Gejolak Darah Muda

Gejolak Darah Muda
17


__ADS_3

Setelah mendapat kunjungan itu, Hans mulai melunak dan merelakan Rio untuk tinggal di kampung mereka dan mengurus segala sesuatu yang sudah di wariskan kedua orang Tuanya pada Dia dan Pak Minggus saudaranya.


Hans hanya berpesan kepada mereka untuk mengawasi dan menjaganya agar sebisa mungkin terhindar dari segala sesuatu yang bisa membahayakan dirinya. sejujurnya, Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keponakannya itu.


Setelah semua yang datang ke rumah rio pergi, mereka semua langsung menuju kamar tidur mereka masing - masing untuk beristrahat karena sudah larut malam dan juga mereka sudah keletihan sehingga langsung beristrahat.


Ketika di kamar, Ria mulai bertanya mengenai keluarga Hans Suaminya kepada Hans


"kok keluargamu sangat di hargai disini, Hans ?" tanya Ria pada suaminya


"ceritanya sangat panjang dan rumit, yank" sahut Hans singkat


"hmmm.... aku mulai penasaran" sahut Ria genit


"jangan. nanti kamu bisa gila" jawab Hans serius


"emang iya ?" tanya Ria seakan tidak mempercayainya


"iya,,, benaran. udah banyak yang gila karena itu" jawab Hans memastikan pada istrinya


"serius kamu, Hans ?" tanya Ria yang masih tidak percaya


"ya serius. ngapain aku bohong sama kamu, Ria" jawab hans memastikan pada istrinya


"aku jadi takut sekarang" sahut Ria sambil merinding


"makanya gk usah cari tau. ikuti aja apa yang sudah ada. semua punya maksud baik ko" sahut Hans menasehati istrinya


"iya Hans. aku gk jadi gila kan ?" tanya Rio yang mulai panik


"iya.... gk lah. kalau kamu gk serius pengen cari tau" sahut Hans Singkat karena sudah ngantuk


"tapi aku penasaran, Yank" sahut Ria yang masih sangat penasaran


"aku serius Ria. apa kamu udah gk sayang sama aku dan anak - anak ?" sahut Hans yang mulai sedikit geram dengan istrinya


"ah.... ko jadi seram. jadi takut aku, Hans" sahut Ria sedikit begedik mendengar perkataan suaminya

__ADS_1


"untung kak minggus udah meninggal. kalau gk, Dia bakalan cerita semuanya ke kamu. kalau aku takut, yank" sahut Hans membelai rambut istrinya


"kamu aja takut, gimana sama aku" sahut Ria yang sudah mulai ikutan takut


"itulah alasan aku melarangmu. anak - anak kita masih kecil, aku juga gk mau jadi duda" sahut Hans sambil mengecup kening istrinya


"iya. gk ko yank. aku juga masih pengen waras. ngebayangin jadi orang gila aja, aku sudah takut" sahut Ria merinding ketakutan


"nah uda tau kayak gitu. masih juga ngeyel. tidur yuk, ngantuk yank" sahut Hans sambil memeluk istrinya


"iya yank. selamat malam" ucap Ria sambil membalas pelukan Hans


Keesokan Harinya mereka mengunjungi perkebunan mereka sekaligus syara ke pemakaman keluarga. Hans dan keluarganya ingin berpamitan kepada seluruh pekerja di perkebunan mereka dan kembali ke Jakarta mengingat waktu cuti mereka hampir habis.


Mereka menghabiskan waktu hingga menjelang malam baru kembali ke rumah. Di rumah, mereka sudah sangat keletihan sehingga sehabis makan malam, mereka langsung menuju kamar masing - masing untuk beristrahat.


Keesokan harinya ketika mereka bangun, sarapan sudah di siapkan seperti biasanya sehingga mereka langsung pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Rio tetap menempati kursi yang di tinggalkan ayahnya dan Hans menempati kursi yang di tempati Rio sebelum ayahnya meninggal.


Hans sama sekali tidak keberan dengan itu, termasuk istrinya Ria. Ria datang dari keluarga yang cukup beradab, sehingga Dia bisa memahami dan menerima kondisi dari suaminya itu.


Setelah sarapan, Rio langsung mengajak bercanda bayi Minggas yang sejak tadi di pangkuannya sementara Bunda Rida dan Ria pergi Ruang keluarga menonton Tv di ikuti Randy.


"sudah dari tadi, Pak" sapa Hans pada Pak Mimin


"baru saja tiba, dek" jawab Pak Mimin


"oh iya. sudah sarapan, pak ?" tanya Hans pada Pak Mimin


"iya sudah dirumah tadi" sahut Pak Mimin


"gimana keadaan Rio selama ini, pak ?" tanya Hans pada Pak Mimin


"baik dek. cuma kemarin saat ayahnya meninggal, Emosinya agak sedikit tidak terkontrol dek" sahut Pak Mimin


"iya. aku ngerti itu pak. aku harap, itu tidak terjadi lagi ya pak. aku sangat mencemaskan dirinya kemarin. Makanya aku datang untuk menjemputnya tetapi dia ingin menjaga semuanya disini" sahut Hans pada Rio


"iya. gk apa - apa ko, Dia disini bersama kami. kamu bisa mempercayaiku, Hans" jawab pak Mimin

__ADS_1


"iya pak. aku titip ponakanku juga istri kakaku padamu ya, Pak" sahut Hans sedikit memohon


"iya Hans. kamu bisa mempercayaiku" sahut Pak Mimin meyakinkan Hans


"iya, aku percaya sama bapak. Terima kasih ya pak, Sudah bersedia menjaga keponakanku serta istri kakaku" sahut Hans penuh rasa hormat


"iya dek. itu sudah jadi kewajibanku" sahut Pak Mimin


"iya pak. Jangan lupa infokan setiap perkembangan mengenai dirinya padaku ya, pak" pinta Hans pada Pak Mimin


"iya Hans. aku pasti akan" sahut Pak Mimin meyakinkan Hans


"terima kasih pak ayo diminum kopinya, pak" ajak Hans sambil meminum kopi yang baru saja disugukan kepada mereka sambil mengobrol beberapa topik lainnya seputar Rio.


obrolan itu membuat Pak Mimin benar - benar kagum dengan pribadi Hans. Dia benar - benar tidak menyangka bahwa Hans sangat menyangi Rio yang merupakan putra semata wayang mediang kakanya. Bahkan Dia rela datang jauh - jauh dari jakarta bersama keluarganya hanya untuk menjemput Rio agar bisa ikut bersamanya.


Pak Mimin tidak menyangka bahwa Hans orangnya sebaik itu. Dia hanya berdoa dan berharap semoga keluarganya di sana baik - baik saja. Karena sangat jauh bagi Pak Mimin untuk mengunjungi mereka disana.


Setelah mengobrol bersama pak Mimin, Hans kini benar - benar yakin meninggalkan keponakannya sendirian disini bersama kaka iparnya karena begitu banyak orang disini yang sayang sama mereka. Dia juga sangat yakin bahwa Pak Mimin mampu menjaga keponakannya dan juga kaka iparnya dengan baik.


Cuti kerja Hans dan Ria cuma seminggu sehingga mereka harus kembali ke Jakarta meskipun mereka masih sangat ingin bersantai di kota kelahiran Hans bersama Rio.


Mereka lalu sama - sama mengantar Hans dan keluarganya ke bandara karena sudah waktunya untuk Hans dan keluarganya kembali ke Jakarta. Dia tampak sedikit lega meskipun meninggal Rio sendirian bersama ibunya di kota kecil mereka.


Rio sangat terharu melepas kepergian Hans dan keluarganya kembali ke jakarta sehingga Dia harus di hibur oleh Ria dan Hans. Mereka menunggu hingga Rio benar - benar tenang barulah mereka masuk ke ruang tunggu untuk menunggu jadwal keberangkatan pesawat.


Namun sebelum mereka pergi, Hans berpesan kepada Rio dan Bunda Rida agar sesekali mereka meluangkan waktu untuk bermain ke Rumah Hans di jakarta. Bunda Rida hanya mengangguk, begitu juga dengan Rio.


Usaha Hans dan Ria istrinya untuk membawa Rio ke jakarta gagal, namun Dia cukup lega karena ternyata masih banyak dari keluarga mereka yang sangat menyayangi mereka berdua. mengetahui itu saja sudah cukup membuat kesedihan Hans selama ini terobati.


Hans berpikir bahwa setelah kematian Pak Minggus, Semua akan berakir. apalagi di tambah desas - desus yang kemarin tersebar membuat Hans semakin tidak yakin jika Rio bisa mempertahankan semuanya. Bahkan Dia mencemaskan Rio karena bisa terkena imbas dari Hal itu. Namun setelah semua yang di lihatnya kemarin, Dia kini semakin yakin bahwa Rio bisa dan Dia akan mampu untuk menjaga dan merawat semuanya.


Pak Mimin sangat lega dan juga senang dengan keputusan Rio untuk tidak melanjutkan kuliah di Jakarta. Karena dengan keputusan itu, Dia tidak jadi terlantar dan juga menjadi pengangguran begitu juga dengan para pekerja di perkebunan mereka.


Disisi lain, Pak Mimin juga kasihan jika harus melihat Bunda Rida sendirian disini karena putranya harus di bawah pergi oleh ade iparnya. membayangkannya saja sudah membuat Pak Mimin sudah merasa sedih.


Keluarga Pak Mimin sudah lama bekerja dengan keluarga ayah Rio, sehingga akan sangat menyakitkan baginya jika Rio pergi ke Jakarta meninggal dirinya. Dia akan kehilangan semuanya, dan itu sangat tidak di inginkan oleh Pak Mimin.

__ADS_1


Hallo Readers..... Jangan lupa Like dan Vote'nya ya


__ADS_2