GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE

GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE
61- 'Distrik Shiganshina'


__ADS_3

...LEVI *POV*...


Setelah aku memasuki portal bundar, aku tiba disebuah gang sempit, tidak ada orang disini, kecuali aku kedepan, didepan aku melihat banyak orang yang lalu-lalang didepan gang tempat aku berteleportasi.


Aku segera kedepan, melihat ke sekeliling banyak sekali orang disini, maupun remaja atau lansia yang saling mengobrol satu sama lain, anak-anak yang sedang bermain, dan beberapa orang memakai baju militer Pulau Paradise.


Melihat lebih jauh, aku bisa melihat tembok yang sangat besar dikejauhan, itu sangat-sangat besar, tidak salah lagi kalau aku sudah tiba di dalam tembok Pulau Paradise.


Ini adalah Distrik Shiganshina, disini tampak damai, banyak para militer yang meminum arak sambil tertawa-tawa, aku tidak pernah berpikir jika kedamaian seperti ini akan berakhir ketika Colosal Titan dan Armor Titan akan menghancurkan tembok, Rainer dan Bertold kalian banyak dosa.


Aku berjalan mengikuti arus arah yang asal, aku hanya ingin memikirkan bagaimana bisa menghasilkan uang, lebih baik aku memikirkannya nanti.


Setelah aku berjalan lurus kedepan, ada seorang pak tua berambut kuning dengan baju militer lambang bunga mawar dibelakangnya, aku kenal dia adalah Hannes, paman Eren Yeager.


Hannes berbicara kepadaku.


"Hei bocah, aku tidak pernah kamu disini, apa kamu dari distrik lain yang berkunjung?" (Hannes)


"Ah tidak paman, sebenarnya aku sudah lama tinggal di Distrik Shiganshina, tapi aku jarang keluar rumah." (Levi)


"Begitu, jadi kamu anak rumahan ya! jadi apa yang ingin kamu lakukan sampai keluar rumah?" (Hannes)


"Sebenarnya aku mencari pekerjaan, untuk melengkapi kebutuhan sehari hariku." (Levi)


"Eh! Mencari pekerjaan? memangnya kenapa dengan orang tuamu?" (Hannes)


"Aku yatim piatu paman." (Levi)


Mendengar perkataanku, Hannes memasang wajah prihatin.


"Maafkan aku berkata yang tidak pantas padamu." (Hannes)


"Tidak apa-apa, paman." (Levi)


"Nanti jika ada suatu pekerjaan aku akan mengabarimu, oh iya siapa namamu bocah?" (Hannes)


Jika aku memakai nama asli, itu akan sama dengan Levi Ackerman, lebih baik nama samaran saja.


"Lutfy Ozora paman." (Lutfy)


"Lutfy nama yang bagus, Namaku Hannes, kalau begitu jika ada suatu pekerjaan aku akan mengabarimu Lutfy." (Hannes)


"Terima kasih paman Hannes." (Lutfy)


Setelah itu aku meninggalkan Hannes, dan melanjutkan berjalan kedepan.


Saat aku berjalan, banyak para wanita yang melihat wajahku sambil memerah, bahkan mereka sakin fokusnya melihat wajahku mereka sampai nabrak tembok didepannya, aku sudah terbiasa melihat hal seperti itu.


HA! HA! HA!


Sesaat aku berjalan, ada dua orang yang lari sambil memegang sebuah dompet masuk kedalam gang sempit.


Aku berpendapat kalau mereka adalah pencopet, tapi disini tidak ada yang kecopetan, apa mereka mencopet ditempat lain? ini menjadi rezekiku, aku akan mengambil uang itu dan bisa menyewa penginapan, lalu aku segera mengikuti para kedua pencopet.


Kedua pencopet berhenti di tengah jalan gang sempit, dan mereka saling berbicara.


"Hei, apa sudah aman?" (Pencopet 1)


"Tidak ada yang mengejar lagi, ini sudah aman." (Pencopet 2)


"Akhirnya... Kita bisa membagi hasil ini sekarang." (Pencopet 1)


Pencopet 2 mengangguk, dan pencopet segera membuka dompet tapi...


Tap. Tap. Tap.


Aku berjalan kearah mereka, mereka segera menaruh dompetnya dikantung celananya.


"Halo paman, apa kalian sudah selesai mencopet?" (Lutfy)

__ADS_1


(Catatan Author : Nama Levi sekarang Author rubah menjadi Lutfy. )


Mereke berdua segera mengejekku.


"Apa yang kamu inginkan bocah kecil? apa kamu ingin mengambilnya? itu sangat lucu." (Pencopet 1)


"Hahaha! Bocah kecil ingin bersikap pahlawan? lebih baik kamu ngumpet dibelakang orang tuamu." (Pencopet 2)


Mendengar perkataan mereka, aku jadi kesal, Hei aku sudah berusia 17 tahun aslinya, dan kalian ingin menyuruhku ngumpet dibelakang orang tuaku berarti aku akan kembali didunia asalku.


Para kedua pencopet itu mengeluarkan sebuah pisau dari kantungnya, dan menatap tajam kearahku.


"Kamu lagi sangat sial hari bocah pendek." (Pencopet 1)


"Kamu mati sekarang!" (Pencopet 2)


Mereka berdua berlari kearahku, dan aku hanya tersenyum.


"Igris Keluarlah."



Seorang Knight hitam muncul dari bayangan, Igris segera berdiri dibelakangku.


Kedua pencopet terkejut, gemetaran, ketakutan dan memasang wajah bodoh.


"Ma-Makhluk macam apa itu? menyeramkan." (Pencopet 1)


"Iblis! dia Iblis." (Pencopet 2)


Para kedua pencopet sangat ketakutan, bahkan mereka berdua kencing dicelana.


"Hei sekarang siapa yang akan mengumpat dibelakang orang tuanya? aku apa kalian?" (Lutfy)


"Ka-Kami tidak takut! itu hanya ilusi, benar itu ilusi." (Pencopet 2)


"Hahaha! Igris, kata mereka kamu adalah ilusi, jangan bercanda, sudah cukup untuk basa basinya." (Lutfy)


Aku berjalan kedepan mereka.


"Iblis jangan mendekat." (Pencopet 1)


"Pergi! pergi!" (Pencopet 2)


"Hei kalian tadi mengejekku? dan sekarang lihat diri kalian." (Lutfy)


Igris juga jalan dibelakangku.


"Igris bunuh mereka." (Lutfy)


Igris langsung berlari kearah kedua pencopet, dia mengeluarkan pedangnya lalu...


"TOLONG KAMI!!!" (Pencopet 1)


"IBLIS MENJAUH!!!" (Pencopet 2)


Igris segera berdiri didepan mereka dan...


SLASH! SLASH!


Igris dengan mudah menebas kedua pencopet itu.


Aku berjalan kedepan dan mengambildompet yang mereka curi, dan didalamnya ada lumayan banyak uang.


"Uang ini mungkin bisa menyewa penginapan, Igris kembali." (Lutfy)


Igris mengangguk dan tenggelam kedalam bayangan.


"Nah sekarang mari kita beres-bereskan mayat ini." (Lutfy)

__ADS_1


Aku menyingkirkan para mayat itu disebuah lahan kosong, mungkin para polisi militer akan menemui mereka disini, Yosh sebelum para polisi militer kesini, lebih baik aku pergi.


Aku keluar dari gang sempit itu dan meninggalkan mayat para pencopet.


Saat aku keluar, banyak sekumpulan orang yang berjalan ditengah kerumunan Distrik Shiganshina, sambil menuntun sebuah kuda.


Para sekumpulan orang itu semuanya terluka, ada yang kehilangan tangannya, kakinya dan beberapa orang yang terluka lebih parah ditarik dengan sebuah gerobak.


Banyak para warga yang melihat sekumpulan orang ini dengan wajah yang tidak senang, bahkan banyak yang mencemoohnya, ini memang pemandangan mengerikan.


Sekumpulan orang itu adalah Pasukan Pengintai, Pasukan ini yang menggambarkan masih adanya harapan bagi manusia di tengah kekacauan serangan dari para titan, Perjuangan mereka juga terbilang sangat berat, Yakni melakukan pembebasan lahan di luar tembok raksasa.


Para warga berbicara.


"Hei kalian lihatkan? jumlah mereka berkurang lagi dari pada tadi pagi."


"Mengerikan! anakku takkan pernah aku izinkan masuk ke pasukan pengintai."


"Memangnya apa yang didapat kalian diluar tembok si?"


"Kamu dengarkan kalau pasukan kapten Erwin masih utuh, tidak ada yang mati."


"Lebih baik ganti saja komandannya menjadi kapten Erwin."


Banyak para warga yang mencemooh para pasukan pengintai, padahal merekalah yang paling kuat dari pada kedua pasukan lainnya.


Komandan saat ini adalah Keits Sadis, dan dimasa depan dia akan pensiun, lalu melatih para kadett, dan yang mengganti posisinya adalah Erwin Smith.



Keits Sadis hanya memasang wajah pucat selama ini, sambil melihat kebawah.


"Lihat Armin, para pasukan pengintai tiba." (???)


"Tunggu aku, Eren." (Armin)


Kedua anak kecil berlari kearahku, salah satu anak berambut coklat, dan satunya lagi berambut kuning.


Mereka adalah Eren Yeager dan Armin Arleth.


Eren melihat para pasukan pengintai dengan wajah kagum.


"Kerennya! para pahlawan yang melawan para titan diluar tembok, pasukan pengintai! aku ingin bergabung ketika besar nanti." (Eren)


"Apa kamu serius Eren? kamu lihatkan keadaan mereka?" (Armin)


"Ada apa memangnya? cuman terluka saja tapi mereka tetap bertarung, itu keren." (Eren)


Eren terus memandang para pasukan pengintai dengan kagum, aku berbicara pada mereka berdua.


"Hei kamu kagum dengan pasukan pengintai?" (Lutfy)


Eren melihat wajahku.


"Itu benar mereka sangat keren." (Eren)


Aku menyipitkan mata.


"Aku juga kagum." (Lutfy)


"Benarkah? itu hebat! kita orang yang sama, oh iya namaku Eren Yeager dan ini temanku Armin." (Eren)


"Halo aku Armin Arleth." (Armin)


"Halo, Namaku Lutfy Ozora." (Lutfy)


Setelah itu, aku bertiga berbicara banyak hal tentang pasukan pengintai, lalu berteman dengan Eren dan Armin.


Matahari terbenam, aku segera meninggalkan Eren dan Armin, lalu berjalan mencari penginapan di Distrik Shiganshina.

__ADS_1


__ADS_2