GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE

GOLDEN EMPEROR DRAGON DxD UNIVERSE
63- "Menyelamatkan Mikasa"


__ADS_3

Kemarin Levi sudah memburu para Titan sampai pagi tiba, dia sudah berburu kurang lebih 45 Titan berbagai jenis ukuran.


Para Pasukan Pengintai yang melakukan ekspidisi diluar dinding merasa keheranan melihat para Titan yang jarang keluar, dan mereka berasumsi bahwa Titan didunia ini telah berkurang, padahal itu adalah ulah dari Levi yang membunuh para Titan Kemarin.


Jadi Pasukan Pengintai yang melakukan ekspidisi bisa kembali ke dalam dinding dengan cepat.


Karena kemarin Levi bertarung sampai gas dan pedang Levi habis/tumpul, dia sekarang telah telat bekerja di kafe, dan dia menerima sebuah hukuman yaitu mencuci piring selama seminggu , mau tidak mau dia harus menerima hal itu, kalau tidak gajinya bisa dipotong.


Juga sekarang adalah waktu Levi untuk menyelamatkan Mikasa, Raphael memberitahu kalau hari ini adalah hari kematian dari orang tuanya Mikasa, dan Mikasa akan diculik oleh para penculik yang pada awalnya ingin menculik ibunya Mikasa, tapi karena Ibunya mati gara-gara melindungi Mikasa, jadi Mikasa yang diculik dan ingin dijual sebagai budak atau budak pelacuran.


Levi segera membereskan pekerjaannya dan segera bergegas ke tempat tinggal Mikasa.


Levi berlari dengan kecepatan cukup cepat sambil menggigit bibirnya.


Karena cuaca ini habis hujan, Levi membawa sebuah syal dilehernya, dan dia segera berlari ke tempat kosong untuk mengaktifkan sihir ruang dan waktu.


*Dikediaman Mikasa Ackerman


Terlihat ada dua orang dewasa dan satu gadis kecil yang manis.


Dua orang dewasa itu adalah orang tua gadis kecil itu, dan gadis kecil itu adalah Mikasa Ackerman yang masih berusia sekitar tujuh tahun.


Ayah Mikasa berpenampilan muda dengan rambut kuning serta badan yang sedikit berisi, dan Ibu Mikasa memiliki paras yang cantik serta diberkahi rambut hitam yang panjang dan halus.


Sedangkan Mikasa memiliki penampilan Gadis Kecil berambut hitam sedikit panjang, dengan wajah yang imut.


Ayah Mikasa sedang seperti menunggu seseorang didepan pintu rumah, Ibu Mikasa dan Mikasa sedang marajut sebuah kain dengan sangat terampil.


"Selesai! Ibu lihat!" (Mikasa)


Mikasa berbicara dengan wajah yang cerah, sambil memberikan kain yang habis dia rajut kepada Ibunya.


"Wah, bagus sekali Mikasa! cantik sekali loh!" (Ibu Mikasa)


Ibu Mikasa berkata dengan wajah yang tersenyum.


Mikasa bahagia mendengar pujian dari Ibunya.


"Rajutan ini sudah diwariskan turun menurun oleh suku kita, kamu juga kalau punya anak, ajarkan ini padanya nanti." (Ibu Mikasa)


Mendengar itu, Mikasa bingung.


"Ibu! bagaimana caranya membuat anak?" (Mikasa)


Mikasa berkata sambil memasang wajah polos, Ibu Mikasa bingung harus menjawab apa.


"Yah, coba tanyakan itu pada ayah." (Ibu Mikasa)


Ibu Mikasa melontarkan pertanyaan Mikasa pada ayahnya yang sedang mengupas sebuah apel.


Ayah Mikasa memasang wajah yang malu.


"Hei ayah bagaimana?" (Mikasa)


"Wa-Wah, ayah juga tak mengerti, Ah tapi Dr. Jaeger sebentar lagi akan tiba, kita tanyakan itu padanya." (Ayah Mikasa)


Ayah Mikasa panik dan mencoba mengalihkan pembicaraan, sedangkan Ibu Mikasa memasang wajah tersenyum kecut.


Tok. Tok. Tok.


Ketukan pintu terdengar.


"Wah? itu dia datang." (Ayah Mikasa)


Setelah itu Ayah Mikasa membukakan pintu tapi yang terjadi...


****!!


Seseorang tak dikenal menusuk perutnya, Ayah Mikasa langsung jatuh pingsan.


Ibu Mikasa dan Mikasa melihat tiga orang tidak dikenal masuk kerumahnya.


"Maaf mengganggu." (Pembunuh)


Salah satu pembunuh berkata sambil menunjukkan sebuah pisau yang ada darahnya.

__ADS_1


Ibu Mikasa yang melihat itu segera memasang wajah kusam dan perlahan mengambil sebuah gunting dengan tangan yang bergetar.


"Harap tenang, atau kepala kalian akan ditebas oleh ini." (Pembunuh 2)


Pembunuh berkata sambil mengangkat sebuah kampak.


Druk!


Ibu Mikasa segera berlari kearah Pembunuh itu, sambil berteriak seperti orang kehilangan kewarasannya.


"Mikasa! Ayo lari!" (Ibu Mikasa)


"Ibu!" (Mikasa)


"Ayo cepat!" (Ibu Mikasa)


Pembunuh yang kesal karena Ibu Mikasa memberontak segera mengangkat kampaknya.


"Sudah diam saja!"


****!!


Ibu Mikasa ditebas menggunakan kampak, darah keluar dari tubuhnya, dengan instan dia terbunuh.


Mikasa melihat itu segera memasang wajah kusam, dia tidak bisa melakukan apa-apa, cuman gadis yang pasrah akan kematian, dia berharap kalau seseorang akan menyelamatkannya.


"Hei bodoh! apa yang kamu lakukan? aku bilangkan bunuh ayahnya saja, dasar bodoh!" (Pembunuh 1)


"Habisnya wanita ini—" (Pembunuh 2)


"Jangan cari alasan." (Pembunuh 1)


Pembunuh terus berdebat sedangkan Mikasa memandang kedua orang tuanya yang dibunuh dengan wajah takut dan suram.


Salah satu pembunuh mendekat kearah Mikasa yang dari tadi diam seperti sebuah patung.


"Hei, sebaiknya kau menurut saja, kalau tidak, begini akibatnya!" (Pembunuh 2)


Setelah itu Mikasa dibawa ke sebuah rumah kayu di pelosok desa, para pembunuh ingin menjual Mikasa sebagai Budak.


Levi sekarang sudah berada didepan rumah Mikasa, dan ingin mengetuk pintunya.


Tok. Tok. Tok


"Permisi!" (Levi)


Levi menunggu jawaban dari dalam, tapi tidak ada yang menjawab.


"Permirsi! ada orang?" (Levi)


Levi mengkerut alisnya dan segera membuka pintu.


Setelah dia membuka pintu, Levi melihat Ayah dan Ibu Mikasa yang sudah tergeletak ditanah sambil berdarah.


"Kotoran!"


Levi terkejut sampai mengeluarkan kata-kata kotor, dia segera memeriksa keadaan orang tua mikasa.


Dia mengecek pernapasan kedua orang tua Nikasa, lalu juga mengecek denyut nadinya.


"Mereka meninggal!"


Mengetahui hal itu, Levi memasang wajah bersalah karena dia terlambat untuk menyelamatkan mereka, bahkan matanya mengeluarkan air mata, dia tidak tega seseorang tanpa bersalah mati dengan alasan tidak jelas.


Setelah memikirkan hal itu, dia teringat seorang gadis kecil.


"Mikasa!"


Levi berteriak, tapi tidak ada jawaban, dia mengira kalau Mikasa sudah diculik oleh pembunuh bajingan itu.


Raphael-san, cepat aktifkan Sihir Ruang Dan Waktu dengan Koordinat Mikasa Ackerman Diculik, Cepat!!


« Sihir Ruang Dan Waktu : Tempat Pembunuh Menculik Mikasa Ackerman»


Portal bundar muncul didepan Levi, dia segera berlari memasuki portal itu.

__ADS_1


Ketika dia keluar, dia sekarang berada disebuah rumah kayu yang cukup usang, dan dia juga mendeteksi radius keberadaan dari para pembunuh.


Bahkan dia juga merasakan kehadiran Mikasa, Levi kesal dan menggigit bibirnya, lalu masuk kedalam rumah kayu itu.


DORR!!


Levi menendang pintu dengan wajah yang marah, pembunuh terkejut, Mikasa hanya tetap diam seperti mesin robot.


"Hei keparat! lepaskan dia." (Levi)


Mendengar perkataan Levi, pembunuh tertawa, mereka berpikir seorang bocah berusia 7 tahun ingin melawan orang dewasa? jangan bercanda.


Itu sebenarnya adalah wujud yang Levi minta yaitu ingin menjadi anak 7 tahun, aslinya usia Levi adalah 17 tahun.


"Hahaha! bocah lebih baik kamu pergi saja! di sini bahaya." (Pembunuh 2)


"Antarkan dia kedepan." (Pembunuh 1)


"Dia gila." (Pembunuh 3)


Pembunuh 2 mendekat kearah Levi, Spontan mendengar perkataan para pembunuh, Levi segera mengeluarkan pedang dari inventarisnya.


CLACK!


Levi mengangkat satu pedang, para pembunuh terkejut karena pedang itu muncul entah dari mana.


"Bocah ini Iblis!" (Pembunuh 2)


Sedangkan pembunuh 1 dan 3 hanya memasang wajah bodoh.


Levi segera memasang wajah tersenyum jahat dan mencincang mereka seperti daging babi.


SLASH! SLASH!


Seketika semua para pembunuh mati karena tebasan dari Levi.


Levi lega karena pembunuh itu mati, dan mendekat kearah Mikasa yang dari tadi memandang Levi.


"Apa kamu terluka?" (Levi)


Mikasa mengangguk pada perkataan Levi, lalu Levi segera mengeluarkan peralatan medis dari inventarisnya, Mikasa terkejut karena peralatan medis itu muncul entah dari mana.


"Aku akan mengobatimu diluar, disini gelap." (Levi)


Mikasa mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah kayu.


Levi segera mengobati Mikasa yang terluka, Mikasa memasang wajah kemerahan, tapi wajahnya juga tampak menggigil karena cuaca sekarang habis hujan.


"Apa kamu kedinginan?" (Levi)


Mikasa menggelengkan kepalanya, Mengabaikan hal itu, Levi dengan cepat menyelimuti Mikasa dengan syalnya.



(Kayak Dianimenya)


"Aku harap ini menghangatkanmu sementara." (Levi)


"Hangat!" (Mikasa)


Mikasa berkata sambil memasang wajah yang tenang, ditambah kemerahan, detak jantung bertambah cepat karena hal ini.


Tap. Tap. Tap.


Suara langkah kaki orang berlari mendekat kearah mereka, ada 4 orang yang mendekat kesana, 1 orang berambut hitam panjang memakai kacamata, lalu dua orang memakai baju militer itu adalah polisi militer, dan satu bocah berambut coklat.


Pria berambut hitam panjang itu berbicara sambil berteriak,


"Mikasa! terima kasih tuhan! kamu baik-baik saja." (Grisha)


Pria itu adalah Grisha Yeager, ayah sari Eren Yeager, dan ada juga Eren disamping Grisha.


"Lutfy kenapa kamu disini?" (Eren)


[ Catatan : Lutfy adalah nama samaran dari Levi. ]

__ADS_1


Setelah itu Levi segera menjelaskan apa yang terjadi pada mereka, Grisha sangat berterima kasih pada Levi, Levi membalas itu dengan senyuman kecut, awalnya Mikasa disuruh tinggal dengan Eren juga keluarganya, tapi dia menolak, dia berkata ingin tinggal dengan Levi, tapi setelah diyakinkan oleh Levi, Mikasa menerimanya dan pada akhirnya Mikasa akan tinggal di Keluarga Yeager seperti di animenya.


__ADS_2