
Itulah ceritaku, cerita semasaku dulu, sekarang aku sedang menikmati waktuku bersamanya, menghirup udara segar yang menjernihkan pikiranku, melihat pemandangan ombak yang bergulir satu sama lain serta burung yang menari ke sana-ke sini, dan pohon kelapa yang berjoget ria.
Aku senang sekali bisa berada di sini berdua dengannya. Keromantisan ini tidak ingin ku lewatkan begitu saja, berdua dengannya di pantai yang tentu saja masih asri sekali, belum banyak orang yang menjamah pantai ini. Sekarang hanya ada aku dan dia di pantai ini. Menikmati hari berdua setelah melangsungkan pernikahan.
Hari yang begitu bahagia walaupun aku tidak pernah menyangka bisa menikmati hari itu. Aku selalu mencemaskan pernikahan, selalu gelisah akan jodoh, dan hal-hal yang sakral seperti itu. Apalagi saat detik-detik pernikahan akan dilangsungkan. Suasana yang dulu pernah hilang, kini kembali lagi, aku yang dulu mati-matian menghilangkan rasa ini, tapi bisa tumbuh kembali dengan mudahnya. Jantungku berdetak kembali, kali ini detakannya lebih cepat daripada kemarin. Saat aku mengejar Kaki.
Aku sangat berterima kasih kepada Allah karena sudah memutuskan ia menjadi milikku. Aku tidak ingin mengecewakan keputusan-Nya, aku akan menjaga keputusan itu. Aku akan terus berada di sampingnya sampai surga nanti.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aprilia binti Muhammad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai...."
"Sahh...sah...sahh..."
Hari itu sangat takjub sekali, aku terharu mendengarnya, mataku sudah berlinang-linang.
"Ayo, Pril. Kamu sudah boleh duduk di samping pasanganmu."
Dengan jantung berdebar-debar, semua perhatian tertuju padaku. Aku menjadi seorang ratu sehari, pandangan mata yang mengharukan terus-menerus memandangku. Aku gugup sekali.
"Tenang, Pril. Semua akan berjalan dengan baik. Kamu harus tenang ya." ucap Naren
"Asikk ratu April, semangat!!!."
Aku berjalan perlahan menuju tempat prosesi akad yang dilakukan di depan singgasanaku. Aku melihat seorang lelaki yang bisa menerimaku apadanya, selalu menyebut namaku berkali-kali di dalam sholat malamnya dan doanya, ia selalu menantikan kehadiran ini. Dia menoleh ke arahku dengan senyuman yang paling indah menurutku. Matanya yang bulat seakan menunjukkan betapa cintanya dia padaku.
Dengan petunjuk yang ia dapatkan, akhirnya ia yakin denganku. Seorang yang penuh tanggungjawab dan tidak ingin membuat seorang wanita menjadi piala bergilirnya, makanya ia langsung memutuskan hal penting seperti ini.
Aku pun duduk di sampingnya, dengan harum bunga yang sangat melekat di dalam acara sakral ini. Aku dipakaikan cincin olehnya serta bersua foto dan menunjukkan buku nikahku. Dia yang sedari tadi gugup terganti menjadi kebahagiaan. Aku dan dia tersenyum bersama karena masih tidak pernah terpikir bahwa aku dan dia bisa melangsungkan pernikahan.
Moment bahagia itu tidak pernah ku lupakan. Hari bahagia kami. Saat ku kejar cinta dengan raga, saat itu juga cinta mengejarku lewat doa dan sholatnya, yang terus-menerus ia ucapkan setiap hari selama bertahun-tahun sampai ia yakin untuk meminangku.
Saudara-saudara ku tersenyum bahagia ketika melihat aku dan dia di pelaminan ini, bersalam-salaman dengan memanjatkan doa untukku dan suamiku. Semua ini adalah rencana yang paling indah dan nyata.
__ADS_1
"Terima kasih, ka. Atas semua perjuanganmu selama ini."
"Iya dek, kakak juga terima kasih karena kamu telah menerima kakak."
Aku langsung salim dengannya dan dia pun menyium keningku.
Semua yang ku lalui hari ini seperti mimpi, aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku benar-benar menganggap semua ini mimpi saking tidak percayanya.
"Pril, kamu enggak mimpi kok. Coba cubit kakak."
Aku langsung menyubitnya.
"Aw.. kirain bakal pelan nyubitnya, sakit banget tau."
"Hehehe maaf ka, tadi kakak sendirikan yang nyuruh nyubit."
Seharian itu aku tidak tahu berapa lama aku tersenyum dan tertawa. Semuanya begitu indah, aku harap pernikahan ini abadi.
"Wahh, iya dong, terima kasih sudah datang, silakan menikmati hidangan."
"Siap."
Satu persatu tamu datang, tanganku sudah mulai kram begitu pula dengan kakiku. Hari yang begitu lelah dan sangat bahagia. Langit berwarna oranye sama dengan nuansa saat ini. Aku dan dia kembali berganti baju. Masih ada beberapa waktu untuk menyambut para tamu yang hadir, badanku sudah remuk semua. Kelelahan menyalami tamu satu-persatu.
Waktu menunjukkan jam 10. Aku kembali berganti baju, aku sudah tidak lagi memakai baju pengantin. Menghapus make-up yang sedari tadi menghias wajahku. Akhirnya aku bisa memakai baju yang nyaman serta menghapus make-up yang mulai gatal.
Memang ya, penampilan sehari-hari sangat nyaman sekali berbeda saat tadi. Apalagi kalau aku menjadi seorang putri ataupun ratu kerajaan beneran ya. Pasti hidup jadi berat banget, menanggung ketidaknyamanan. Untung aku dilahirkan sebagai orang biasa yang saat ini menjadi luar biasa karena telah bersama dia.
Kebiasaan sendiri mulai berubah, aku masih menyesuaikan keadaan. Tadinya aku tidur sendiri di kasurku, sekarang aku harus berbagi kasur. Aku dan dia tinggal tiga hari di rumah orang tuaku, setelah itu, aku dan dia menempati rumah yang telah ia beli dari keringatnya sendiri. Ia sengaja mengumpulkan uang demi membeli rumah itu, agar rumah tangga kami tidak ada yang ikut campur, tetapi sebelum menempati rumah, aku dan dia ingin honeymoon ke pantai.
Dia sangat taat sekali beribadah, selalu tepat waktu melaksanakan sholat, mengajariku agama, menceritakan tentang dirinya yang belum sempat ia ceritakan padaku. Dia itu sempurna di mataku. Terima kasih ya Allah, telah membuat ia bersamaku. Aku sangat bersyukur sekali memiliki dia.
__ADS_1
Begitu lelahnya aku dan dia pada hari ini, kami pun tertidur pulas sampai pagi. Sampai-sampai saat aku dan dia terbangun, kami sama-sama kaget, karena ada orang di kamar selain diri sendiri. Saking capeknya jadi lupa kalau kami sudah menikah.
Aku bangun tidur dan menyiapkan sarapan pertama untuk suamiku.
"Nasi goreng spesial sudah siap, silakan makan."
"Wah cantik sekali nasi goreng dan tukang gorengnya, terima kasih ya."
"Iya, cobain dulu, gimana rasanya?"
"Enak banget, ini beneran kamu yang masak?"
"Iya dong, siapa lagi yang masak kalau bukan aku, hehehe."
"Hahaha iya, aku percaya kok."
Aku sarapan bareng dengannya. Mungkin hari ini, kami akan melakukan hal-hal pertama kali, seperti pertama kali memasakan untuknya, pertama kali sarapan bareng, pertama kali jalan-jalan bareng, pertama kali lari bareng, dan lain-lain.
"Ka, kenapa sih kamu milih aku untuk jadi istri kamu?"
"Kenapa ya? Kira-kira kenapa ya dek?"
"Kan aku nanya ke kakak, masa kakak nanya balik ke aku lalu aku nanya ke siapa dong?"
"Hahaha, iya dek, jadi aku tuh sebenarnya udah jatuh cinta saat pertama kali kita bertemu dek, apalagi saat aku tahu mengenai dirimu, cinta itu semakin bertambah dek."
"Memangnya aku itu gimana ka? Kok bisa-bisanya seorang wanita seperti aku bisa membuat kakak jatuh cinta?"
"Kamu itu beda dek dari perempuan yang lainnya, dimana saat perempuan yang lain beradu cinta ataupun menjelajahi hal-hal viral, kamu malah berdiam diri di kamar dan jarang sekali keluar rumah. Aku mencari perempuan yang seperti itu dek. Perempuan yang setia dan menjaga pandangannya serta tidak ikut-ikutan hal-hal yang tidak bermanfaat. Kamu juga penurut, lelaki mana yang tidak suka denganmu. "
Muka ku pun langsung memerah, sudah lama sekali, merah itu tidak muncul di mukaku. Sampai dia pun meledekku.
__ADS_1