Gejolak Darah Muda

Gejolak Darah Muda
13


__ADS_3

Kematian Pak Minggus membuat Rio sangat terpukul dan kehilangan sosok yang selama ini selalu menasehatinya dan selalu ada buat Dia. Hal itu sangat mengganggu semua aktifitasnya termasuk sekolahnya.


Di tambah desas - desus kemarin yang semakin menyebar luas membuat Dia semakin kebingungan. Semua opini tersebut selalu menghantui kemanapun Rio pergi. Hal itu membuatnya semakin frustasi sehingga Dia terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat.


Rio lebih sering keluar untuk bersenang - senang di luar bersama teman - temannya ketimbang pulang ke rumah. Hanya sebentar Dia kembali ke rumah untuk berganti pakaian, setelah itu keluyuran lagi. Rio bahkan sering meninggalkan Rumah berhari - hari tanpa kabar.


Melihat kelakuan putra semata wayangnya tersebut membuat hati ibunya sangat teriris dan sakit, namun Dia selalu sabar menghadapi tingkah putranya tersebut begitu juga Pak Mimin.


Semenjak kematian ayahnya hingga saat ini, Rio belum bisa memaafkan mereka sehingga Dia tidak ingin berbicara dengan mereka, bahkan sapaan mereka saja tidak di hiraukan oleh Rio.


Rio juga sering pulang ke rumah mereka dengan kondisi terpengaruh alkohol sehingga ibunya sedikit Ragu untuk menegur atau menyapa. Dia takut Rio akan mengamuk dan melakukan sesuatu yang dapat berakibat fatal.


Di rumah juga, Rio tidak pernah berniat untuk menemui ibunya. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi, setelah itu berganti pakaian dan langsung beristrahat. Dia akan pergi ke Ruang makan untuk makan, jika tidak ada orang disana.


Pernah sekali Rio pulang ke rumah tengah malam untuk beristrahat dalam keadaan mabuk namun pintu Rumah mereka terkunci dari dalam sehingga Dia terpaksa tidur di luar hingga pagi Hari tanpa beralaskan apapun.


Ibunya sangat sedih ketika bangun dan melihat putranya tertidur di depan rumah tanpa beralaskan apapun. Hatinya sangat hancur melihat kondisi putra semata wayangnya tersebut. Seketika itu juga dia langsung teringat akan mediang suaminya yang telah meninggal sehingga tanpa sadar Air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


'jika saja ayah masih hidup, mungkin keadaan kamu tidak seperti sekarang, nak.' kata bunda Rida dalam hatinya sambil membelai mesra kepala putra semata wayangnya yang masih tertidur pulas. Dia langsung menyuruh Pak Mimin dan beberapa pekerja yang kebetulan ada disitu untuk membopong Rio menuju kamarnya. Dia tidak ingin anaknya tertidur di teras rumah mereka.


Sejak kejadian itu, Bunda Rida tidak pernah mengunci pintu Rumah mereka. Rumah mereka di biarkan tidak terkunci sehingga Rio bebas keluar masuk rumah mereka dan tidak ketiduran di luar seperti kejadian kemarin malam. Dia tidak ingin kejadian malam itu terjadi lagi pada putra semata wayangnya.


Semenjak kejadian itu juga, Pak Mimin semakin lebih ketat menjaga dan memperhatikan Rio. Selama ini Rio memang selalu di ikuti semua gerak - geriknya, namun tidak begitu ketat sehingga membuat kejadian seperti kemarin bisa terjadi.


Dia tidak ingin kejadian seperti kemarin terjadi lagi pada Rio sehingga Dia semakin ketat memperhatikan segala aktifitas Rio di luar sehingga Dia lebih Mudah mengetahui segala sesuatu tentang Rio dan dapat mengantisipasi segala sesuatu yang akan terjadi pada Rio.


Bunda Rida hanya menangis melihat perubahan Rio sekarang. Dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan berharap Tuhan bisa menyadarkan Putra semata wayangnya agar Dia bisa menjadi seperti pribadinya yang dulu lagi.


Melihat kehidupan Rio yang berantakan sekarang membuat Bunda Rida stres dan jatuh sakit. Namun Bunda Rida tidak ingin di bawah ke rumah sakit dan memilih menyembunyikan penyakit yang di deritanya sekarang.


Dia tidak ingin orang - orang mengetahuinya dan semakin menyalahkan Rio hingga membuat imagenya semakin buruk di mata semua keluarga besar mereka.

__ADS_1


Rio tidak terlalu mempedulikan kondisi ibunya yang sedang sakit Ketika di beritahukan oleh Pak Mimin. Dia hanya menengok ibunya sebentar lalu pergi lagi. Rio hanya menitip pesan pada Pak Mimin untuk menjaga Bunda Rida.


Hanya sesekali Rio datang menengok ibunya tanpa sedikitpun berbicara lalu pergi lagi. semua itu karena Rio masih sangat kecewa dengan ibunya yang sudah menyembunyikan penyakit ayahnya dari dirinya.


Bunda Rida hanya meminta agar dirinya di rawat di rumah saja. 3 hari sekali, Dokter mengunjungi Rumah mereka untuk mengecek keadaan Bunda Rida. Selama Bunda Rida sakit, Pak Minggus dan tetangga mereka selalu bergantian datang menghibur serta merawatnya.


Hidup Rio sangat berantakan setelah kematian Ayahnya. Tidak ada yang mampu menasehati Rio. Banyak yang sudah mencoba menasehatinya namun selalu di tolak oleh Rio. Rio benar - benar kehilangan arah, bahkan Prestasinya di sekolah juga menurun drastis.


Banyak Hal yang sudah bunda Rida lakukan untuk menyadarkan Rio, Namun selalu gagal sehingga Diapun mulai menyerah dan menelpon Hans untuk membantu menyadarkan Rio. Dia tidak ingin melihat hidup Rio semakin berantakan.


Bunda Rida lalu menghubungi Rio menggunakan telpon Rumah Milik mereka


"Halo Hans, ini sama Bunda Rida" sapa Bunda Rida pada Hans


"iya kak. bagaimana kabar kalian berdua di rumah kak ?" sahut Hans yang sangat antusias menerima telpon dari kakak iparnya, karena sudah lama tidak terjalin kontak antar mereka


"Baik dek. Cuma ponakanmu dek" sahut Bunda Rida dengan suara yang sudak serak karena menangis


"semenjak kepergian kakamu, Rio kini sangat berubah dek. Dia selalu menghabiskan waktu di luar ketimbang di rumah. Dia juga sering mabuk - mabukan. prestasinya di sekolah juga menurun drastis. Dia juga sering meninggalkan rumah berhari - hari tanpa kabar. Kaka sangat mengkwatirkan dirinya, Dek" sahut bunda Rida dengan terbata - bata karena sudah tidak bisa menahan isak tangisnya.


"terus pak Mimin gimana, kak ?" sahut Hans yang mulai panik mendengar isak tangis kaka iparnya


"aku juga gk bisa ngapa - ngapain menghadapi Rio, Hans. Dia benar - benar tidak ingin mendengarkan siapapun" Sahut Pak Mimin yang kebetulan ada di samping Bunda Rida


"ya Tuhan. ko bisa, kejadiannya seperti ini" sahut Hans yang mulai ikutan panik


" kaka sudah gk tau gimana cara menghadapinya, makanya kaka menghubungi kamu, Hans" sahut Binda Rida


"iya ka. aku juga sudah mendapat informasi serupa dari keluarga kita disitu ka. aku pikir itu hanya gurauan dari mereka, makanya aku tidak terlalu mempedulikannya" sahut Hans


"gk Hans. itu semua benar, dek"sahut Bunda Rida meyakinkan Hans

__ADS_1


"iya kak. aku percaya sekarang. nanti, aku akan menasehatinya kak. jaga kesehatanmu ya kak" sahut Hans


" kamu juga Dek" sahut Bunda Rids


"iya kak. jangan bersedih lagi kak. aku akan berusaha untuk menasehatinya kak" sahut Hans memastikan keluhan kaka iparnya


"iya dek. salam buat semu keluargamu ya" sahut bunda Rida


"iya. salam juga buat semua di rumah. aku tutup telponnya ya, kak" sahut Hans yang sudah tidak sabar ingin menghubungi Rio


"iya Hans" Sahut bunda Rida lalu mematikan telfonya.


Setelah Mendapat informasi dari Bunda Rida, Hans langsung menghubungi Rio. Namun Rio sangat susah untuk di hubungi. Ketika Hans berhasil menghubungi Rio, Rio hanya menjawab Hans dengan tangisan tanpa banya bicara setelah itu menutup telponnya lagi.


Hal itu membuat Hans semakin bingung dengan kondisi Rio. Dia benar - benar tidak tau apa yang harus Dia lakukan. Ingin rasanya Dia berjumpa dengan keponakan yang paling Dia sayangi itu dan berbicara empat mata dengannya, namun apalah daya. jarak antara mereka cukup jauh di tambah lagi dengan kesibukannya yang sangat padat di kantor sehingga Hans Mengurungkan niatnya tersebut. Dia hanya bisa pasrah, berharap semua akan baik - baik saja.


Rio juga selalu membuat keonaran di sekolah sehingga banyak keluhan yang datang dari sekolah kepada Bunda Rida tentang perilaku Rio di sekolah. Bahkan ada beberapa guru yang masih kerabat mereka datang mengunjungi Bunda Rida untuk menyampaikan keluhan tersebut.


Bunda Rida hanya bisa meminta pihak sekolah untuk mengerti dengan kondisi Rio dan Dia yang sedang kehilangan arah semenjak di tinggal pergi Pak Minggus. Karena Dia juga lagi berusaha untuk mengembalikan mental Rio yang sedang jatuh semenjak ayahnya meninggal.


Rio beberapa kali melakukan pelanggaran berat hingga terancam keluar dari sekolah. Namun itu tidak sampai terjadi mengingat mediang ayahnya, sehingga Dia tetap di pertahankan di sekolah tersebut. Banyak dari Guru mereka yang sangat kasihan melihat Kondisi Rio saat ini sehingga mereka membantu menasehatinya, namun Rio sama sekali tidak mempedulikannya.


Mereka akhirnya menyerah untuk menasehati Rio dan memilih untuk mengawasinya dengat ketat sehingga menguranginya untuk melakukan sesuatu yang berlebihan di sekolah tersebut.


Melihat kondisi Rio yang memprihatinkan semenjak ayahnya meninggal membuat semua pandangan buruk tentang Rio berubah. Semua dari mereka kini hanya berharap agar Rio bisa kembali lagi ke dirinya yang dulu. Mereka tidak ingin semua ikut berantakan karena hidup Rio yang berantakan sekarang.


Melihat kondisi ibunya yang berantakan dan tidak terawat sekarang membuat Rio semakin bersedih. Dia semakin bingung, apa yang harus Dia lakukan sehingga membuatnya semakin ingin mabuk - mabukan. Hanya itu yang bisa menghilangkan semua rasa frustasinya.


Rio juga kini sudah malu bertemu dengan ibunya maupun Pak Mimin. Hal itu justru semakin memisahkan jarak antar Rio dengan Pak Mimin dan juga Bunda Rida.


Hal itu terus berlanjut hingga Rio naik kelas 3 Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Banyak dari guru - guru maupun orang - orang yang menyayangi Rio yang mencemaskan kondisi Rio saat ini karena mereka takut Rio tidak lulus Ujian Akhir Nasional ( UAN ) nantinya, terutama guru - guru di sekolah Rio.

__ADS_1


Akan tetapi tidak dengan Bunda Rida. Dia selalu meyakinkan mereka agar percaya pada putranya, karena Dia yakin putranya pasti bisa. Dia sangat meyakini itu, Karena semenjak kecil, Rio sudah tumbuh menjadi pribadi yang cerdas.


__ADS_2