
sepulangnya Rio dari Jakarta membuat keluarga mereka sudah ceria seperti dulu lagi. Tidak seperti saat ditinggal pergi Rio ke Jakarta, Rumah sangat sunyi seakan tidak ada penghuninya ketika tidak ada pekerja yang datang berkunjung ke rumahnya.
Keseharian pak Minggus juga kini selalu di temani putra semata wayang mereka. Mulai dari mengurus perkebunan mereka serta urusan lainnya.
Di waktu Luang, mereka juga selalu menghabiskannya bersama - sama. Hari - hari merekapun selalu diisi dengan canda tawa. Kebahagiaan kini kembali menyelimuti keluarga mereka seperti sedia kala.
Pak Minggus berencama memasukan Rio di sekolah paling faforite yang ada di kota mereka. Rio tidak keberata dengan itu. Dia hanya menuruti apa yang di inginkan pak Minggus pada dirinya. Dia yakin pak Minggus pasti punya rencana terbaik untuk masa depannya.
Bunda Rida juga menyetujui niat pak Minggus. Dia memberikan kebebasan kepada Rio untuk bersekolah dimanapun, asalkan tidak jauh dari rumah mereka dan sekolah itu bisa di tempuh dari rumah mereka.
Bunda Rida tidak ingin Rio pergi meninggalkan rumah mereka lagi. Dia ingin Rio tetap di rumah dan tinggal bersama mereka. 3 tahun kemarin sudah cukup membuat mereka menderita sehingga bunda Rida tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Pak Minggus langsung mengajak Rio untuk pergi mendaftar di sekolah barunya. sekolah itu merupakan sekolah faforite di kota mereka. Hal itu karena dia menginginkan yang terbaik buat putra semata wayangnya itu.
Dengan mudah Rio masuk sekolah faforite yang di inginkan ayahnya itu. selain cerdas dan juga pengaruh nama besar ayahnya membuat semuanya lebih mudah bagi Rio. apalagi Rio merupakan lulusan dari kota besar.
Hari pertama Rio masuk sekolah tersebut, Rio langsung di kagumi kaum hawa yang bersekolah di sekolah tersebut karena selain tampan, Dia juga Lulusan dari ibu kota. Hal itulah yang membuat semua kaum Hawa ingin mendekatinya. Termasuk kaka - kaka kelas mereka.
Banyak juga yang memuji dan menghormatinya karena kebesaran nama kedua orang tuanya. Namun semua pujian tersebut tidak membuatnya besar kepala. Dia tetap menjadi sosok yang rendah hati dan terkesan dingin dan cuek.
Kecerdasan serta prilakunya yang baik semakin membuat Dia di kagumi oleh teman - temannya di kelas. Terkadang mereka meminta bantuan Rio belajar bersama mereka dan Rio tidak pernah menolak permintaan mereka tersebut.
Di sekolah tersebut, Rio juga akrab dengan beberapa teman kelasnya. Diantara teman - temannya tersebut, Ada yang berasal dari sekolah yang sama sewaktu mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar ( SD ).
Hal itulah yang membuat mereka semakin akrab sehingga Hampir setiap waktu, mereka selalu menghabiskannya bersama. baik itu belajar bersama maupun bersenang - senang.
Pak Minggus tidak pernah melarang hal itu karena menurutnya, Rio masih sangat mudah sehingga Dia pantas melakukan semua itu. Dia pantas menikmati masa remajanya bersama teman - teman sebayanya.
Ayahnya hanya memberi nasehat pada Rio agar Dia tidak terjurumus dalam pergaulan yang tidak sehat, yang dapat merugikan dirinya maupun masa depannya. Itu sangat tidak di inginkan oleh pak Minggus, tentunya juga semua yang menyayangi dirinya.
Melihat putranya yang sering keluyuran terus, pak Minggus lalu menasehati Rio
"Rio" sapa Pak Minggus
"iya pak. gimana ?" jawab Rio
"sekarang kamu sudah semakin besar. Ayah harap kamu sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak" nasehat Pak Minggus untuk putranya
__ADS_1
"iya pak. Rio paham itu" sahut Rio
"ayah harap, kamu tidak terjerumus dalam hal yang buruk, nak" nasehat Pak Minggus yang mulai mengkwatirkan anaknya
"gk ko pak. Rio cuma jalan - jalan keliling aja. gk ngapa - ngapain ko pak" jawab Rio meyakinkan ayahnya
"iya nak. ayah percaya sama kamu" sahut ayahnya
"terima kasih ya, ayah sudah mempercayai Rio. Rio tidak akan mengecewakan ayah" sahut Rio
"iya nak. kamu kemana saja sama teman - temanmu ?" tanya pak Minggus pada Putranya
"uh..... banyak pak. terkadang mengunjungi rumah teman, terkadang juga ke tempat wisata" Sahut Rio yang menceritakan pengalaman bersama teman - temannya kepada pak Minggus
"oh gitu. Harus selalu waspada dan hati - hati ya nak" nasehat pak Minggus pada anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi Remaja
"iya pak. Rio gk macam - macam ko" sahut Rio meyakinkan ayahnya
"jangan sembarangan mengunjungi rumah orang, nak" jawab pak Minggus lega
"oh gitu. ya sudah. mau gk, ikut papa mengecek perkebunan milik kita" ajak pak Minggus pada putranya
"boleh pak. Ayo" ajak balik Rio
"sebentar ya. saya panggilkan ibumu. siapa tau dia juga mau ikut bersama kita" jawab pak minggus sambil pergi meninggalkan Rio
Pak Minggus lalu mengajak serta istrinya untuk sama - sama pergi mengecek keadaan perkebunan milik mereka. Karena hari ini Rio tidak kemana - mana sehingga pak Minggus ingin mereka menghabiskan waktu bersama - sama sebelum teman - temannya datang dan mengajak Rio pergi.
Di perkebunan mereka mulai menanyakan tentang keluhan para pekerja hingga hasil panen perkebunan mereka dan juga kebutuhan para pekerja. mereka lalu berkliling melihat - lihat keadaan perkebunan milik mereka yang cukup luas tersebut.
Pak Minggus dan keluarganya menghabiskan waktu di perkebunan mereka tersebut hingga senja barulah mereka kembali ke rumah mereka.
Dirumah, mereka langsung membersikan diri setelah itu makan dan langsung menuju kamar untuk beristrahat karena mereka begitu kelelahan setelah menghabiskan waktu di perkebunan mereka sejak sore tadi.
Pak Minggus benar - benar sadar kalau masa remaja adalah masa yang paling rawan bagi anak - anak sehingga dia sangat cemas tentang putranya. Dia selalu berusaha untuk menuntun dan menasehati anaknya sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan yang di kemudian hari akan merugikan dirinya.
Pak Minggus juga tidak ingin anaknya kehilangan arah dan salah jalan sehingga Dia juga selalu mengobrol bersama pak Mimin mengenai perkembangan putra semata wayangnya itu dan juga seperti apa mereka harus menghadapinya saat ini
__ADS_1
Ketika sedang bersama, Pak Minggus menyampaikan rasa kwatirnya pada pak minggus sekaligus meminta pendapatnya
"Min...." sapa pak Minggus
"iya pak" sahut pak Mimin
""menurutmu, Rio gimana ?" tanya pak Minggus pada pak Mimin
"baik pak. sejauh ini, pergaulannya normal - normal saja pak" jawab pak mimin menghilangkan kecemasan pada pak Minggus
"apa mungkin, Dia akan terjerumus ke pergaulan yang salah ?" tanya pak Minggus lagi
"aku akan berusaha semampuku untuk menjauhkannya dari Hal itu pak" sahut pak Mimin meyakinkan itu
"aku percayakan hal itu sama kamu, Min" jawab pak Minggus sedikit memohon
"iya pak. itu sudah jadi tanggung jawabku" sahut pak Minggus
"Dia sering keluar. itu yang membuatku kwatiir" keluh pak Minggus pada pak Mimin
"gk apa - apa pak. Dia juga masih remaja. jadi jangan terlalu mengekangnya. gk baik buat pertumbuhannya" sahut Pak Mimin
"iya Min. aku juga berpikir demikian. Ibunya juga sangat mengkwatirkan dirinya, Min" sahut pak Minggus
"aku ngerti itu pak. percaya saja sama Rio, pak" sahut Pak Mimin
"iya juga ya, Min. Dia sudah gede. sudah saatnya kits mempercayainya untuk mandiri" sahut pak Minggus
"iya pak. itu juga yang aku harapkan dari bapak" sahut pak Mimin
"iya Min. terima kasih ya, sudah membuka pikiranku" sahut pak Minggus
"iya pak. sudah menjadi tugasku, pak" sahut pak Mimin
Mereka masih terus mengobrol mengenai berbagai topik lainnya hingga Rio kembali ke rumah barulah pak Mimin balik kerumahnya. Pak Minggus sangat mengagumi kesetiaan Pak Mimin yang tidak pernah meninggalkan mereka baik dalam keadaan susah maupun senang.
Karena itulah, Pak Mimin sudah dianggap saudara oleh Pak Minggus. Apapun yang di lakukan Pak Minggus, Dia selalu menyertakan Pak Mimin di dalamnya. Pak Mimin juga tidak merasa keberatan dengan itu, Dia bahkan menerima itu sebagai sebuah kehormatan buat Dia.
__ADS_1