
Di saat makan malam, paman Hans membaca surat yang di berikan petugas tadi. Ternyata jadwal untuk Tes masuk ke sekolah tersebut tinggal seminggu lagi. Hans langsung memberitahukan Hal itu pada Rio sehingga dia bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti tes itu.
Rio hanya mengangguk ketika ditanya pamannya mengenai kesiapannya mengikuti tes masuk sekolah tempat mereka daftar siang tadi. Dia begitu mengagumi sekolah barunya.Rio sudah tidak sabar untuk bersekolah disitu.
Rio juga menanyakan tentang tes itu kepada paman dan bibinya, karena dia masih sedikit bingung mengenai apa yang harus disiapkan selain belajar materi Sekolah Dasar ( SD ). karena dia tidak ingin kelihatan bingung dan Linglung ketika tes nanti.
Hans dan Bibinya juga tidak tau sehingga dia meminta Rio untuk bersabar sebentar sembari Hans mencari tau mengenai apa saja yang akan di tes untuk masuk ke sekolah itu. Dia takut salah memberi tau Rio hingga menyebabkan Rio gagal dalam tes nantinya.
Hans dan Ria sebisa mungkin berusaha menggantikan posisi ayahnya buat Rio. Mereka tidak ingin membuat Rio terluka dan juga mengecewakan kedua kakanya yang sudah mempercayakan putra mereka pada Dia dan Istrinya.
Setelah mencari tau melalui teman - temannya, Hans langsung memberitahukannya pada Rio dan juga memperingatkan Rio sehingga dia serius dalam menyiapkan diri. karena agak sedikit susah untuk masuk ke sekolah tersebut.
Waktu yang di tentukan untuk tes pun tiba. Di saat makan malam, Paman Hans meminta Rio untuk percaya diri dan yakin akan kemampuannya. Dia memberi semangat pada Rio agar tidak gugup dan ragu saat menjawab semua pertanyaan yang di berikan saat tes nanti.
Hans juga mengabarkan pada Rio jika mereka tidak bisa mengantar Rio mengikuti tes besok karena mereka tidak mendapat ijin dari kantor tempat mereka bekerja. mereka baru saja meminta cuti panjang sehingga kantor tidak mengijinkan mereka untuk kembali mengambil cuti, apalagi pekerjaan yang menumpuk membuat Hans semakin ragu untuk memaksakan kehendaknya.
Rio tidak keberatan dengan itu, Dia yakin bisa pergi kesana sendirian dan menemukan ruangan yang akan dia tempati saat sesi tes nanti. Pamannya hanya memberitahu dimana ruangan tempat dimana dia akan melakukan tes serta dia berada di bangku nomor berapa.
Rio mendengar penjelasan pamannya dengan cermat. Dia tidak ingin melewatkan sedikitpun penjelasan pamannya agar Dia tidak kebingungan keesokan harinya ketika pergi mengikuti tes di sekolah barunya itu.
Setelah menjelaskan semua itu, Hans memberi semangat pada Rio sekaligus meyakinkannya kalau Dia mampu untuk pergi kesana sendirian demi menambah rasa percaya diri pada Rio. Bibinya juga ikut menyemangati Rio sehingga Dia lebih yakin dan percaya diri.
Keesokan harinya, Rio bangun lebih pagi dari biasanya. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Karena hari itu Dia akan mengikuti tes seleksi masuk di sekolah barunya. Dia tidak ingin terlambat mengikuti seleksi masuk sekolah barunya.
Sebelum berangkat kerja, Hans kembali mengingatkan Rio sehingga Dia tidak melupakan Nomor kursi dan ruangannya. Mereka pergi bersamaan, setelah menurunkan Rio di sekolahnya, Hans dan Ria langsung menuju tempat kerja mereka sembari menyemangati Rio agar sungguh - sungguh dalam mengikuti tes tersebut.
Rio sedikit gugup ketika melangkah memasuki pintu gerbang sekolah, namun dengan cepat dia teringat akan nasehat ayahnya 'Harus menguasai diri di segala situasi dan anggap itu sebagai suatu ujian yang harus di hadapi' sehingga tumbuh lagi rasa percaya dirinya dan melangkah masuk ke sekolah tersebut tanpa sedikitpun keraguan.
Rio melangkah masuk kedalam sekolah tersebut dengan penuh keyakinan bahwa Dia mampu mengikuti tes itu meskipun Dia datang dari kota kecil yang sangat jauh. Dia ingin membuktikan itu kepada paman dan bibinya yang sudah percaya padanya.
Rio langsung mencari ruangan yang akan di tempati saat mengikuti tes nanti. setelah mendapatkan ruangannya, ternyata belum ada orang di ruangan tersebut sehingga Rio memutuskan untuk menunggu di luar hingga tes di mulai. Rio menunggu di luar sambil melihat peserta lainnya yang datang di temani kedua orangtuanya.
Rio tidak berkecil hati dengan semua yang di lihatnya itu. Dia malah berpikir kalau Dia lebih hebat dari mereka karena dia sudah mandiri sedangkan mereka masih bergantung pada orang tua mereka. itu Membuat Rasa percaya diri Rio semakin bertambah.
Ketika melihat Jam tangan yang di gunakan Rio, waktu yang sudah hampir menunjukan pukul 08.00 dan banyak orang sudah berdiri menunggu di depan pintu sehingga Rio langsung beranjak dan ikut bergabung bersama mereka.
Beberapa saat kemudian, ada seorang guru yang datang membawa setumpuk kertas di tangannya dan langsung masuk ke Ruangan tempat mereka hendak mengikuti tes. Dia lalu memanggil seluruh peserta untuk masuk ke dalam ruangan.
Setelah semua masuk kedalam Ruangan, Guru itu langsung membagi soal kepada mereka. Dia meminta kepada semua perserta untuk bekerja secara mandiri dan tidak saling mencontek jawaban yang ada di samping mereka. Siapapun yang ketahuan menyontek akan di keluarkan saat itu dari ruang kelas dan di nyatakan gugur.
Rio sedikit gugup dan takut dengan pernyataan pengawas sehingga selama ujian berlangsung, Dia hanya melihat lembaran soal lalu mengisinya tanpa menengok ke samping kiri kanannya . Dia takut di usir keluar karena itu akan memalukan Paman dan bibinya juga kedua orang tuanya di kampung.
Tes tertulis mereka berjalan dengan Lancar. sebelum waktu berakir, Rio sudah selesai mengerjakan semua soal yang di berika padanya. Namun dia tidak buru - buru mengumpulkannya, Dia menunggu hingga ada orang yang mengumpul hasil jawabannya barulah dia akan menyusulnya.
Rio takut jika Dia membuat kesalahan di hari pertama mengikuti tes di sekolah tersebut. Menurutnya, itu akan sangat memalukan sehingga Dia sangat berhati - hati untuk itu. karena itu pula yang membuat Dia selalu berusaha untuk menjadi yang kedua sambil menyesuaikan diri.
Setelah mengumpulkan hasil tesnya, Rio keluar dengan wajah yang Riang karena Dia yakin bahwa Dia mampu mengerjakan hampir semua soal yang tadi di berikan kepanya. Ketika hendak pulang, Terdengar suara dari mikrofon yang memberitahukan kepada semua calon siswa baru yang baru saja mengikuti tes agar bisa kembali 2 hari lagi untuk mengikuti tes secara lisan.
Setelah mendengar pengumuman tersebut Rio langsung pulang kerumah pamannya menggunakan taksi karena di mikrofon diinstruksikan kepada mereka agar bisa langsung kembali kerumah jika sudah menyelesaikan soal yang tadi di berikan.
Dirumah, ternyata Paman dan bibinya belum pulang sehingga setelah berganti pakaian, Dia langsung menemui Randy di kamarnya untuk bermain Game bersama dengannya sambil menunggu bi surti memanggil mereka untuk makan siang. Biasanya mereka berdua makan siang sendiri di saat paman dan bibinya bekerja karena mereka selalu pulang bekerja saat sore hari.
Sepulang dari Kantor, Hans dan Ria langsung Mencari Rio untuk menanyakan tes di sekolah tadi karena mereka sangat mencemaskan Rio. Bahkan Hans tadi tidak benar - benar fokus bekerja karena selalu kepikiran terus mengenai Rio yang Dia biarkan sendirian pergi ke sekolahnya mengikuti tes.
Di Ruang keluarga, Hans langsung bertanya pada Rio mengenai ujian tesnya tadi
"gimana tes kamu tadi, nak ?" tanya Hans pada Rio
__ADS_1
"berjalan dengan Lancar paman" sahut Rio dengan santai
"apa soalnya sulit, nak ?" tanya bibi Ria
"gk ko bi. Rio bisa mengerjakan hampir semua soal tersebut" jawab Rio dengan percaya diri
"kamu yakin, Rio ?" tanya pamannya sedikit meragukan Rio
"yakin paman. Rio bisa menjawabnya" sahut Rio sambil mengangguk
"ya sudah. kita tunggu saja hasilnya" sahut bibinya mencelah mereka
"iya bi" sahut Rio singkat
"apa ada pengumuman selanjutnya" tanya bibinya lagi
"iya ada bi. 2 hari lagi akan di adakan tes secara lisan. Di mulai jan 10.00 bi" jawab Rio
"kamu nanti bisa kesana sendirian lagi kan, Rio ?" selah Hans
"iya, bisa paman" sahut Rio
"Harus bisa nak. kamu adalah anak sulung dari keluarga kita, sehingga kamu harus bisa mandiri" Nasehat paman Hans pada Rio
"iya paman" jawab Rio Singkat
"ayo istrahat sana. kamu kelihatan begitu letih" suruh bibi Ria karena melihat Rio sudah sangat ngantuk
"iya bi. Terima kasih ya" jawab Rio lalu pergi ke kamarnya
Setelah Rio pergi kekamar, Ria lanjut bercerita dengan suaminnya Hans. Mereka sangat mengagumi Rio yang begitu mandiri. Meskipun dari kota kecil yang sangat jauh. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan kehidupan kota besar seperti jakarta.
Itulah tujuanku membawanya ke Jakarta, Biar dia biss hidup mandiri dan tidak terus - terusan di manja oleh kedua orangtuanya di rumah. Jika dibiarkan di rumah, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah karena terus di manja oleh kedua orang tuanya.
Ujian tes lisanpun tiba. Sebelum berangkat ke kantor, Hans kembali mengingatkan Rio agar jangan sampai lupa mengikuti tes lisan di sekolah nanti Pukul 10.00. mereka tidak bisa mengantar Rio karena harus pergi kerja. Mereka tidak di ijinkan mengambil cuti sehingga Rio harus pergi sendirian lagi.
Rio sangat antusias mengikuti ujian lisan tersebut sehingga tepat 09.00 Dia langsung bergegas mandi dan bersiap ke sekolahnya untuk mengikuti tes lisan yang di adakan sekolahnya tersebut. Kali ini Dia lebih percaya diri saat melangkah menujuh sekolahnya.
Ternyata pertanyaan yang di ajukan kepada Rio saat ujian lisan hanya mengenai keluarganya serta sekolah lamanya dan juga prestasinya sehingga Rio mampu menjawabnya dengan mudah tanpa sedikitpun keraguan.
Setelah mengikuti tes lisan tersebut, ada pemberitahuan bahwa mereka jangan pulang dulu karena masih ada sesi tes kesehatan yang akan di lakukan sebentar lagi di Ruang kesehatan. sehingga Rio terpaksa menunggu untuk sesi tes tersebut.
Calon Siswa Baru langsung di sarankan untuk segera menuju Ruang kesehatan. Rio sedikit kebingungan mencari Ruang Kesehatan sehingga Dia hanya mengikuti yang lainnya mencari ruang kesehatan sesuai petunjuk yang di berika melalui mikrofon tadi.
Setelah mereka menemukan Ruang kesehatan, Rio mengantri di depan sambil menunggu namanya di panggil sesuai apa yang katakan satpam yang menjaga disitu bahwa nama mereka akan di panggil nantinya.
Melihat banyak dokter yang ada di Ruang kesehatan membuat bulu kuduk berdiri. Sejak kecil, Rio tidak suka dengan Rumah Sakit maupun obat - obatan apalagi di suntik. Namun sekarang dengan terpaksa dia harus memberanikan diri untuk bisa menemui dokter tersebut.
Hampir sejam lebih menunggu, nama Rio di panggil. Dia memberanikan diri menemui dokter yang ada di ruang kesehatan sekolahny. Disana Rio melihat dokter mengeluarkan jarum suntik untuk mengambil sampel darah Rio.
Nyali Rio langsung ciut ketika melihat jarum suntik tersebut. Wajahnya langsung pucat ketika melihat dokter yang membawa jarum suntik mendekati dirinya. Perawat yang ada di dekatnya menyadari hal itu dan langsung mendekati Rio untuk menenangkan Rio agar dia tidak ketakutan.
Percaya diri Rio langsung timbul lagi ketika perawat tersebut memegang Rio sambil menenangkan dirinya. Ditambah lagi paras perawat yang cantik semakin membuat Rio menjadi percaya karena konsentrasinya sudah buyar dengan kecantikan dan kelemah lembutan perawat tersebut.
Rasa nyeri ketika Dokter menyuntikan jarum pada tangan Rio membuatnya Hampir berteriak. Namun Rio cepat tersadar hingga hal itu tidak jadi Dia lakukan. Andai saja itu di kota kecil mereka, mungkin Rio sudah berteriak sekeras mungkin.
Setelah selesai, Rio keluar dari ruangan tersebut dengan sumringan. Hal itu karena, ternyata disuntik itu tidak sengeri yang di bayangkan Rio. Dia tidak ingin buru - buru pulang kerumah pamannya karena dia takut ada sesi tes lagi dan dia tidak mengikutinya sehingga dia memilih untuk tetap disitu sambil menunggu instruksi selanjutnya.
__ADS_1
Setelah lama menunggu, tidak ada instruksi selanjutnya di tambah lagi banyak dari calon siswa baru yang sudah pulang membuat Dia memutuskan untuk pulang kerumah pamannya.
Beberapa hari kemudian, Rio kembali ke sekolahnha untuk mendengar hasil pengumuman tes masuk sekolah kemarin. Kali ini dia tidak pergi sendirian, melainkan dia pergi bersama paman, bibinya dan juga Randy. Hari itu mereka tidak bekerja sehingga mereka menemani Rio untuk pergi melihat hasil pengumuman Rio.
Hans, Ria dan Rio terlihat begitu cemas. Terutama Hans, Dia sangat cemas jikaulah Rio tidak lolos seleksi karena itu artinya Rio akan gagal bersekolah di sekolah bergengsi itu dan Dia terpaksa harus mencari lagi sekolah baru yang biasa saja buat Rio. apalagi melihat Rio yang sangat antusias untuk bersekolah di sekolah itu membuatnya semakin cemas.
Setibanya disana, ternyata sudah banyak Calon siswa baru yang ingin melihat hasil tes mereka. mereka berempat langsung menuju papan informasi sekolah untuk mengecek hasil tes Rio kemarin karena pengumuman hasil kelulusan di tempel di papan informsi tersebut.
Sangat lama mencari nama Rio di antara ratusan nama tersebut. Hans mengecek daftar nama yang lolos sedangkan Ria Mengecek nama di daftar yang gagal masuk kesekolah tersebut.
Setelah mencari, ternyata tidak ada nama Rio disana sehingga Ria berpindah ke tempat Hans untuk membantu mencari nama Rio di daftar yang lolos dan diterima di sekolah tersebut.
Ria sangat senang ketika menemukan nama Rio di daftar atas, nama - nama peserta yang Lolos. Tanpa sengaja, Ria berteriak kegirangan sambil memanggil memanggil Hans
"ini nama Rio kan" teriak Ria sedikit kaget dan juga senang sambil menunjukan nama tersebut
"iya..... itu benar nama Rio" sahut Hans yang sangat kaget sekaligus senang sehingga Dia langsung menggendong Rio sambil mengelu - elukan Rio.
"kamu lolos nak, kamu lolos" Hans sangat kaget dan juga senang melihat keponakan satu - satunya Lulus dengan Nilai sangat memuaskan. Bahkan namanya berada di urutan ketiga nilai tertinggi dari semua peserta yang mengikuti tes tersebut.
begitu juga dengan Ria bibinya. Dia tidak menyangkah bahwa bocah manja yang dibawanya dari kampung ternyata sangat pintar. Dia tidak menyangka bahwa namanya akan berada di jajaran atas dengan nilai tertinggi beserta murid - murid cerdas lainnya.
Mereka lalu pergi mengecek semua informasi tentang biaya pendaftaran ulang siswa baru hingga kebutuhan mereka serta segala sesuatunya agar mereka bisa mempersiapkannya untuk Rio. Ternyata Rio menerima beasiswa karena kecerdasan dan juga prestasi akademiknya yang bagus saat mengikuti tes kemarin sehingga tidak ada biaya bagi Rio untuk bersekolah di sekolah tersebut.
Rio hanya perlu mempersiapkan alat tulis dan buku - buku yang nantinya di perlukan Rio saat masuk sekolah beserta seragam nasionalnya. Selain itu tidak ada lagi, sekolah yang akan mempersiapkannya dan mereka bisa mengambilnya di hari pertama mereka sudah bersekolah nanti.
Setelah mengecek semua persyaratan calon mahasiswa baru, Hans dan keluarganya langsung pergi meninggalkan sekolah Rio. Tujuan mereka saat pulang tidak kembali kerumah melainkan menuju ke salah satu mall terbesar di jakarta.
Mereka ingin merayakan kelulusan Rio dengan bermain ke Mall tersebut juga menonton bioskop. Karena selama di di Jakarta, Rio belum pernah di ajak jalan - jalan sama paman dan bibinya untuk melihat - lihat kota Jakarta.
Hal itu karena kesibukan mereka bekerja di kantor sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk mengajak Rio jalan - jalan. Sekalian Hans dan Ria ingin membeli semua kebutuhan Rio untuk masuk ke sekolah barunya nanti. Mereka tidak ingin menundanya lagi hingga tidak ada waktu untuk membeli perlengkapan buat sekolah Rio nanti mengingat kesibukan mereka di kantor.
Sesampainya Di mall, Rio sangat Heran dengan tempat parkir kendaraan yang sangat luas dan di penuhi dengan kendaraan serta tempat parkinnya juga bertingkat. apalagi Mall yang sangat Luas sehingga dapat membuat orang nyasar jika baru pertama kali pergi.
Selama di dalam Mall, Hans selalu menggenggam erat tangan Rio. Dia tidak ingin Rio lepas dari perhatiannya dan nyasar sementara Ria memegang tangan Randy. Tujuan pertama mereka adalah ketempat Game. Hans ingin membiarkan Rio dan Randy bermain game di Mall tersebut.
Setelah puas bermain game, Perut mereka sudah terasa lapar sehingga mereka pergi makan di Restoran yang berada di dalam Mall tersebut. Masing - Masing dari mereka memesan makanan kesukaan mereka masing - masing kecuali Rio yang hanya menurut saja dengan pamannya.
Setelah makan, Mereka langsung menuju ke bioskop untuk menonton Film karena ada Film yang benar - benar Ria sukai dan sedang tayang di bioskop sehingga Ria tidak ingin melewatkan Film itu. Hanspun menuruti kemauan istrinya, Ria.
Setelah usai menonton Film, Mereka kembali berkeliling Mall untuk belanja kebutuhan sekolah Rio. Ria juga membeli beberapa pakaian untuk Randy, Rio, Hans dan dirinya. sangat banyak barang yang di beli Ria hari itu. setelah semuanya di rasa cukup, mereka langsung bergegas ke tempat parkir untuk pulang.
Rio sangat kaget ketika mereka pulang karena Hari sudah malam. Dia terheran - heran mengetahui kalau di luar sudah gelap. Mereka lalu singgal di rumah makan untuk makan sehingga ketika pulang nanti mereka bisa langsung tidur. karena sebelumnya Hans tidak mengabarkan kepada bi surti sehingga kemungkinan besar mereka akan menunggu bi surti untuk menyiapkan makan malam saat pulang nanti.
Setelah makan malam, mereka semua langsung menuju ke kamar tidur untuk tidur karena keletihan setelah seharian penuh mereka menghabiskan waktu di Mall tadi.
Setiap kali Hari libur, Hans selalu mengajak keluarganya pergi jalan - jalan ke Mall atau tempat wisata Alam untuk menghabiskan waktu libur mereka untuk bersenang - senang. Hal itu seolah - olah sudah menjadi Rutinitas di keluarga Hans.
Setelah bersekolah, Rio semakin melupakan kedua orang tuanya di Rumah. Bahkan Dia kin sudah bertemu dengan teman baru di sekolahnya sehingga membuat dia semakin melupakan kedua orang tuanya di rumah.
Diantra semua teman - temannya itu, Rio sangat akrab dengan Andre dan juga Harlan. Mereka bertiga sangat Akrab sehingga hampir setiap waktu di sekolah maupun di luar, mereka selalu menghabislan waktu bersama - sama.
Rio sering mengajak kedua sahabatnya itu ke rumah paman dan bibinya. Karena disana mereka leluasa melakukan sesuatunya ketimbang di rumah Andre maupun Harlan. ditambah lagi dengan Hans maupun Ria yang tidak melarang atau memarahi mereka membuat mereka semakin nyaman bermain kerumah Rio.
Apalagi setelah Hans dan Ria mengetahui bahwa Andre dan Harlan ternyata berasal dari keluarga golongan atas. itu semakin membuat Hans dan Ria bangga dengan Rio. Sehingga mereka membiarkan Rio dan kedua sahabatnya leluasa bermain di rumah mereka.
Bahkan Ria sering menyuguhkan makanan ringan dan juga minuman ketika mereka asyick bermain game. Hal itu juga yang membuat mereka semakin nyaman Bermain Ke rumah Rio. semua ini terus berlanjut Hingga mereka Lulus Sekolah Menengah Pertama ( SMP )
__ADS_1
Teman - teman Rio juga sangat Rendah hati dan sopan. Meskipun dari kalangan atas, etika dan sopan santun mereka sangat baik. mereka begitu menghargai dan menghormati paman dan bibi Rio termasuk sepupu Rio, Randy.
Hallo Readers.... jangan lupa Like dan vote'nya ya 😊😊😉😉😉