Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 19


__ADS_3

Ketika ulangan, kau dan aku duduk bersama, bermunculan sesal namun berakhir cinta. Namun itulah rentetan peristiwa yang terukir indah di dalam hidupku. Mengetahui berbagai macam perasaan yang ku selami satu persatu perasaan itu. Itulah alur cintaku yang berjalan mulus ketika ulangan satu ruangan dengannya.


Kembali lagi ke masa SMP ku di kelas 8, Waktu itu aku sedang membangga-banggakan rautanku ke teman-temanku, aku bercerita jika rautan ini terdapat bekas tangan si Kaki. Aku jaga rautan itu, sampai-sampai aku membawa dua rautan di kotak pensilku. Temanku pun ikutan senang walaupun mengataiku lebay, tapi tak mengapa, yang terpenting aku masih bisa melekat dengan jejak tangannya di rautanku. Kalau bisa, akan ku museum kan rautan itu. Rautan seharga lima ratus perak, berwarna hijau tua jika rautan itu ditiup maka tidak tajam lagi. Nilainya langsung naik ketika jejak tangan seseorang yang disukai menempel pada rautan itu.


Aku membawa dua rautan karena aku mewanti-wanti jika ada yang meminjam rautan ku, akan ku kasih rautan yang lainnya. Pokoknya rautan bekas tangan si Kaki hanya aku saja yang boleh memakainya.


Tempat dudukku pada Ahad ini pindah di barisan depan, paling depan sekali, sampai-sampai bisa melihat dengan jelas struktur muka guruku. Ketika ada guru yang tidak masuk kelas karena berhalangan hadir, aku pindah ke dekat Zena yang duduk di barisan kedua dari belakang. Aku hanya membawa satu pensil dan satu buku tulis untuk mengerjakan soal yang ditugaskan oleh guru, karena pelajaran Bahasa Arab jadi aku harus membawa rautanku agar bisa langsung ku gunakan saat pensil sudah tumpul, aku salah besar membawa rautan cap tangannya Kaki. Ketika aku sedang fokus-fokusnya mengerjakan tugas, pensilku patah. Aku kembali lagi menyuarakan kesenangan aku atau kebahagiaanku saat menyentuh cap tangannya si Kaki di rautan itu. Zena hanya mendengarkan ocehanku sambil mengerjakan tugas, ia sangat tidak masalah akan hal itu, karena suasana di kelas juga sedang ramai-ramainya. Biasalah suasana kelas tanpa guru itu seperti apa.


Saat aku mengeluarkan kata-kata tanpa henti dalam menyanjung-nyanjungkan rautanku, teman dadakan ku si Ahmad, dia tiba-tiba menghampiri ku, aku bingung saat itu, ternyata ia mau minjam rautan dan langsung merampas rautan kesayanganku itu. Aku shock, barang kesayanganku diambil oleh orang lain. Ia pun keluar kelas meraut pensil di atas tempat sampah. Aku yang sedari awal mengingatkan Ahmad untuk berhati-hati menggunakan rautan itu dan kujelaskan secara rinci kenapa rautan itu sangat berharga buat ku karena terdapat jejak tangan si Kaki yang susah sekali ku dapatkan.


Ahmad berjalan masuk ke kelas dan ingin menaruh rautan ke dalam tempat pensilku yang ku taruh di bangku barisan depanku. Muka Ahmad berubah 360°, seketika itu ia sangat tidak lucu sekali, karena bercanda-canda dengan rautan itu.


"Pril, Aku injak ya rautannya, yailah rautan bekas doi aja pake disanjung segala." ucap Ahmad.


"Enggak, enggak! Enak aja, susah tuh dapetinnya!" ucapku dengan nyolot.


"Emang Ahmad pikirin! wleee. Injek nih ya, lagian cuma dapat bekas tangannya aja sampai segitunya. Lebay banget si. Bekas tangannya juga udah hilang yang ada malah bekas tangan Ahmad, Hahaha."

__ADS_1


"Biarin, rautan-rautan siapa, kalo minjam tau diri dong! Setidaknya bekas Kaki lebih membekas di hati, tak akan hilang bekasnya."


"Oke, injek yaa".


Rautan itu dijatuhin ke bawah, lalu beneran diinjek sampai berkeping-keping tak terwujud. Pecahannya halus sekali, memang tega banget itu orang. Aku terpukul karena di depan mata ada seseorang yang bahkan baru ku kenal dengan mudahnya merenggut kesenangan ku. Aku langsung berdiri dan menghampiri rautanku yang sudah berpecah-pecah. Setidaknya kenapa ia melakukan itu? Jahat banget jadi orang.


Aku langsung mengambil butiran-butiran rautan yang telah diinjak oleh orang gak jelas itu. Aku punguti satu-satu pecahannya.


"Minggir Pril, mau disapu dulu. Sini pecahannya. Udah hancur jangan diambil lagi. Udah enggak guna." Ahmad mengambil pecahannya dari tanganku.


"Jangan nangis! Cuma rautan aja ditangisin, dasar cengeng!"


Benar-benar lebih ngeselin dari Ezri, tadi malam aku mimpi buruk apa sampai bertemu orang kayak dia. Kejam banget. Dia belum tahu aja gimana rasanya jatuh cinta saat orang yang dicintai bisa meninggalkan jejak pada benda-benda yang ku punya seperti rautan itu. Itu kan hal yang sangat berharga.


Aku beneran marah sekali, aku diam, tidak berkata sepatah kata pun dan masih menatapi pecahan halus rautan itu.


"Awas, awas, jangan mejeng di sini, pengen disapu dulu. Berantakan enggak enak dipandangnya." begitulah ucap Ahmad.

__ADS_1


Pecahan-pecahan rautan itu disapu sampai bersih tak ada satupun yang tertinggal. Aku kembali ke bangku sambil menatap kosong. Aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan jejak tangannya si Kaki itu. Perlahan-lahan ku pikirkan dengan sesak dan amarah yang masih menyelimutiku.


Pikiranku memberikan pesan yang sudah ku lupakan, padahal pesan itu penting sekali buat ku. Aku baru ingat jika aku memiliki dua rautan yang terdapat jejak cap tangannya si Kaki. Satu rautan jejak itu ku bawa ke sekolah untuk menyemangati ku belajar dan satu lagi aku simpan rapat-rapat di dalam lemariku. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu selain aku dimana rautan itu berada.


Mukaku yang tadinya sedih berubah ceria. Awan mendung langsung hilang digantikan oleh awan-awan yang riang sekali, burung-burung pun terbang gembira di antara awan yang riang. Ketika feel ku naik, aku langsung mendatangi Ahmad, dan meledeknya bahwa aku masih punya satu lagi jejak tangannya si Kaki, jadi percuma saja dia menghapus jejak itu. Hahahaha, puas sekali saat aku melihat wajahnya itu.


Sisa hari itu aku gunakan untuk meledek Ahmad sepanjang hari. Rasakan pembalasanku. Memangnya aku bisa terperdaya oleh injakan kakinya itu. Kaki yang tidak ku sukai itu. Rasanya seperti menang dari dia. Senang sekali bisa membalas perbuatannya. SATU KOSONG! ungkap sombongku.


"Liat aja, nanti juga bakal ku hancurkan rautan satunya, Lihat saja nanti!"


"Coba aja kalau bisa, silakan injak-injak lagi rautannya."


"Okeeey, tunggu tanggal mainnya."


Aku tahu kok itu hanya kata-kata candanya saja, mana mungkin ia masuk ke rumahku seperti maling hanya untuk mengambil rautan. Pasti ia tidak berani melakukan hal itu. Karena yang aku tahu, Ahmad bukan orang yang seperti itu walaupun dia kejam.


Aku dan Ahmad terus menerus adu bacot, seorang pendiam jika ada orang yang menyalakan api pada sumbunya ia akan meledak lebih dahsyat dibandingkan orang-orang yang bebas mengekspresikan emosinya. Hanya menunggu waktu yang tepat saat semua kemarahannya itu meledak. Bahkan ledakannya bisa membuat orang lain yang merendahkan takjub. Tapi terkadang sebelum benar-benar meledak, ia akan memikirkan hal positif dan negatif dahulu sebelum ia meledakkan bomnya. Makanya jangan sekali-kali bermain api dengan orang pendiam. Rangkul dan bersikap baik dengannya, kalau membuatnya nyaman pasti ia juga bisa menyenangkan kok. Seperti aku ini. Bisa dibuat nyaman dan berkawan dengan teman-teman sekelas. Padahal aku sangat anti sekali jika berbicara kepada orang lain selain para sahabatku. Baru kali ini aku mendapatkan kelas yang sangat solid sekali. Walaupun ada si rese Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2