
Banyak yang cerita yang di bawa Susan buat bunda Rida ketika mereka pulang dari liburan. Hampir semua yang mereka lalukan di bali di ceritakan pada Bunda Rida karena Susan kini sudah sangat akrab dengan Bunda Rida ibunya Rio.
Bunda Rida sangat senang melihat Susan bahagia bersama Rio sehingga Dia begitu Antusias mendengar cerita dari Susan tentang liburan mereka. Dia hanya menasehati Susan agar menjaga dan menemani Rio ketika Dia tiba – tiba di panggil Tuhan lebih cepat.
Susan langsung sedih mendengar pernyataan mertuanya sehingga bunda Rida cepat mengalihkan obrolannya. Hampir setiap Hari ketika Rio tidak di Rumah, Susan selalu menghabiskan waktu bersama bunda Rida mertuanya.
Bunda Rida juga mulai memberitahu tentang kebiasaan Rio serta apa yang perlu di persiapkan kalau seperti itu. Susan mendengarkannya dengan cermat karena Dia berusaha ingin menjadi istri yang terbaik buat Rio suaminya.
beberapa bulan setelah Rio menikah, Bunda Rida meninggal dunia akibat penyakit yang di deritanya. Kepergian ibunya meninggalkan luka yang begitu dalam pada rio. Rio sangat sedih dan terpukul dengan kematian ibunya.
Rio sangat sedih karena ibunya tidak bisa menunggu hingga cucu dalam kandungan Susan lahir. Hal itu semakin menambah kesedihan pada Rio. Dia tidak menyangka bahwa ibunya bisa pergi secepat itu meninggal Dia dan istrinya yang baru beberapa bulan Dia nikahi.
Mendengar berita kematian bunda Rida, Hans dan istrinya langsung pulang ke kampung. Mereka sangat mengkwatirkan keadaan Rio dan istrinya yang baru saja dinikahi. Mereka tidak ingin sesuatu yang terjadi pada Rio.
Mereka tidak di jemput di bandara karena semua sibuk dengan kematian Bunda Rida termasuk pak Mimin. Mereka akhirnya menggunakan taksi untuk menuju kerumah Rio. Mereka tidak ingin Rio sendirian melewati masa sulit ini bersama istrinya.
Ini merupakan bentuk tanggung jawab dari Hans paman Rio yang merupakan satu – satunya keluarga Kandung Rio yang masih Hidup di dunia ini setelah kematian ibunya. Karena itu, kehadirannya akan sangat membantu menenangkan hati Rio.
Paman dan bibinya datang ke kampung Halaman mereka untuk menemani Rio hingga jasad ibunya di makamkan nantinya. Kedua sepupu Rio tidak bisa ikut karena kebutulan mereka lagi berhalangan. Rio begitu senang dan terhibur dengan kehadiran mereka.
Disana mereka selalu menghibur Rio dan menemaninya bersama Susan. Mereka berusaha sebisa mungkin menenangkan pikiran Rio dan menyadarkannya sehingga Rio tetap tenang menghadapi semua cobaan yang sedang di hadapi bersama istrinya.
Hans tidak ingin Rio menelantarkan Susan dan anak dalam kandungannya karena larut dalam kesedihan. Hans ingin Rio kuat menghadapi semua ini karena saat ini Dia punya tanggung jawab terhadap istrinya dan juga bayi yang di dalam kandungannya.
Nasehat yang di berikan Hans pada Rio sangat di terima oleh Rio sehingga Dia mulai tenang dan bisa menerima keadaan. Bahkan dia sempat keluar menerima tamu yang datang melayat kerumah mereka untuk menyapa mereka.
Rio sudah tegar menghadapi semuanya ini, tidak seperti kematian ayahnya dulu. yang begitu meninggalkan duka yang dalam bagi Rio. Sehingga untuk menengok orang yang hadir melayat jasad ayahnyapun tidak.
Setelah memakamkan jenasah bunda Rida, Hans dan istrinya langsung kembali ke jakarta karena mereka Cuma cuti empat hari. Mereka tidak ingin bolos dari kantor, karena itu akan menjadi masalah bagi mereka di kantor nantinya.
Sebelum mereka kembali ke Jakarta, Hans berpesan kepada Susan istrinya yang baru saja Dia nikahi dan Pak Mimin agar menghibur Rio. Hans tidak ingin kejadi kemarin menimpa Keponakannya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Susan beserta keluarga besarnya dan juga Pak Mimin memastikan kepada Hans dan istrinya bahwa Rio akan baik – baik saja disini. Mereka akan menjaga dan menemani Rio melewati masa – masa sulit yang di hadapi Rio saat ini.
Rio bersama Istrinya yang sedang Hamil serta Pak Mimin dan keluarga lainnya mengantar Hans dan Bunda Ria ke bandara untuk kembali ke jakarta. Karena mereka mengambil cuti Cuma 4 hari sehingga mereka harus pulang agar bisa kembali bekerja.
Rio sangat sedih melepas kepergian Hans Pamannya yang akan kembali ke Jakarta bersama Bunda Ria Istrinya. Dia seakan kehilangan sosok orang tua dan juga orang terdekatnya yang sudah di anggap sebagai ayahnya sendiri.
Rio juga tidak bisa menahan kepergian mereka sehingga Dia hanya pasrah dengan semua yang terjadi dengan sedih dan Air mata begitu juga dengan pamannya yang begitu sedih melihat Rio sedih melepas kepergiannya.
Ingin rasanya dia tetap menemani Rio melewati masa – masa sulitnya ini. Namun dia terikat akan pekerjaan sehingga Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dia hanya berpesan agar Rio bermain – main ke jakarta bersama Susa istrinya.
Hans hanya berpesan agar setelah urusannya disini selesai, Dia berlibur ke jakarta bersama istrinya di sana. Hans sangat mengharapkan itu. Dia ingin Rio bisa pergi menghibur diri dan melepas kesedihan Rio disana bersama pamannya.
Rio hanya mengangguk pertanda setuju dengan permintaan pamannya. Ketika dalam perjalan pulang, Rio terlihat sangat murung dan bersedih sehingga di hibur oleh Susan katanya
“Io jangan bersedih ya. masih Ada aku, Papi, Mami sama anak kita yang akan selalu ada di sampingmu” hibur Susan pada suaminya sambil membelai perutnya yang semakin membesar
“Iya San, aku tau itu” sahut Rio dengan lemah
“Hmmm.... kamu terlalu jauh mikirnya San. Aku gk sebodoh yang kamu pikirkan” sahut Rio sambil mengucup perut istrinya
“terima kasih ya pak. Aku sama Mama akan selalu ada Buat papa” ucap Susan mengatasnamakan bayi yang ada dalam kandungannya
“iya sama – sama nak. papa sayang kamu dan juga ibumu. terima kasih sudah menghiburku, San” sahut Rio pada Istrinya
“itu sudah kewajibanku sebagai istri, Io”
“iya San. Aku tau itu” sahut Rio sambil mengecup keningnya
Karena tidak menginginkan Hal yang sama terjadi pada Rio, Susan istrinya Rio yang baru saja dia nikahi beberapa bulan yang lalu berusaha untuk selalu ada buatnya dan juga selalu menghiburnya. Begitu juga dengan Pak Mimin.
Pak Mimin juga selalu berusaha menghibur Rio agar tidak berlarut – larut dalam kesedihan. Dia tidak ingin kesedihan Rio membuatnya terpuruk dan semua tanggung jawabnya saat ini berantakan. Itu sangat tidak di inginkan Pak Mimin.
__ADS_1
Di saat sendirian dengan Rio pak mimin menasehati Rio katanya
“jangan larut dalam kesedihan. Masih ada bapa disini bersama kamu dan isrtimu nak” hibur Pak Mimin pada Rio
“iya pa. Aku tau itu”
“terima kasih ya pak. Sudah ada buat aku dan istriku”
“iya, sama – sama. itu sudah tugasku Nak”
“iya pa. Rio paham itu”
“jangan bertindak yang aneh – aneh ya. Sekarang kamu sudah punya tanggung buat istri kamu, anak yang didalam kandunganmu juga orang yang sudah mempercayai kamu”
“iya pak. Terima kasih ya, sudah mengingatkanku”
“iya pak. Tolong persiapkan untuk perayaan – perayaan selanjutnya ya pak”
“iya Rio bapa akan melakukannya”
“iya pak”
“jaga perkebunan serta rumah ini ya Rio, karena ini merupakan peninggalan dari orang kakek buyutmu” nasehat Pak Mimin
“iya pak. Itu tujuanku tetap tinggal di kota kita ini” sahut Rio
“iya Rio. Terima kasih ya”
“iya pak. Sama – sama”
Sementara mereka asyik mengobrol, tiba – tiba mereka di kagetkan oleh Susan yang tiba – tiba datang membawa kopi untuk mereka berdua. Karena Susan sudah menjadi Istrinya Rio, maka kini tugasnya adalah menggantikan apa yang dulu dilakukan ibunya pada Rio.
__ADS_1