian itu membuat Rio semakin bimbang dan ragu untuk pergi mengikuti pamannya ke Jakarta melanjutkan kuliah di Jakarta dan meninggalkan kota kecil mereka. Dia semakin ragu untuk pergi meninggalkan ibunya dan juga para pekerja perkebunan yang sangat menyayanginya.
Sementara itu, Hans dan Ria sangat berhasrat untuk membawa Rio kembali ke Jakarta. Itu semua karena Hans tidak ingin kerabat dekat satu - satunya yang tersisa sekarang tinggal sendirian di Kampung halaman mereka.
Apalagi mengingat semua masa kelam yang pernah di alami Rio, itu membuatnya sangat cemas dan semakin yakin untuk membawa Rio pergi bersamanya ke Jakarta. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rio.
Memikirkan itu semua membuat Hans semakin ingin membawa Rio ke jakarta sehingga Dia bisa mengawasi Rio disana dan membesarkan Rio hingga menikah nanti, karena Rio merupakan satu - satunya kerabat dekat yang dia punya saat ini.
Hal itu semakin membuat Rio bimbang sehingga Dia bertanya pada pak Mimin
"pak mimin, gimana menurut bapak. sebaiknya aku kuliah di jakarta atau disini ?" tanya Rio meminta pendapat Pak Mimin
"kamu sendiri maunya kuliah dimana ?" tanya Pak Mimin pada Rio
"ibumu sudah tua, ayahmu juga sudah meninggal. aku juga sudan tua dan kamu adalah anak satu - satunya dalam keluargamu. apa kamu ingin pergi meninggalkan semua yang sudah lama di jalani ini, nak ?" nasehat Pak Mimin pada Rio
"maksud bapa, jika aku pergi maka semua akan berakir ?" tanya Rio pada Pak Mimin
"kalau sudah nyaman disana, kamu pasti gk akan kembali lagi kan, Nak ?" tanya pak Mimin menanggapi pertanyaan Rio
"iya juga ya, pak" sahut Rio
"itu yang ayahmu, ibumu, aku dan semua kwatirkan, nak" jelas Pak Mimin pada Rio yang masih kebingungan
"seperti pamanmu sekarang, yang sudah nyaman disana. palingan cuman sebentar kembali terus pergi lagi. iya, kan ?" tanya Pak Mimin pada Rio
"iya pak. aku ngerti maksud bapa sekarang" jawab Rio sambil mengangguk
"tapi aku juga gk bisa memaksamu, nak. semua kehendak dan pilihan kamu, nak" sahut pak Mimin
"iya pak. aku akan memikirkannya pak" sahut Rio sedikit lesuh
"tentukan pilihanmu dengan bijak ya, nak" sahut Pak Mimin ikutan lesu
__ADS_1
"iya pak. terima kasih atas nasehatnya" sahut Rio sambil mengangguk
"apa kamu sudah tanyakan hal ini pada ibumu, nak ?" tanya pak mimin memecah keheningan di antara mereka
"iya sudah pak. ibuku menyerahkan semua keputusan padaku" sahut Rio
"iya nak. semenjak kejadi kemarin, ibumu sudah pasrah dan hanya berharap yang terbaik buat kamu" sahut Pak Mimin dengan sedikit Cemas
"sepertinya demikian, pak" sahut Rio
"iya Rio. jangan mengecewakan ibumu lagi ya, nak" sahut pak Mimin sedikit memohon
"iya pak. aku telah berjanji untuk itu. aku benar - benar kasihan pada ibu kemarin" sahut Rio sedih mengingat perbuatannya kemarin
"iya gk pa - pa Rio. yang sudah berlalu biarlah berlalu. kini ibumu sudah tersenyum lagi. jadi bapa harap kamu bisa tetap memberikan senyum itu pada ibumu hingga hari tuanya nanti" sahut pak Mimin pada Rio
"iya paman. aku juga tidak ingin membuatnya bersedih lagi, apalagi sampai harus membuatnya menderita seperti kemarin. aku benar - benar tidak tega untuk itu, pak" sahut Hans dengan cemas
"itu juga yang harus kamu pertimbangkan nak" sahut Pak Mimin
sedang asyick mengobrol, tiba - tiba mereka di kagetkan oleh Bunda Rida yang datang membawa kopi serta makanan ringan buat mereka berdua. Karena semenjak Rio bertobat dan berhenti minum - minuman keras, Dia menggantinya dengan kopi sehingga setiap sore ibunya selalu menyuguhkan kopi buatnya.
"kok serius bangat ngobrolnya ?" selah bunda Rida pada keduanya
"ah..... gk ko bu. kami cuma mengobrol biasa" sahut Rio
"iya bu. kami cuma membahas obrolan ringan" lanjut Pak Mimin
"iya. lanjutin aja ngobrolnya. jangan lupa diminum kopinya" sahut Bunda Rida lalu kembali lagi ke dalam
"iya bu." jawab mereka bersamaan
Mereka lalu membahas topik lainnya hingga menjelang malam barulah pak Mimin pamit kembali kerumahnya. Rio juga langsung masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamar mandi untuk mandi karena hari juga sudah mulai malam.
Setelah mengobrol bersama Pak Mimin, Rio akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di kota kecil mereka saja. Dia membatalkan niatnya untuk pergi kuliah di jakarta karena berbagai alasan yang di sampaikan Pak Mimin tadi.
Salah satu alasan paling kuat Rio mengurungkan niatnya untuk pergi kuliah di jakarta adalah tidak ingin meninggalkan ibunya tinggal sendirian di kota kecil mereka. Dia tidak ingin menyakiti hati ibunya seperti kemarin lagi.
Rio benar - benar tidak ingin kejadian kemarin terjadi pada ibunya lagi setelah Rio pergi ke jakarta. membayangkannya saja membuat Rio ingin menangis sehingga dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jakarta.
Rio ingin tetap tinggal bersama ibunya dan merawat ibunya hingga hari tuanya nanti serta menjaga apa yang sudah mereka jalani sejak kakek buyut Rio. Dia tidak ingin menghancurkan itu semua hanya karena keinginannya sendiri.
Rio lalu mengutarakan niatnya itu Pada Bunda Rida ibunya. Bunda Rida menyambut dengan senang keinginan Putra semata wayangnya itu. Mereka lalu sama - sama mengabarkan Hal ini pada Hans pamannya melalui telpon rumah milik mereka.
__ADS_1
"jangan lupa vote dan like'nya ya guys