GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE

GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE
40- MENYAKSIKAN KEINDAHAN BINTANG DENGAN RAJA NAGA.


__ADS_3

...Levi *POV*...


Enam hari telah berlalu semenjak aku berlatih dengan Azure, besok adalah hari para Iblis muda berkumpul, mereka akan mengadakan sebuah pesta di Ibu Kota Dunia Bawah Lilith.


Aku sebenarnya tidak mau pergi kesana karena sangat membosankan berada di sebuah pesta, tapi aku dipaksa oleh Rias untuk ikut sebagai tunangannya.


Pada kehidupan sebelumnya aku sangat menghindari sebuah pesta karena satu alasan 'semua orang membicarakan suatu yang membosankan.'


Sekarang aku berada diatas atap rumahku sambil menatap langit malam yang tak berujung, dengan sinar bintang lebih terang dari biasanya.


"Indahnya." (Levi)


Tap. Tap. Tap. Tap.


Suara langkah kaki mencapai telingaku, Aku hanya mengabaikan itu dan terus menatap langit berbintang dengan wajah ketenangan.


"Aku mencarimu kemana-mana, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu ada disini Levi." (Tia)


Aku mendengar suara familiar mencapai telingaku, dan aku hanya berbicara kepadanya sambil memandangi bintang.


"Ini adalah tempat favoritku untuk menghilangkan semua kebosanan yang sudah aku pikul." (Levi)


"Kenapa kamu tidak keatap pada siang hari? semua orang bisa menemukanmu ketika disiang hari tahu." (Tia)


"Malam hari adalah pilihan yang tepat untuk beristirahat dan menghilangkan semua kebosanan."(Levi)


"Kamu benar-benar orang yang susah sekali ditebak Levi." (Tia)


"Kenapa kamu kesini Tia?." (Levi)


"Aku bilang tadi hanya ingin mencarimu dan Diablo bilang kalau pada malam hari biasanya kamu ada disini, jadi aku berencana melihatmu." (Tia)


"Oh jadi seperti itu." (Levi)


Aku kembali menatap kelangit berbintang dengan wajah tenang, Tia yang melihatku segera memasang wajah merona kemerahan.

__ADS_1


Aku berpikir kapan lagi aku bisa merasakan pemandangan indah lagi selain hari ini, seandainya besok adalah hari kiamat mungkin aku tidak pernah bisa melihat suatu yang indah seperti ini, hidup memang tidak boleh disia-siakan dengan secara percuma.


Hembusan angin datang kearahku, sinar cahaya bulan menerangi malam ini dengan sangat romantis, bintang kecil berkelap-kelip dikejauhan yang tidak bisa dicapai semua orang, aku sangat mengagumi keindahan malam karena mereka semua seakan-akan melengkapi kekurangannya masing-masing.


Dulu sebelum reinkarnasi aku pernah bercita-cita menjadi astronot bertujuan untuk melihat keindahan bintang dengan lebih dekat, tapi sepertinya impian manisku tidak bisa tercapai karena aku telah mati, tapi aku bersyukur karena bisa kembali menyaksikan keindahan dari makhluk langit yang bernama bintang sesudah reinkarnasi, hari pada masa kecilku benar-benar sangat indah.


Tapi aku masih diberikan kehidupan kedua oleh Dewa-san, sepertinya aku masih berhitung nyawa kepadanya, semoga suatu hari aku bisa membalas semua kebaikannya.


Tiamat yang melihatku terus menatap langit merasa penasaran lalu bertanya.


"Apa yang kamu lihat dilangit?." (Tia)


Aku menunjuk kearah langit sambil tersenyum, Tiamat yang melihat aku tersenyum terus-menerus menatapku dengan mata berbinar-binar.


"Keindahan Bintang." (Levi)


"Apa yang indah dengan bintang?." (Tia)


"Keindahan bintang di langit tentu membuat penikmat malam mendapatkan suasana yang tenang dan romantis, menikmati malam yang dihiasi bintang-bintang memang bisa memberi kesan lembut bagi mereka yang melihatnya, kehadirannya pun selalu ditunggu-tunggu, karena kita semua tahu kadang malam menjadi tak bermakna jika tak ada bintang yang menghiasinya." (Levi)


"Begitu ya, sepertinya bintang sangat berharga pada malam hari." (Tia)


"Kamu benar aku juga melihat ada bintang yang tidak memancarkan suatu cahaya." (Tia)


"Tapi bintang tetaplah bintang, meski cahayanya sering meredup bahkan tidak terlihat oleh mata, tapi dia tetap ada. Bintang selalu siap membuat langit menjadi indah bagaikan lukisan yang berkilau." (Levi)


"Kamu memang sangat mengetahui tentang malam hari." (Tia)


Aku hanya diam mendengar pujian dari Tia dan melanjutkan menatap langit berbintang pada malam ini.


"Hei Levi, apa kamu tahu kalau aku sebelum bertemu denganmu aku tidak pernah sedekat ini dengan seseorang bahkan berbicara seperti ini aku belum pernah." (Tia)


"Begitukah." (Levi)


"Dulu aku orang yang suka sendiri, tapi aku juga pernah merasa kesepian, saat aku kesepian aku berpikir untuk mencari seseorang yang bisa menjadi temanku, tapi mereka semua takut padaku karena aku adalah seorang Raja Naga." (Tia)

__ADS_1


"Jadi kamu adalah orang yang kesepian dimasa lalu." (Levi)


"Tapi sekarang aku tidak kesepian lagi karena sudah bertemu kamu yang mengajariku banyak hal hari ini." (Tia)


"Aku bukan orang yang mau mengajari orang sesuatu, yang aku katakan tadi adalah suatu fakta yang terjadi pada alam semesta." (Levi)


"Kamu benar-benar orang yang tidak bisa jujur pada dirimu sendiri." (Tia)


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Tia, sepertinya dia benar kalau aku adalah orang yang tidak bisa jujur pada diriku sendiri, aku masih merasakan kenaifan didalam diriku, tapi semua manusia pasti memiliki sifatnya sendiri, sepertinya aku belajar satu hal pada Tia hari ini, aku adalah orang yang tidak bisa jujur pada diriku sendiri.


"Hei Levi kau tahu? kalau aku adalah orang yang selalu menghindari semua sifat asliku pada semua orang." (Tia)


"Kenapa begitu?." (Levi)


"Karena aku berpikir untuk terus menunjukan sebuah sikap yang pantas sebagai Raja Naga." (Tia)


Sepertinya Tia juga orang yang tidak bisa jujur pada dirinya sendiri sama seperti aku.


"Aku selalu bohong pada diriku sendiri, padahal aku masih banyak sekali kekurangan pada diriku, contohnya adalah kesepian itu adalah salah satunya." (Tia)


Aku segera membangkitkan tubuhku dan mengelus kepala Tia dengan tujuan untuk memberikannya ketenangan.


"Dasar gadis bodoh, semua makhluk pasti mempunyai kekurangannya masing-masing, aku akan membantumu menghancurkan semua kekuranganmu itu, tapi sepertinya kamu sekarang sudah tidak kesepian bukan? kamu sekarang memiliki aku yang selalu berada disampingmu, lalu juga ada teman-temanmu yang lain bukan?." (Levi)


"Levi...." (Tia)


Tia mendekatkan bibirnya kearahku dan aku juga mendekatkan bibirku kearah Tia, kami bercium ala Prancis.


Keromantisan kami diwarnai oleh bintang kecil yang berkelap-kelip, suara paduan burung kecil menghiasi langit malam hari, dan semua makhluk malam hari seakan-akan menunjukan keunggulannya masing-masing.


Kami segera melepaskan bibir kami masing-masing.


"Levi terima kasih, aku benar-benar sangat mencintaimu." (Tia)


"Aku juga berpikiran hal yang sama denganmu." (Levi)

__ADS_1


Setelah itu aku dan Tia segera kembali melihat kearah langit berbintang, dan Tia terus menggenggam tanganku sampai dia tertidur diatap rumah.


Aku segera membawa dia ke kamarnya, lalu kembali keatap sambil melihat keindahan bintang dilangit.


__ADS_2