
Meskipun Cemas dengan kepergian Susan menyusul Rio ke Jakarta karena hubungan Rio dengan Susan yang benar - benar belum baikan sebab mereka hanya saling berkomunikasi lewat Udara, Namun Pak Beni terpaksa merelakan putri kecilnya itu pergi menyusul Rio.
Sebelum Berangkat ke Jakarta, Pak Beni sudah memberitahukan pada Susan agar Dia tidak terlalu canggung dan malu untuk bertemu dengan Hans maupun tinggal Di rumahnya untuk beberapa waktu karena Hans masih merupakan sepupu jauh Pak Beni.
Pak Beni yakin Hans mengetahui bahwa mereka masih mempunya hubungan darah meskipun itu dari beberapa generasi yang lalu sehingga Dia tidak mungkin menyakiti Susan apalagi menelantarkan Susan.
Di bandara, Susan sudah di tunggu Rio dan Minggas sepupunya. hal itu karena sewaktu Hendak pergi ke Bandara, Minggas meminta untuk menemani Rio. Rio juga buru - buru ke bandara karena Dia tidak ingin wanita yang paling Dia sayangi itu harus menunggunya di Bandara.
Rio melambaikan tangan pada Susan ketika melihat Susan yang kebingungan mencari keberadaan Rio. Susan yang melihat Rio langsung berlari menghampiri Rio meninggalkan barang - barangnya dan langsung memeluk Rio.
Susan memeluk Rio sangat Erat karena sudah lama Dia menahan Rasa Rindu dan kangennya itu pada Rio. Tanpa sadar Dia meneteskan air mata di pelukan Rio, orang yang selama ini sangat Dia rindukan dan selalu menyiksa batinnya. Susan memeluk Rio sangat Erat seakan tidak ingin kehilangan Rio lagi.
Rio lalu menghibur Susan sambil mengelap air mata yang ada di wajah cantik Susan. Setelah Susan lebih tenang, Rio lalu memperkenalkan Susan pada Sepupunya Minggas yang sudah sejak tadi Berdiri di sebelah Mereka berdua yang sedang berpelukan.
Susan menyodorkan tangannya pada Minggas di sambut pelukan Hangat dari Minggas untuk kaka iparnya itu. Mereka langsung akrab seketika itu juga karena Minggas orang yang cerewet dan hamble begitu juga dengan Susan yang cengeng namun baik.
Mereka terus Mengobrol hingga harus di ingatkan oleh Rio untuk pulang karena sudah ada paman dan bibinya yang menunggu mereka di rumah. Mereka lalu pergi mengambil barang bawaan Susan yang di lepasnya tadi ketika berlari menghampiri Rio untuk di bawa ke mobil milik Randy yang di pinjam Rio untuk menjemput Susan.
Minggas yang melihat kemesraan sepupunya tadi begitu terpesona dan Kagum. Dia tidak menyangka bahwa sebegitu besarnya Rasa Cinta kaka iparnya pada sepupunya Rio. Dia sampai iri melihat kemesraan mereka berdua.
Susan juga sangat Cantik dan imut. Minggas benar - benar kagum dengan baby face milik Susan. Dia tidak menyangka bahwa ada cewe secantik Susan di kota kelahiran ayahnya dan yang lebih mengagetkan lagi adalah cewek itu kekasih sepupunya Rio.
Wajah Cantik dan imut yang di miliki Susan di dapat dari ibunya yang merupakan keturunan melayu. Hal itulah yang membuat Wajah susan terlihat begitu manis sama seperti Minggas yang juga Cantik karena perkawinan campuran tersebut.
Di dalam mobil,tiada hentinya Susan memprotes dan mengeluh tentang Rio yang sulit Dia hubungi dan keluhan lainnya sehingga membuat Minggas tertawa cengengesan mendengar keluhan Susan yang terkadang di anggapnya tidak masuk akal.
__ADS_1
Minggas tidak menyangkah bahwa sepupunya yang begitu keras kepala dan Jahat menurutnya, Malah di bikin tidak berkutik oleh calon istrinya sendiri karena sejak tadi Rio hanya menjawab iya dan tidak, terkadang juga hanya diam mendengar keluhan Susan tersebut.
"san... kontrol dirimu yank. kita lagi sama sepupuku bukan cuma berdua" jawab Rio yang sudang pusing dengan keluhan Susan sambil melihat ke Arah Minggas.
Susan baru kaget kalau ternyata sejak tadi minggas ada bersama mereka dan mendengar semua keluhannya tadi sehingga Dia langsung Diam dan tersipu malu. Dia menggurutu Rio katanya 'kenapa baru sskarang, aku di ingatin' gerutu Susan yang sebal pada Rio
"gk pa - pa kak ipar. anggap aja aku lagi gk ada disini kak" sahut Minggas dengan tertawa kecil melihat tingkah kaka iparnya itu
"maafin kakak ya Dek, habisnya kakamumu ini nyebalin dek. Udah di tinggalin susah pulah di hubungi. itu yang membuat jadi mara sama Dia" sahut Susan mulai Curhat pada Minggas ade iparnya
"hmm... Disini juga kak Rio lebih sering perginya dari pada di rumah kak ?" Sahut Minggas semakin mengadu pada Susan
"Minggas, kamu itu sepupu kaka atau Sepupunya Susan ?" Selah Rio yang kaget dan juga takut dengan pengakuan Minggas tersebut. Dia takut Susan Marah dan langsung kembali ke kota kecil mereka
"astaga.... kak Rio, maafin Minggas kak. Minggas keceplosan kak" Keluh Minggas pada Rio
"oh... jadi itu alasan yang membuatmu betah di jakarta" Lanjut Susan sambil melihat ke arah Rio
"semua gk seperti yang kamu pikirkan yank, aku bisa jelaskan semuanya" Jelas Rio yang mulai panik dan juga cemas
"iya nanti aja setelah di Rumah paman. aku gk mau merusak Mut'ku Saat bertemu dengan Paman dan bibi nantinya. Awas ya, kalau ketahuan bohong" Ancam Susan sambil melihat ke arah Rio
"iya yank... nanti akan ku jelaskan semuanya. Gimana kabar ibu Dk rumah" tanya Rio pada Susan sekalian ingin mengembalikan Mut kekasihnya itu
"keadaan ibu baik ko. Bahkan tadi Pak Mimin dan Ibu ikut mengantarku ke Bandara bersama papa - mamaku" Jawab Susan dengan penuh semangat dan senang
"oh gitu.... kamu gk aneh - aneh kan, selama aku tinggalin kemarin ?" tanya Rio pada Susan
__ADS_1
"ya mana mungkin aku bisa ? Disana, bukan Cuma pak Mimin aja yang mengawasiku tetapi Hampir semua keluarga besarmu termasuk ibu dan papa-mamaku. itu semua karena aku sering ke rumahmu buat menemani ibu yang sendirian di Rumah" sahut Susan sewot atas kecurigaan Rio pada dirinya
"hmmm.... gadis pintar. Makasih yank, sudah menemani ibu" jawab Rio sambil mengacak Rambut Susan dan mengecup keningnya
"kak Rio... jangan berantakin Rambut Susan. Entar aku mau bertemu Paman dan Bibi. Apa kata mereka kalau aku terlihat berantakan kak ?" Keluh Rio Pada Susan sambil merapikan lagi Rambutnya padahal dalam hatinya sangat bebunga - bungan dan juga senang karena mendapat kecupan yang sangat menenangkan hatinya dari Rio setelah 2 Hampir tiga tahun Dia tidak mendapat kecupan tersebut. Ingin rasanya Dia memeluk Rio lagi karena rasa kangennya yang begitu besar pada Rio
"gk pa - pa ko, kalau kak ipar berantakan. aku bakalan bantu jelasin pada ayah dan ibuku di rumah kalau kakak sangat mencintai kak Rio" Selah Minggas yang sangat senang melihat kemesraan antara Rio dan Minggas yang alamiah tanpa di buat - buat
"makasih ya dek. Habisnya kakamu selalu membuatku cemas dan sedih di rumah" Keluh Susan pada Minggas
"iya kak. Kak Rio sering menceritakan kak Susan padaku dan juga ibu dan ayahku di rumah" Curhat Minggas pada Susan
"iya... makanya kamu jangan ubah sikapmu ketika bertemu mereka di rumah nanti karena aku sudah menceritakan semuanya pada mereka. Paman Hans adalah satu - satunya kerabat dekatku yang tersisa jadi aku gk mau menyembunyikan apapun darinya" Jawab Rio dengan serius pada Susan
"iya yank, aku tau itu. Kan Dulu kamu sering menceritakan Pamanmu Hans padaku" sahut Susan sambil melihat Rio yang sedang fokus menyetir
"Emang iya, kak ?" tanya Minggas kaget mendengar pengakuan Dari Susan tersebut
"iya dek. Dulu kami selalu bersama dan kakamu ini selalu menceritakan padaku mengenai kalian semua" sahut Susan sambil melihat ke arah Minggas yang sedang duduk di belakang mereka
"sama... Ayahku juga sering mengingatkan pada kami tentang Kak Rio. Bahkan hingga sekarang Dia masih terus mengingatkan kami tentang Kak Rio dan kota kelahiran Ayahku. Bahkan ayahku ingin membuat kak Rio senyaman mungkin tinggal disini hingga kak Rio kembali ke kota kelahiran ayah nanti" Jelas Minggas pada Rio dan Susan
"oh gitu. Pantas kakamu betah disini dan melupakan aku di rumah" Keluh Susan sambil melihat ke arah Rio dengan cemberut
"gk usah terlalu di dengerin omongan adek ipar kecilmu. aku ada alasan lain sehingga belum bisa balik ke rumah" Sahut Rio Sambil membelai mesrah Rambut Susan
Tidak terasa mereka sudah di depan Rumah Hans paman Rio. Rumahnya cup besar dan halamannya juga cukup luas untuk Rumah di pusat kota sehingga membuat Susan berdecak kagum dengan keadaan Rumah Hans pamannya Rio tersebut.
__ADS_1
Susan berkata dalam hatinya 'wah...ternyata paman Hans cukup sukses di Jakarta ya. Pantas Dia rela meninggalkan semuanya di kampung dan betah tinggal di jakarta' Gumam Susan dalam Hati mengagumi kesuksesan Hans. Susan tidak menyangka bahwa ternyata ada orang dari kota kecil mereka yang cukup sukses di jakarta.