
Setelah sejam lebih mereka beristrahat di Warung Kopi tersebut, Hans mengajak mereka semua untuk melanjutkan perjalanan mengingat perjalanan mereka yang masih cukup jauh.
Melihat Randy yang tampak lelah karena baru pertama kali melakukan perjalanan darat yang jauh membuat Rio akirnya memilih untuk lanjut menyetir mobil Randi.
Dia takut Randi tidak fokus karena ngantuk juga keletihan sehingga bisa menyebabkan mereka kecelakaan. Randi hanya mengangguk sambil meminta maaf karena Dia benar - benar tidak fit untuk menyetir mobil.
Mereka lalu meneruskan perjalanan mereka, Hans yang mengetahui jika Rio masih menyetir menyuruh sopir sewaan mereka untuk tidak terlalu ngebut karena Dia kasihan juga pada Rio yang sudah sejak tadi menyetir mobil. Dia tidak ingin mereka kecelakaan karena Rio telat mengontrol mobil yang di kendarainya.
Beberapa Jam perjalanan, sampailah mereka di Rumah Kedua Orang Tua Ria bibinya. Ternyata Rumah mereka cukup besar dan halaman Rumah mereka juga sangat Luas. Rumah kedua orang tua Ria bercorak seperti bangunan khas peninggalan Belanda dulu namun Sudah tersentuh sedikit dengan modern klasik sehingga terlihat sangat Indah.
Rumah Pak Frengki
Rio dan Susan sangat terperangah melihat tampilan Luar dari Rumah Kedua Orang Tua Ria Karena Rumah yang sangat bagus dan Bersih. Semua tampak terawat sehingga kelihatan sangat Rapi. sejenak Rio tertegun, Dia tidak menyangka bahwa Bibinya mempunyai Rumah yang sangat bagus di kota kelahirannya.
Mereka langsung di hampiri oleh pembantu yang bekerja di rumah Kedua orang Tua Ria dan langsung mempersilakan mereka untuk masuk karena mereka sudah di tunggu oleh ayah dan ibu Ria di dalam Rumah. Kedua Orang Tuanya tidak bisa keluar menjemput Rombongan Ria karena ibunya yang masih terbaring lemah di Kamar mereka.
Ria Langsung mempersilakan Rio dan Susan yang sejak tadi terpukau melihat Rumahnya untuk segera masuk ke dalam karena sudah di tunggu kedua orang tuanya di dalam rumah.
Mereka lalu berjalan beriringan memasuki rumah kedua orang tua Ria. Rio sedikit canggung memasuki Rumah Ria begitu juga dengan Susan, Meskipun mereka di sambut ramah oleh orang yang mereka dapati di rumah itu.
Di dalam Rumah, Mereka medapati ibunda Rio yang sedang terbaring lemas di Tempat tidurnya dan ayahnya Ria yang sedang duduk di samping istrinya. Ayah Ria langsung berdiri menghampiri mereka dan mengucapkan selamat datang di rumah mereka dengan Ramah
"Kamu sudah disini, Ria" sapa ayahnya sambil menyalami mereka satu persatu dan memperkenalkan dirinya dan juga istrinya yang lagi terbaring di tempat tidurnya
"iya pa. maaf sedikit lama pa, soalnya kami menggunakan perjalanan darat pa. oh iya pa.... aku ajak serta Rio keponakan Hans yang kemarin sempat Ria ceritakan pada papa" jawab Ria pada ayahnya
"oh iya. selamat datang di rumah bapa nak. Buatlah dirimu senyaman mungkin di rumah ini" Jawab Ayah Ria sambil melihat ke arah Rio
__ADS_1
"terima kasih pak" jawab Rio mengangguk pada ayah Ria
"Gas.... tolong tunjukin tempat mereka untuk beristrahat. mereka pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan yang panjang" perintah ayah Ria pada seorang pembantu mereka yang sedang berdiri disitu
"iya pak. ayo mari ikut saya" Ajak bagas pada Rio, Susan, Randy dan Minggas sedangkan Hans dan Ria masih disitu menemani ibu Ria dan juga ayahnya
Ibu dari Bibi Ria bernama Bu Hanna sedangkan Ayahnya Pak Frengki. Rio mengetahui kedua nama mereka karena sewaktu bersalaman tadi, mereka saling berkenalan satu dengan yang lainnya.
Ternyata Rumah Pak Frengky cukup luas dan mempunyai banyak kamar sehingga mereka di persilakan untuk menempati kamar Masing - masing namun Susan meminta untuk sekamar sama Rio dan pak Bagas hanya menuruti permintaan Susan.
Rio yang sudah sangat keletihan Langsung berbaring di tempat tidur tanpa menunggu perintah lagi begitu juga dengan Susan. Mereka berdua sangat ngantuk dan Lelah karena semalam tidak tidur. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi mengenai dimana mereka karena saking lelahnya.
Siang harinya Minggas datang membangunkan mereka karena makan siang sudah di siapkan dan mereka juga sudah di tunggu oleh opanya Minggas dan juga ayah ibunya begitu juga dengan omanya di ruang makan. Karena kesenangan melihat Ria beserta Suaminya dan Cucu - cucunya datang mengunjunginya, Bu Hanna memaksakan diri menggunakan Kursi roda ke ruang makan untuk ikut Makan Siang bersama mereka.
Rio dan Susan yang baru terjaga langsung bersamaan menyerbu kamar mandi untuk membasuh muka bersama - sama karena mendengar mereka sudah di tunggu di ruang makan.
Di ruang makan, Ria mengatakan kalau hari ini mereka hanya bersantai saja di rumah melepas keletihan mereka karena baru habis melakukan perjalanan yang jauh. keesokan harinya barulah mereka akan di ajak berkeliling kota kelahirannya seperti Rio dulu yang mengajak mereka mengelilingi Kota kecil mereka, Ria juga ingin melakukan Hal itu pada Rio.
Setelah makan Siang, mereka sama - sama menuju Ruang keluarga untuk bercerita disana bersama Bu Hanna. Dia tidak ingin kembali ke tempat tidur dan berbaring disana karena badannya semua pada pegal kalau terus berbaring.
Di Ruang keluarga, Rio baru dengan jelas mengetahui kecelakaan apa yang di alami ibunya Ria karena sewaktu mereka tiba tadi, Dia begitu keletihan dan juga kecapaian sehingga Dia tidak terlalu memperhatikan keadaan Ibunda Ria.
Mereka lalu duduk bersama Bunda Hanna dan bercerita dengannya mengenai bagaimana kejadiannya hingga Dia terkena gigitan Ular tersebut. Ketika di ceritakan pada Mereka, bukannya mereka sedih, malah ketawa karena kejadiannya cukup lucu sehingga membuat mereka semua menjadi tertawa. Bahkan Bu Hanna juga ikut tertawa ketika mengingat kembali kejadian yang menimpanya kemarin.
Sore harinya, Pak frengki mengajak mereka semua untuk bersantai di halaman depan Rumah mereka sekaligus menikmati buah jeruk Belanda di depan Rumah mereka yang kebetulan buahnya sudah Ranum dan sudah siap untuk di makan.
Itu adalah pertama kalinya Rio mencicipi Jeruk belanda. Ternyata aromanya Cukup wangi dan juga rasanya tidak kalah sama aromanya. Ukuran buah jeruk belanda juga sedikit lebih besar dari dari jeruk lemun manis lainnya yang biasa di temui di pasar namun tidak sebesar jeruk bali.
Rio sangat senang mencicipi jeruk tersebut hingga beberapa Buah Dia habiskan sendiri, begitu juga dengan Susan dan yang lainnya. Karena mencicipi buah jeruk itu secara beramai - ramai membuat buat jeruk yang manis itu menjadi semakin manis.
__ADS_1
Rasanya yang enak juga aromanya yang sangat Wangi membuat Rio sangat tertarik pada Jeruk tersebut dan langsung bertanya pada Pak frengki karena Dia tertarik untuk memelihat buah Jeruk belanda di perkebunan miliknya.
Pak Drengki yang kebetulan sangat senang dengan jeruk Belanda tersebut langsung menjelaskannya pada Rio, apa yang di ketahui tentang jeruk belanda tersebut pada Rio. jeruk itu cukup langkah dan susan untuk di cari bibitnya kata Pak Frengki.
Rio terus bertanya kepada Pak Frengki mengenai jeruk tersebut hingga membuat Pak Frengki sedikit heran dan bertanya apa niat Rio yang sangat ingin tau mengenai jeruk belanda tersebut.
Rio lalu menjelaskan kepada Pak Frengki mengenai perkebunan Buah miliknya di kota kecil mereka serta niatnya yang ingin menanam beberapa pohon di perekebunan miliknya.
Pak Frengki sangat terkejut dan juga tercengan karena anak muda seperti Rio sudah mempunyai usaha sendiri. Dia tidak menyangka bahwa keponakan mantunya ini ternyata seorang pengusaha muda di kotanya.
Dengan semangat Pak Frengki lalu menjelaskan kepada Rio mengenai jeruk belanda tersebut serta cara merawatnya sesuai yang Pak Frengki ketahui, karena kebetulah Pak Frengki juga suka memelihara tanaman meskipun sebenarnya dia adalah seorang peternak sapi.
Hans yang melihat Rio sangat akrab dengan Pak Frengki bahkan selalu ada senyum dan tawa kecil di selah obrolan mereka sedikit terkejut karena Pak Frengki bukan tipikal orang yang ramah dan baik. bahkan meskipun sudah menikah dengan anak gadisnya pak Frengki, Dia hingga saat ini belum akrab atau dekat dengan pak Frengki.
Karena Pak Frengki orang yang pendiam dan juga sedikit cuek. Hal itu membuat Hans selama ini sangat susah untuk berdekatan sama Pak Frengki, Bahkan Dia terkesan sanga segan dengan pak Frengki.
Ingin rasanya Dia menghampiri mereka dan bercerita bersama mereka namun Dia masih segan sehingga memilih untuk tetap bersama Bu Hanna, Ria, Susan serta anak - anaknya menikmati buah jeruk tersebut sambil bercanda bersama ketimbang mengganggu obrolan ayah mertua sama keponakannya.
Akan tetapi dalam hati Dia mengagumi Rio keponakannya yang mampu berbicara dan akrab sama ayah mertuanya. begitu juga dengan Bu Hanna dan juga Ria yang ikutan kaget melihat keakraban Rio dengan Pak Frengki, karena tidak seperti biasanya Pak Frengki seperti itu.
Ria yang melihat keakraban ayahnya dan juga Rio dan juga obrolan mereka yang sangat asyik membawa lagi jeruk untuk mereka berdua cicipi karena jeruk yang mereka petik cukup banyak dan semuanya ada pada mereka.
Mereka bersantai di depan Rumah hingga sore hari. Pembantu di rumah pak Frengki menawarkan mereka untuk kembali ke dalam Rumah menikmati Teh seperti kebiasaan keluarga pak Frengki yang setiap sore selalu minum teh bersama.
Namun Rio meminta untuk di bawakan saja ke depan dan Dia meminta untuk di buatkan kopi karena dia tidak terlalu menyukai Teh. Pak Frengki menyetujui permintaan Rio tersebut sehingga membuat Hans, Ria dan Bu Hanna semakin kaget. Mereka tidak menyangka Pak Frengki yang di kenal sebagai orang yang berwatak keras mengubah kebiasannya demi memenuhi permintaan Rio.
Namun mereka tidak berani menegur, Mereka hanya melihat ke arah satu sama lain sambil tersenyum kecil. Bahkan ekpresi kecewa atau marah tidak tampak pada wajah Pak Frengki ketika Rio mengubah kebiasaan Pak Frengki tersebut. Pak Frengki malah senang dan selalu menikmati obrolannya bersama Rio.
Sore hari itu merupakan sesuatu yang sangat berbeda pada keluarga Pak Frengki, Mulai dari Pak Frengki menyuruh mereka memanen Pohon jeruk kesukaannya, mengobrol dengan akrab bersama orang lain hinggga mengubah kebiasaan minum teh mereka.
__ADS_1
Itu sesuatu yang sangat berbeda dari Pak Frengki yang biasanya. Bahkan yang bekerja di rumah merekapun ikut di bagikan buah jeruk yang baru saja mereka petik tadi. Semua tampak bahagia dan dipenuhi dengan senyuman di rumah Frengki sore itu.
Bu Hanna seperti sudah melupakan Rasa sakitnya itu karena Dia sangat menikmati kebersamaan mereka sore hari itu meskipun masih terduduk di kursi roda yang sudah di sediakan untuknya.