
Kukuruyuuuk..... kukuruyuuuk....
Alarm berbunyi riang seperti biasanya.
"Hoamm, duhhhh lelah banget, padahal aku baru aja bangun, kok rasanya kayak habis kerja rodi". Ucapku sambil komat-kamit.
Setelah mengumpulkan nyawa di kasur, aku langsung siap-siap menerobos kamar mandi. Selesainya rapi-rapi, aku langsung cuss ke sekolah.
Hari ini, berbeda sekali dengan hari biasanya, jika hari biasa aku datang telat dengan ketiga temanku yang setia itu, sekarang aku langsung bergegas ke sekolah tanpa berkumpul seperti biasanya.
Aku ini termasuk siswa yang telat terus datang ke sekolah, tapi tenang saja, aku bukan telat karena kesiangan atau apapun itu, tapi telat karena belajar kelompok dahulu di rumah sebelum berangkat ke sekolah. Jarak rumahku ke sekolah sangat dekat sekali, orang bilang si kepeleset juga sampai, padahal enggak tuh, tapi saking dekatnya jarak rumah dengan sekolah, sampai bel sekolah pun kedengaran loh. Makanya aku dan teman-teman selalu berangkat setelah bel berbunyi nyaring, alhasil kita telat beberapa menit deh.
Aku Aprilia, duduk di kelas paling bungsu di sekolah yaitu kelas 7 SMP. Aku masih baru di sekolah ini, ya jelas karena masih kelas 7, masih beradaptasi dengan lingkungan dan aturannya. Kalau di sekolah ini, setiap UKK atau Ujian Kenaikan Kelas pasti ruangannya berbeda, satu kelas akan dibagi menjadi dua dan duduk dengan adik atau kakak kelas. Sehubung aku masih bungsu, jadinya aku duduk sama kakak kelas.
Hari pertama UKK pasti siswa bergaduh mencari-cari ruangannya, karena itu kegiatan belajar bareng di rumah ditiadakan dahulu, agar bisa dapat duduk santai di kelas sambil belajar mengingat materi semalam suntuk yang sudah dipelajari.
Aku dapat ruang 8 bersama dengan kedua temanku, tapi satu temanku berpisah sendiri. Setelah beberapa lama mencari ruang 8, akhirnya ketemu juga, ruang itu ada di lantai tiga di bagian kedua dari kanan bangunan itu. Kemudian aku langsung masuk ke kelas dan membaca satu persatu tempelan-tempelan kertas di atas meja itu.
"Haduh, ulangan aja ribetnya kayak gini ya, udah pusing duluan padahal ujian belum dimulai, tapi harus ngamatin ruangan satu-persatu, belum lagi ngamatin kertas-kertas ini". Ungkap kesalku.
__ADS_1
Gak mau ribet, akhirnya aku berpikir kalau nama yang mulanya dari huruf a pasti dapat di banjar 1 yaitu barisan paling pertama dari pojok kanan, keyakinan aku memang benar, aku duduk di banjar 1 shaf 4, dapat tempat duduk yang pojok adalah keberkahan anak sholehah. Kemudian, aku duduk sambil membuka tas serta mengeluarkan buku-buku mata pelajaran yang nantinya akan diuji dan tidak lupa aku mengeluarkan air minum.
Aku ini tipe cewek yang kikuk dan gak nyaman dengan laki-laki, makanya aku selalu berharap jika yang duduk sebangku dengan aku itu perempuan, selalu berharap seperti itu setiap akan ulangan. Harapan tak semudah didapat, dan aku lagi-lagi duduk sebangku dengan laki-laki. Tapi walaupun aku gak nyaman duduk dengan laki-laki, aku masih normal loh ya.
Saking fokusnya dengan buku-buku ini, aku kaget sekali ketika sadar 10 menit lagi akan dimulai ujiannya. Tetapi kakak kelas itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Padahal sudah 10 menit lagi akan dimulai.
Beberapa menit kemudian, muncul sesosok laki-laki yang tiba-tiba datang dengan tersengal-sengal dan menaruh tas di meja. Mungkin dia lelah lari mengejar waktu sambil mencari ruangannya.
****
Kriinggg....kringg.....
Bunyi bel sekolah, ulangan pun dimulai, sebelum pengawas datang, aku memanfaatkan waktu dengan membaca surat al-insyiroh 7x, karena surat itu menjelaskan tentang sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, makanya setiap kali aku menghadapi ujian, aku akan selalu membaca surat tersebut.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya. Sebelum ujian dimulai, kita berdoa terlebih dahulu, ketua kelas diharapkan untuk memimpin doa". Ucapnya.
Kertas ujian pun dibagikan kepada siswanya, setelah menerima kertas tersebut aku langsung mengerjakan soal itu dan tidak menghiraukan semua yang terjadi di ruang ini. Teman-teman aku duduk berjauhan, tidak ada yang jangkauannya dekat denganku, ditambah lagi satu teman dekatku pisah dengan ketiga teman setianya ini, dia sendirian di ruangan 9, tapi tenang saja, dia sangat jago sekali akrab dengan yang lainnya.
Setelah selesai mengerjakan soal yang mudah, aku langsung memeriksa soal yang belum sempat ku jawab, dan mencoba berpikir kembali soal-soal yang rumit namun tetap saja buntu. Waktu ujian masih cukup lama, maka aku bersantai dulu karena tinggal dua nomor yang belum ku jawab, siapa tau Ilham datang memberi jawaban.
Karena waktu masih panjang, akhirnya aku memanfaatkan waktuku untuk melihat sekeliling, dan memperhatikan jawaban kakak kelas yang sebangku denganku. Kakak kelas itu mukanya kalem dan juga santai sekali mengerjakan ujiannya.
Sampai tiba 5 menit lagi, kelas yang tadinya hening berubah menjadi gaduh. Temanku bertambah satu sebagai teman kerjasama untuk menuntaskan ujian, teman akrab jika sedang ujian saja jika tidak ujian, ya kami sebatas say hello saja.
__ADS_1
"Pril, pril, nomor 7 apa?" Sambil nengok ke belakang.
"B". Jawaban singkat dengan tempo cepat.
"Kalau 10 apa?"
"D"
"20?"
"A, eh eh kalau nomor 11 itu apa?" Balik bertanya.
"B"
"Nomor berapa lagi?" Tanya Ezri.
"Nomor 17 apa?" Jawabku.
"C, Nomor berapa lagi?" Tanya Ezri.
"Udah, udah." jawabku
Begitu baiknya teman dadakanku. Saling bekerja sama membantu kawannya, begitu pun dengan kakak kelas yang saling bekerja sama dengan teman-temannya.
Waktu habis, silahkan dikumpulkan ujiannya.
Setelah mengerjakan ujian, selalu saja ada kecemasan yang hanya ada di dalam diriku, yang ku lihat semua orang di kelas ini dengan santainya mengumpulkan soal dan kertas jawaban. Sedangkan aku?? Aku berharap soal dan jawaban ulangan ini dikumpulkan oleh guru yang berjalan mengitari tiap kursi siswanya, tapi sayangnya guru pengawas itu menyuruh siswanya untuk maju ke depan mengumpulkan soal dan latihan di mejanya sesuai dengan nama yang dipanggil.
__ADS_1
Itu sih bukan masalah besar, yang ku sesali itu bagaimana caranya keluar dari tempat ini, sedangkan aku duduk di pojok otomatis harus melewati kakak kelas sebangku ku itu. Saat namaku dipanggil, kakak itu langsung menggeser tubuhnya ke arah kiri, dia mempersilahkan ku keluar, tapi kenapa dia enggak peka gitu, kalau dari tadi wajahku linglung karena diberi tempat keluar yang sempit itu. Kalau aku kurus si enggak masalah ya, tapi badan aku itu berisi. Udah pasti gak muat lewat situ, kalau dia peka seharusnya dia berdiri dan menjauh dari tempat duduknya dan menunggu ku mengumpulkan kertas ujian baru duduk kembali.
Akhirnya aku keluar dari tempat itu, dan benar saja dugaanku, saat keluar gak sengaja aku berdempet dengan dia, coba kalian pikir, risih gak si kalo gak sengaja kena badan dia, mungkin dari kejadian itu aku sebel banget sama kakak kelas rese itu. Sampai pulang pun masih saja gak mood karena kejadian yang tadi.