Gejolak Darah Muda

Gejolak Darah Muda
16


__ADS_3

Hans sangat kaget dengan keputusan Rio yang ingin tetap kuliah di kota kecil mereka. Karena sebelumnya Rio sudah setuju ketika Di ajak untuk ikut bersamanya kuliah di Jakarta.


Hans tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Rio hingga tertinggal Dia sendirian di Dunia ini. Semenjak kematian Pak Minggus, Hans sangat mengkwatirkan Rio. Dia begitu mencemaskannya hingga Rio selalu mengganjal di pikirannya.


Karena selalu mengganjal di pikirannya di tamba lagi dengan rasa cemas akan kondisi Rio membuat Hans memutuskan untuk kembali ke kampung mereka dan langsung menjemput Rio agar ikut bersamanya ke Jakarta.


Rio merupakan satu - satunya kerabat dekat yang Hans punya saat ini setelah kematian Pak Minggus sehingga Dia benar - benar sangat mengkwatirkan kondisi Rio serta masa depannya. Dia ingin Rio berada di dekatnya sehingga Dia dapat mengawasi dan merawat Rio.


Ria istrinya Hans juga tidak ingin membiarkan Hans pergi kekampungnya sendirian sehingga Dia memutuskan untuk ikut bersama Hans ke kampung mereka. Hal itu karena Ria juga sudah tertarik dan sudah kangen dengan suasana di kota kecil Hans sehingga Dia memutuskan untuk menemani Hans suaminya sekalian berlibur ke kampung Hans.


Karena itulah, Hans memboyong semua keluarga kecilnya pergi ke kampung halaman. Kali ini mereka berempat karena anak kedua Hans telah lahir. bayi kedua Hans merupakan seorang cewe dan Dia menamainya Minggas untuk mengenang almarhum kakanya. Karena kematian pak Mingguslah, Istrinya menyetujui untuk mereka mempunyai anak kedua mereka.


Rio dan Pak Mimin menjemput mereka di bandara. Rio sangat senang dengan kedatangan pamannya mengunjungi mereka. Dia sudah sangat kangen dengan mereka. soalnya, selama ini dia benar - benar merasa kesepian di rumah bersama ibunya setelah kematian ayahnya.


Rio sangat Gemas dengan bayi Minggas yang baru berumur 1 tahun lebih itu sehingga Dia langsung mengambil sepupunya itu dari gendongan Ria bibinya. Dengan gemas Dia menggendong dan menciumnya tanpa mempedulikan paman dan bibinya maupun Randy yang sudah semakin besar.


Mereka langsung menuju ke rumah Rio, karena sudah di tunggu oleh bunda Rida di rumah. Dalam perjalanan, Rio terus menimang sepupunya itu sambil bercanda dengan bayi Minggas hingga membuat bayi Minggas terus tertawa kegirangan.


Melihat itu membuat Hans langsung menjatuhkan air matanya. Dia tidak dapat menahan kesedihannya ketika melihat Rio, Karena Rio begitu mirip dengan kakanya. Hal itu membuat Hans langsung teringat akan mediang kakanya serta kedua orang tua mereka yang sudah sama - sama di panggil Tuhan.


Ria hanya bisa memeluk suaminya sambil menghiburnya karena Rio juga sudah ikutan menangis bersama pamannya. Dia langsung kembali teringat akan mediang ayahnya ketika melihat Hans pamannya menangis. Namun berbeda dengan bayi Minggas yang terus tertawa melihat Rio dan Hans menangis sehingga mereka langsung terhibur dengan tawa bayi minggas itu.


Setibanya dirumah, Hans langsung memeluk bunda Rida sambil menangis. Karena Rumah itu selalu mengingatkan Hans akan mediang kakanya dan juga kedua orang tuanya dan membuat Hans tidak bisa menahan kesedihannya.


Setelah suasana lebih tenang, Bunda Rida mengajak mereka untuk menikmati minuman dan juga snack yang sudah sejak tadi Dia siapkan untuk menyambut kedatangan mereka. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap seperti dulu sebelum Pak Minggus meninggal.

__ADS_1


Rio lalu mengajak kedua sepupunya mengelilingi kota kecil mereka guna mengenalkan kota kecil mereka pada kedua sepupunya yang baru datang dari kota besar. Rio benar - benar ingin menyenangkan hati kedua sepupunya tersebut. Dia tidak ingin kedua sepupunya itu merasa tidak nyaman di kampung mereka sendiri.


Rio ingin menunjukan kepada mereka bahwa betapa nyaman dan amannya kota kecil mereka. Dia ingin membuat sebuah kesan yang baik untuk kedua sepupunya itu sehingga mereka tidak akan mudah melupakan kota kecil mereka meskipun mereka tinggal di kota besar.


Hans tidak ingin ada keluhan lagi tentang Rio pada dirinya sehingga membuatnya cemas. karena akan susah bagi dirinya untuk mengawasi Rio, jika mereka tinggal berjauhan. Dia benar - benar ingin membawa Rio ikut bersamanya sehingga Dia bisa merawat Rio disana.


Hans lalu bertanga mengenai alasan Rio menolak untuk ikut bersama mereka ke jakarta


"ayo nak. ke Jakarta dan tinggal bersama paman dan bibi disana" ajak Hans pada Rio


"maaf paman, aku gk bisa" sahut Rio


"tapi kemarin kamu mau, nak. kamu adalah satu - satunya keturunan dari saudara kandungku, Rio. Kakaku kini sudah pergi, aku ingin menjaga dan melindungimu nak. aku gk mungkin menjagamu, jika kita berjauhan nak" sahut pamannya yang sudah mulai menangis


"aku tau dan ngerti itu paman. tapi kalau kita semua sudah pergi ke Jakarta, siapa yang akan mengurus perkebunan keluarga kita serta semua yang sudah ada dan terpelihara disini, paman ?" sahut Rio yang mulai ikutan menangis sambil memohon pada pamannya


"paman ngerti kan, Maksud Rio ?" tanya Rio pada pamannya


"iya nak. paman ngerti sekarang. jangan lupa sama aku, bibimu dan juga 2 saudara kecilmu ini ya, nak" sahut Hans sambil merangkul kedua anaknya dan juga istrinya.


"iya paman. Darah tidak mungkin berbohong paman. seperti apapun mereka, mereka tetaplah saudaraku, paman" sahut Rio menghibur pamannya.


"terima kasih sudah menghibur pamanmu ini Rio" sahut Hans pada Rio


"iya paman. sama - sama paman. jangan terlalu larut dalam kesedihan, sehingga bapa bisa beristrahat dengan tenang disana" sahut Rio

__ADS_1


"iya nak. Paman akan berusaha sebisa paman" sahut Hans


Bunda Rida hanya bisa menangis melihat kasih sayang yang di berikan Hans pada putra semata wayangnya itu.


"Dek..... kamu gk usah kwatir. aku akan merawat anak kakamu disini dengan sepenuh hatiku. Dia juga darah dagingku, Hans" sahut Bunda Ridaa


"iya ka. aku titip ponakanku pada kaka ya. jangan lupa untuk selalu mengabarkan keadaannya padaku ya, ka" sahut Hans sedikit memohon


"iya dek. aku akan selalu mengabarkannya padamu" sahut bunda Rida memastikan pada Hans ade iparnya


"kalau kamu lagi kesusahan jangan lupa hubungi pamanmu ini ya, nak" kata Hans pada ponakannya


"iya paman" sahut Rio


"Ayo, kita sama - sama ke ruang makan untuk makan siang. makanannya sudah disiapkan" ajak Bunda Rida pada mereka


"ayo bibi" ajak Rio pada bibinya Ria yang sejak tadi hanya bisa menangis melihat kedekatan antara suaminya dan Rio keponakan mereka.


Setelah makan siang, mereka mengobrol bersama di ruang tamu karena sore harinya mereka akan menengok perkebunan keluarga mereka bersama - sama sekaligus syara ke pemakaman keluarga mereka.


Melihat kesungguhan Hans yang ingin membawa Rio ke jakarta membuat seluruh pekerja perkebunan mereka merasa kwatir. mereka semua mulai berdatangan ke rumah Rio untuk sebisa mungkin menahan kepergian Rio.


Istri Hans sangat panik karena ketika keluar, sangat banyak tamu yang ada di depan rumah tanpa di undang seakan ingin berdemo. Dia sangat kwatir dan berpikir kalau tadi Rio dan kedua sepupunya telah membuat keributan di luar sewaktu mereka jalan - jalan sehingga membuat warga ingin memarahi mereka.


Ternyata mereka semua datang hanya untuk meyakinkan Hans kalau Rio akan baik - baik saja disini bersama mereka. Hans sudah tinggal di kota yang sangat jauh, mereka tidak ingin Rio juga ikut kesana bersama Hans. Mereka ingin salah satu dari keluarga mereka tetap tinggal disini bersama mereka.

__ADS_1


Mereka benar - benar serius ingin mempertahankan Rio untuk tetap tinggal disini bersama mereka. Mereka juga mengatakan bahwa, kemarin di saat Rio berada dalam masa sulit, Dia tidak benar - benar sendirian. Mereka selalu menemani Rio. Bahkan orang yang kemarin mengabarkan keadaan Rio pada Hans juga turut hadir disana untuk meyakinkan Hans.


Mereka semua memastikan pada Hans kalau Rio keponakanya akan baik - baik saja disini bersama mereka sehingga Hans tidak perlu mencemaskannya. Itu janji mereka pada Hans dan juga keluarga kecilnya yang sedari tadi berada di samping Hans.


__ADS_2