GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE

GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE
CHAPTER 13- PENYELAMATAN ASIA BAGIAN 2.


__ADS_3

*SUDUT PANDANG HYODOU ISSEI.


(CATATAN : DA TENSHI \= MALAIKAT JATUH, KAMI\= TUHAN DALAM BAHASA JEPANG)


Aku Hyodou Issei,sekarang bertarung dengan Pendeta gereja bernama Freed ini bersama dengan Kiba dan Koneko-chan.


Kami berhasil memojokkannya tapi dia berkata..


"Kalau begitu aku juga akan berterung sedikit serius."


Bertarung dengan serius? Apa yang akan dia lakukan?


Tetapi kami bertiga, aku Hyodou Issei, Kiba, dan Koneko-chan mengepung pendeta itu.


Pendeta itu menyadarinya, dan melihat sekeliling,Kemudian dia tersenyum.


"Wow, wow. Bukankah ini disebut dengan krisis? Bagiku terbunuh oleh Iblis itu tidak boleh, jadi aku sebaiknya mundur saja. Sayang sekali aku tidak bisa mengusir kalian, tetapi aku juga masih belum mau mati!


Pendeta itu mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat dan melemparkannya ke lantai.


Seketika itu juga mata kami dibutakan oleh cahaya yang menyilaukan.


Sialan! Bom cahaya!? Ketika pandanganku mulai pulih, aku melihat sekeliling dengan padanganku yang masih setengah pulih, tetapi pendeta itu sudah hilang. Kemudian terdengar suara pendeta itu dari suatu tempat.


"Hey, bocah Iblis yang disana itu...... Kalau tidak salah namamu Ise-ku, ya? Sejujurnya, aku jatuh cinta padamu. Jadi lain kali aku pasti akan membunuhmu. Pasti, OK? Aku tidak akan memafkan Iblis sampah yang telah memukulku dan menceramahiku, OK? Kalau begitu, bye-bye."


Ketika penglihatanku sudah pulih total, kembali aku melihat sekeliling.


Tetapi pendeta it sudah hilang sama sekali.


Dia lari.... Dia bahkan sempat meningalkan kata perpisahan.... Aku berpikir sejenak, kemudian menyadari kalau tidak ada waktu untuk itu.


Aku, Kiba, dan Koneko-chan salin memandang dan mengangguk, kemudian kami menuju ke tangga rahasia dibalik altar.


Kami bertiga menuruni tangga dibawah altar. Tampak cahaya lampu juga menyala di ruang bawah tanah. Dengan Kiba dibarisan paling depan, kami berjalan maju. Setelah menuruni tangga, terdapat lorong yang menuju ke bagian terdalam ruangan.


"Sepertinya diujung lorong ini.... Karena bau orang itu......"


Itulah yang dikatakn Koneko-chan sambil menunjuk ujung lorong. Jadi Asia ada disana. Seketika itu aku langsung termotivasi. Tunggu aku Asia. Aku akan segera datang! Setelah berjalan cukup jauh kami sampai pada sebuah pintu besar.


“Jadi disini?”


"Mungkin. Aku yakin didalam ada sekelompok [Eksorsis] dan [Da-Tenshi] didalam sana. Apakah kalian siap?"


Aku, dan Koneko-chan mengangguk menjawab pertanyaan Kiba.


"Baiklah. Akan kubuka pintunya....."


Ketika Kiba dan aku mau membuka pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri. Dan setelah mengeluarkan suara keras, ritual didalam ruangan itu terlihat.


"Selamat datang para Iblis."


[Da-Tenshi], Reynalle, mengatakan itu dari ujung ruangan. Di ruangan itu ada banyak pendeta. Mereka masing-masing membawa pedang cahaya. Aku melihat ke seorang perempuan yang terikat di sebuah salib dan berteriak:


"Asiaaaaa!!"


Asia mendengar suaraku dan melihatku.


".......Ise-san?"


"Ya! Aku datang menyelamatkanmu!"


Aku tersenyum padanya dan air mata menetes dari mata Asia.


"Sungguh pertemuan yang menyentuh hati, tetapi sudah terlambat. Ritualnya sudah hampir selesai."


Ritualnya selesai? Apa maksudnya.....? Tiba-tiba tubuh Asia bersinar.


".......Aaaaaah, tidaaaaaaaak!!"


Asia menjerit kesakitan.


"Asia!"


Aku mencoba mendatanginya, tetapi para pendeta mengepungku.

__ADS_1


"Tidak akan kubiarkan kalian menghalangi"


"Akan kuhancurkan kalia, para Iblis!"


"Minggir, kalian semua! Aku tidak punya waktu mengurusi kalian!"


BANG!


Terdengar suara keras. Itu suara Koneko-chan memukul terbang salah satu pendeta.


".......Jangan menyentuhku."


Kiba juga mencabut pedangnya.


"Sepertinya aku harus langsung serius dari awal. Aku benci pendeta. Jadi kalau ada sebanyak ini, aku tidak akan menahan diri untuk memakan cahaya kalian."


Pandangan mata Kiba menjadi tajam dan dingin. Kegelapan yang muncul memancarkan hawa membunuh yang kuat. Ini akan menjadi pertempuran habis- habisan.


"Tidaaaaaaak........!!"


Diwaktu yang sama, cahaya besar keluar dari tubuh Asia. Reynalle menangkap cahaya itu dengan tangannya.


"Ini dia! Ini dia kekuatan yang kuiginkan sejak lama! [Sacred Gear]! Dengan ini, aku akan dicintai!"


Dengan ekspresi ekstasi, Reynalle memeluk cahaya itu. Kemudian cahaya terang menelimuti seluruh ruangan ritual itu. Ketika cahaya itu padam, berdiri seorang [Da-Tenshi] dengan cahaya hijau memancar dari tubuhnya.


"Fufufu. Ahahahahaha! Akhirnya aku mendapatkannya! Kekuatan super! .....Dengan ini aku akan menjadi [Da-Tenshi] super! Dengan ini aku bisa membalas mereka yang telah menghinaku!"


[Da-Tenshi] itu tertawa lebar. Aku tidak menghiraukannya dan langsung menuju ke tempat Asia. Para pendeta mencoba menghalangiku, tetapi Kiba dan Koneko-chan membantuku menghajar mereka. Sementara pedang Kiba memakan pedang cahaya, Koneko-chan memukul para pendeta dengan tenaga penuh. Kombinasi kedua orang ini menakjubkan, dan sudah tentu kombinasi ini bukan tercipta dari berlatih hanya beberapa hari.


"Terima kasih, kalian berdua!"


Asia, yang terikat di salib, tidak bergerak. Tidak, masih sempat! Aku melepaskan ikatan tangan dan kakinya, menurunkannya dan menggendongnya ditanganku.


"......I......Ise-san....."


"Asia, aku datang menjemputmu."


"..........Iya."


"Percuma saja"


Reynale tersenyum dan menepis semua harapanku lagi.


"Pemilik [Sacred Gear], yang diambil [Sacred Gear]nya akan mati. Perempuan itu juga akan mati."


"! .....Kalau begitu kembalikan [Sacred Gear] miliknya!"


Aku berteriak padanya, tetapi Reynalle hanya tertawa.


"Tidak mungkin aku mengembalikannya. Aku bahkan sampai berbohong pada atasanku untuk memperolehnya. Aku juga akan membunuhmu untuk menghilangkan semua bukti."


".....Sialan. Kamu sama sekali tidak mirip dengan Yuma-chan yang aku ingat."


Mendengar itu, Reynalle tertawa keras.


"Fufufu, Waktu yang kuhabiskan bersamamu sangat menyenangkan."


"....Padahal kamu adalah pacar pertamaku."


"Ya, melihatmu aku jadi merasa gemas. Senang sekali rasanya bermain-main dengan laki-laki yang sama sekali buta akan perempuan."


".....Padahal aku sungguh serius akan menjagamu."


"Fufufu. Ya, kamu memang menjagaku. Ketika aku dalam masalah, kamu segera membelaku dan memastikan aku tidak terluka. Padahal, tahukah kamu kalau aku sengaja melakukannya? Karena lucu sekali melihat wajahmu yang kebingungan."


".....Padahal aku telah merencanakan dengan baik kencan pertama kita. Untuk memastikannya agar jadi kencan yang hebat."


"Ahahaha! Iya, kamu benar! Itu memang kencan yang hebat! Karena itu, aku sampai jadi bosan!"


"....Yuma-chan."


"Dan akhirnya, aku memutuskan untuk membunuhmu. Indah bukan? Bagaimana menurutmu, Ise-kun?"


Kemarahanku telah melewati batasnya. Aku berteriak marah padanya:

__ADS_1


"Reynalleeee!!"


"Ahahaha! Aku tidak ingin bocah busuk sepertimu memanggil namaku!"


Reynalle menghinaku. Aku marah sekali sampai-sampai rasanya jantungku menjadi warna hitam. Aku tidak pernah menemui orang seberengsek dia selama hidupku. Dialah yang seharusnya pantas disebut "Iblis".


"Hyoudou-kun! Formasi kita kurang menguntungkan kalau sambil membawa perempuan itu! Segera naiklah keatas! Kami akan membukakan jalan untukmu!"


Kiba mengatakannya sambil mengalahkan para pendeta. Dia benar. Masih ada banyak pendeta yang tersisa, jadi melawan [Da-Tenshi] sambil melindungi Asia akan sulit. Aku menatap tajam Reynalle, kemudian merapatkan gendongannku dan meninggalkan tempat itu.


"Koneko-chan kita bukakan jalan untuk Hyoudou-kun!"


".....Siap."


Mereka berdua mulai menghbisi para pendeta yang ingin menghalangiku. Berkat bantuan mereka, aku bisa mencapai pintu masuk ruangan ritual.


"Kiba! Koneko-chan!"


"Pergilah duluan! Kami akan menangani yang disini!"


"......Cepatlah pergi."


"Tapi!"


"Pergilah!"


Sialan! Kiba! Koneko-chan! Kalian benar-benar keren! Tetapi sekarang aku harus mengandalkan mereka. Senior Iblisku tidak akan mati ditempat seperti ini!


"Kiba! Koneko-chan! Kalau kita sudah kembali, kalian harus memanggilku "Ise"! Harus! Karena kita adalah teman!"


Itulah yang kukatakan pada mereka. Aku rasa aku sempat melihat mereka tersenyum. Aku segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke lorong.


Aku menaiki tangga sambil membawa Asia, aku keluar ke ruang-kudus. Ada yang tidak beres dengan Asia. Wajahnya pucat pasi. Aku membaringkannya di salah satu bangku.


"Bertahanlah sebentar! Sebentar lagi kamu akan bebas, Asia! Sebentar lagi kamu bisa bermain denganku lagi!"


Asia tersenyum mendengar perkataanku. Dia menggelengkan kepalanya. Aku tidak merasakan sedikitpun tenaga atau kehangatan dari tangannya.


"......Saya......Senang sekali.....Karena akhirnya.....Mempunyai teman.....Walaupun cuma sebentar........"


Asia tetap tersenyum walaupun aku tahu dia kesakitan.


".......Kalau saya bisa terlahir kembali........Maukah Ise-san menjadi temanku lagi........"


"Bicara apa kamu....!? Jangan bicara seperti itu! Mari kita pergi bersenang-senang! Aku akan menyeretmu kalaupun kamu tidak mau! Kita akan pergi ke karaoke! Game Center! Juga bermain bowling! Juga kebanyak tempat lainnya! Ke sana! Dan kesini....!"


Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Padahal seharusnya aku berbicara padanya sambil tersenyum. Aku tahu. Aku sudah mengerti. Perempuan ini sekarat. Dia akan mati. Tetapi, walapun begitu, aku tidak ingin mempercayainya. Ini pasti gurauan.....


"Kita adalah teman! Selamanya! Oh iya! Aku akan mengenalkanmu dengan Motohama dan Matsuda! Mereka memang sedikit mesum tetapi mereka berdua orang baik! Mereka pasti bisa menjadi temanmu! Pasti! Kita akan bersenang-senang bersama! Sebanyak kita mau!"


".....Kalau Saya terlahir di negeri ini........Dan bisa sekolah di sekolahan yang sama dengan Ise-san......."


"Mari! Mari datang kesekolahku!"


Tangan Asia membelai pipiku.


"Ise-san bahkan menangis untuk seseorang seperti aku.......Sekarang.......Saya......Bisa......."


Tangannya yang membelai pipiku jatuh perlahan.


".........Terima kasih........"


Itulah kata-kata terakhirnya.


Dia meninggal dengan tersenyum. Aku kehilangan kekuatanku. Aku berdiri diam disana memandang wajahnya. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Mengapa? Mengapa perempuan ini harus mati? Padahal dia perempuan baik. Perempuan baik yang rela menyembukan siapa saja yang terluka. Mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya? Mengapa aku tidak pernah ada disisinya?


"hey [Kami]? Kamu ada disini kan? Ada iblis dan [Tenshi], jadi kamu juga ada kan? Kamu melihat kami kan? Kamu melihat semua ini kan!?"


Setelah aku berkata demikian,suara familiar terdengar olehku.


"Issei,kau ini sangat ceroboh sekali!!"


"Ara...Ara... Issei-kun kau kalau mau beraksi ajak kami dulu."


Itu adalah Rias-buchou dan Akeno-san?kenapa mereka kemari?

__ADS_1


__ADS_2