Gejolak Darah Muda

Gejolak Darah Muda
32


__ADS_3

Bungan kini sudah lelah dengan tingkah Rio terus dingin padanya dan juga tidak peduli padanya membuat dirinya kini perlahan - lahan mulai menjauhi Rio.


Apalagi setelah Dia menemukan teman kantornya yang sangat peduli padanya. Mendapat perhatian yang sangat baik dari teman kantor bungan tersebut yang tidak pernah Dia dapatkan dari Rio membuat dirinya semakin bimbang dengan Rio.


Perasaannya untuk Rio sudah terbagi. Dia juga sudah jarang bermain ke Rumah Rio. Dia sudah lelah dengan Rio yang selalu cuek dan dingin padanya. Dia malah kini semakin dekat dengan teman kantornya itu.


Susan tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya untuk waktu yang lama sehingga setelah Lulus kuliah S2, Dia langsung kembali ke kota kecil mereka. Dia juga sudah rindu akan kasih sayang kedua orang tuanya sehingga Dia langsung buru - buru pulang setelah di wisudakan.


Susan tidak memberitahukan kepada orang - orang tentang kepulangannya ke kota kecil mereka. Termasuk sahabat - sahabat Rio. Dia hanya memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Dia tidak ingin kepulangannya membuat heboh dan mengganggu hubungan Rio dengan Bunga.


Rio tidak tau kalau Susan sudah kembali ke kota kecil mereka. Hal itu karena Susan tidak mengabarkannya pada Rio. Semua itu Susan lakukan karena Dia tidak ingin mengganggu hubungan Rio dengan Bunga.


Rivan dan Heru Yang pertama kali mengetahui kepulangan Susan. Hal itu karena seminggu setelah kepulangan Susan, Rivan dan Heru mendapat tugas pelatihan di kota kecil Rio. Susan menjadi salah satu pembicara di pelatihan tersebut.


Mereka Hampir tidak mengenali Susan yang kini penampilannya semakin modis dan trend. berbeda dengan Susan yang dulu, yang berpenampilan biasa saja. Susan juga kini semakin matang dan dewasa saat berbicara di depan mereka.


Setelah acara selesai, Heru dan Rivan langsung menghampiri Susan. Susan yang melihat kedatangan Rivan dan Heru, langsung berlari menghampiri mereka dan langsung memeluk mereka sambil menamgis sehingga membuat mereka kaget


"Lah.... kamu kenapa nangis, San ?" tanya Rivan pada bungan


"aku kangen sama kalian semua, kak" sahut bungan sambil melap air mata di pipinya


"astaga.... dari dulu sampai sekarang masih juga cengeng" goda Heru sambil menggelengkan kepalanya


"habisnya air mata ini menetes tanpa bisa Susan halau, kak" sahut Susan dengan cengeng pada Rivan dan Heru


"ayo cepat lap air matamu, kamu sudah gede. gk baik di lihat orang" sahut Rivan menasehati Susan


"mana gk ada Rio lagi" sahut Heru menggoda Susan yang sedang menangis


"oh iya.... gimana kabar kak Rio ?" tanya Susan pada Heru dan Rivan

__ADS_1


"kamu kan tinggalnya sekota, ko malah tanya ke kita yang tinggalnya berjauhan" sahut Heru kaget mendengar pertanyaan Susan tersebut


"aku malu buat ketemu sama Dia kak. kemarin aku pergi tanpa pamit ke Dia" sahut Susan yang mulai menangis lagi karena teringat akan kenangannya dulu bersama Rio


"berhenti nangisnya. ayo duduk" ajak Rivan pada Susan yang sudah menagis lagi


Mereka lalu bercerita bersama dan menghibur Susan yang terus saja menangis. ingin rasanya Dia menelpon Rio untuk mengabarkan Hal ini pada Rio, karena Rivan tau bahwa sebetulnya Rio masih sangat sayang pada Susan dan Dia masih mengharapkan Susan untuk kembali ke pelukannya. Akan tetapi itu tidak juga Dia lakukan karena Dia juga tidak tau mengenai perkembangan Bungan dan Rio.


Heru mengajak Susan untuk ikut bersama mereka menemui Rio karena mereka sudah janjian untuk bertemu dengan Rio, namun Susan menolak karena Dia tidak ingin menjadi Duri di antara hubungan Rio dengan Bunga sehingga Dia hanya menitip salam pada Rio.


Setelah acara pelatihan itu bubar, Rio dan Heru pergi menemui Rio di cafe tempat mereka biasa ngobrol sewaktu masih kuliah dulu. disana ternyata Rio sudab lebih dulu tiba disana. Dia duduk di tempat biasa mereka duduk sewaktu masih kuliah dulu.


Rivan dan Heru segera menghampiri Rio. setelah bersalaman, mereka lalu bercerita dengan ayiknya


"mana bunga ?" tanya Heru pada Rio karena Dia datang sendirian tanpa di temani bunga


"gk tau. mungkin lagi di rumahnya" sahut Rio yang tidak terlalu antusias membahas bunga


"belum sih. tapi aku dengar - dengar sekarang dia lagi dekat sama teman kantornya dan sering pergi bersama" Sahut Rio yang tidak begitu peduli dengan Bungah


"itu kan calon tunangan kamu. kamu gk mara ?" tanya Heru kaget melihat ekspresi Rio yang biasa saja


"mau gimana lagi. itu kan pilihannya Dia, aku juga gk bisa ngelarang" Sahut Rio yang tidak terlalu peduli pada Bunga


"Hmmmm.... tadi kami berdua bertemu sama bungan di tempat pelatihan kami"Selah Heru yang tidak ingin membuat Rio sedih dengan perbuatan Bunga


"memangnya Dia sudah pulang Dari singapura ?" tanya Rio pada Heru


"iya... Dia jadi pembicara disana" selah Rivan


"Dia nangis bertemu kami tadi. katanya Dia kangen sama kami dan kangen masa kuliah kita dulu" Sahut Rivan agak sedih melihat Susan tadi

__ADS_1


"huhh.... anak itu. dari dulu tidak pernah berubah, masih aja cengeng" gerutu Rio pada Susan


"saranku sih, cepatlah bertemu dengannya sebelum di ambil orang. makin cantik Dia sekarang, Rio" sahut Heru memperingatkan Rio


"aku tau kalian berdua masih saling mencintai. jangan sampai ego kalian membuat kalian berdua tersiksa seumur hidup kalian" nasehat Rivan pada Rio


"aku malu bertemu Dia sekarang, Riv" sahut Rio dengan raut wajah yang sedih


"buang dulu rasa malumu brother, kejarlah kebahagiaan dan tawamu. jangan sampai rasa malumu membuat kau mengabaikan tawa dan bahagiamu teman" sahut Heru yang mulai ketularan bijak Rivan karena tidak ingin Rio seperti dirinya yang terus hidup dalam penyesalan


"tumben kamu jadi bijak ru" tanya Rio kaget sekaligus heran dengan Heru yang tiba - tiba saja menjadi bijak


"aku tau bagaimana rasanya kehilangan teman. aku tidak ingin hidupmu sepertiku yang terus hidup dalam penyesalan. itu menyakitkan Rio" sahut Heru dengan wajah yang serius bercampur sedih pada Rio


"oh... jadi itu alasanmu selalu mengganti pasangan" tanya Rio menyelidiki Heru


"cepat temui Dia dan perbaiki semuanya sebelum terlambat brother. selagi masih ada waktu. aku serius Rio" sahut Heru lagi menasehati Rio


"iya... aku akan secepatnya menemui Dia. terima kasih untuk nasehaatnya brother semua" ucap Rio yang sudah mulai tersenyum lagi dan juga wajah yang ceria


"Rio... kamu tau kan, kebahagianmu adalah kebahagiaan kami juga. Kami selalu dan akan selalu mendukungmu. temui Dia secepatnya" sahut Rivan memompa semangat Rio karena Dia tau bahwa Rio masih sangat mencintai Susan begitu juga dengan Susan


"iya brother. secepatnya aku akan menemui Dia. aku juga masih sangat mengharapkannya" Sahut Rio jujur pada kedua sahabatnya itu setelah sekian lama karena Dia melihat ketulusan dari kedua sahabatnya itu


"Ok brother. aku akan menunggu undangan nikahnya di rumah" sahut Heru sambil tertawa melihat kebahagian yang terpancar di Wajah Rio


Mereka terus mengobrol dengan gembira dan tertawa kecil selalu menyertai obrolan mereka. terutama Rio, Dia sangat bahagia mendengar Susan telah kembali ke kota kecil mereka. Dia sudah sangat merindukan Susan.


tertasa bahagia seperti ini sudah tidak pernah ada pada Rio semenjak kepergian Susan dan kini tertawa itu hadir kembali seiring kembalinya Susan ke kota kecil mereka. entah kenapa, Rio sangat senang ketika mendengar Susan telah kembali apalagi mendengar Susan menangis, itu semakin membuatnya merasa senang karena itu artinya Susan masih tetap sama seperti Dirinya dulu.


Rio sudah tidak fokus dengan obrolan mereka karena terus memikirkan Susan. hingga membuat kedua sahabatnya itu hanya tertawa gemas pada Rio. Mereka menghabiskan beberapa botol minuman keras barulah kembali.

__ADS_1


__ADS_2