Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 38


__ADS_3

Jadi, kenapa aku dan dia menikah, kejadiannya itu pada hari jumat, karena itu hari terakhir masuk kerja di ahad ini, esoknya sudah mulai libur, dan juga para temanku sedang ngumpul di rumahku, kami sedang curcol. Menceritakan hal yang terpendam, entah itu amarah, bahagia, kesedihan, keterpurukan, keberhasilan, kegagalan, ataupun yang lainnya. Aku dan para sahabatku wajib ngumpul, pokoknya diantara hari Jumat sore, Sabtu, ataupun Ahad. Pasti selalu memilih diantara ketiga hari itu.


Kami memutuskan untuk kumpul di hari Jumat. Berkumpul di kamarku. Aku senang sekali jika mereka hadir di sini. Setidaknya bebanku menghilang saat ada mereka.


Aku ingat sekali, sekitar jam 2 siang ada yang mengetuk pintu rumah, aku bingung siapa yang ketuk, biasanya tidak ada tamu yang datang.


Tok.... tok.... tok....


"Assalamu'alaikum."


Karena aku belum memakai kerudung, aku langsung lari ke kamar mengambil kerudung.


"Wa'alaikumsalam, iya tunggu dulu ya."


Saat pintu itu ku buka, aku kaget.


"Eh, dek April toh yang buka, ibu dan bapak kamu ada?"


"Eh iya ka, ada ka di dalam, ayo masuk, duduk dulu ya ka."


"Iya dek."


Aku langsung ke dalam mencari ibu dan bapakku.


"Bu, Pak, ada tamu."


"Siapa Pril tamunya? Si Pio bukan? Kamu buat minum dulu ya Pril."


"Iya Pak, ada kak Pio di ruang tamu."


Aku langsung membuatkan minum di dapur. Saat aku ke ruang tamu, aku menyuguhkan minuman.


"Ayo, ayo nak, diminum dulu. April, kamu di sini dulu aja ya, duduk dulu di sini."


Sebenarnya aku mau kembali ke kamar untuk memberitahu sahabatku, kalau aku tinggal sebentar karena sedang ada tamu, tapi karena bapak sudah memberi perintah, jadinya aku menurut saja.


"Jadi begini Pril, kamu sudah kenalkan dengan Pio?"


"Iya pak, April sudah kenal."


"Pio ini datang ke rumah ingin mengajukan diri menjadi suamimu. Jadi kamu mau tidak menerima ajuannya?"

__ADS_1


Saat itu aku bingung sekali. Aku teringat saat aku sedang berkirim pesan dengannya, ternyata saat mengirim pesan itu, ada satu hal yang baru aku ketahui, dia mengirim pesan bukan karena iseng ataupun modus, tapi ia ingin mengenalku lebih dekat saja. Di dalam pesan itu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan layaknya pewawancara yang sedang mewawancarai ku, pertanyaan itu seperti apakah aku bisa bahasa Inggris, apakah aku masih mengaji, bagaimana sekolahku. Pertanyaan-pertanyaan yang halus itu tidak aku sadari, karena teknik ia saat bertanya itu yang membuatku tidak sadar kalau aku sedang diinterogasi olehnya.


Dengan kegugupanku, aku menjawab iya. Aku sangat yakin sekali, kalau ia lelaki yang tepat sebagai imamku, aku pun sudah memperhatikannya lewat media sosial dan menurutku dia sudah memenuhi syarat sebagai calon suami, sudah sesuai kriteria dalam agama Islam, dia sanagt mengerti agama dan dia mengamalkannya, dia juga berpendidikan, dan lain-lain.


Lagipula, kedua orangtua ku sangat setuju kalau aku dengannya. Kapan lagi seseorang yang seperti itu datang melamar ku kalau bukan dia? Aku tidak ingin membuang berlian, aku sambut dia dengan baik.


"Hmm.. Aprrill... terima dia pak."


"kalau April sudah setuju, besok saya akan membawa keluarga besar serta membawa uang untuk biaya pernikahan nanti, pak."


"Oke, kamu besok mau datang ke sini pagi, siang, sore, atau malam?"


"Saya datangnya setelah sholat Isya, pak."


"Oke kalau gitu, bapak, ibu, dan April akan menunggu kedatangan kamu dan keluargamu. Nanti kita bicarakan tanggal pernikahannya ya."


"Saya pamit dulu ya pak, ingin memberi kabar gembira ke orangtua saya."


"Iya nak Pio."


Aku yang sebenarnya masih kaget segera membereskan gelas lalu masuk ke kamar dengan segala pertanyaan di dalam benakku.


"Tadi itu kak Pio datang ke rumah."


"Ada apa, Pril? Kok mukamu bingung begitu?"


"Eh, anu, jadi tadi kak Pio datang bertemu dengan kedua orang tuaku, lalu ia menyampaikan maksud baiknya itu."


"Menyampaikan maksud baik?"


"Iya, jadi dia ingin melamarku."


"Hah, serius Pril?"


"Iyaa, ngapain aku boong. Besok dia datang lagi ke rumah membawa keluarganya sekalian bawa duit serta membicarakan tanggal pernikahan."


"Alhamdulillah, akhirnya April tidak jadi zombie lagi. Yeayy. Selamat April."


"Tuhkan Pril, rencana Allah itu indah banget kan."


"Iyaaa, rencana Allah itu indah banget."

__ADS_1


"Asikkk nih, sebentar lagi punya pendamping, jadi gak sendirian lagi, hehehe."


"Sttt... udah kek jangan bercanda."


"Hahaha iyaa, maaf ya."


Kemudian, para sahabatku merayakan hari itu, mereka suka sekali bersorak-sorak. Bahagia saat temannya akan menikah.


"Yaudah jadi kami boleh nginep gak? Kebetulan besok kan hari Sabtu, jadi libur kerja. Boleh ya Prill, biar besok kami bisa bantu-bantu."


"Iya, kalian boleh kok nginep, pintu rumah selalu terbuka untuk kalian semuaaaaaa. Asiikkkk."


"Yaudah aku pinjem baju yaa."


"Aku balik sebentar dulu ya Pril, mau ngambil baju dan peralatan lainnya."


"Iya, iya, terserah kalian aja, yang penting nanti kalian di sini lagi yaa."


Malam itu, para sahabat menemaniku, aku gugup setengah mati untuk hari esok. Aku juga bingung, harus bicara apa saja.


"Udah Pril, tenang aja, kamu ikuti saja alurnya. Nanti kami juga ada di sana kok. Kami akan bantuin kamuu."


"Gimana mau tenang, aku kan belum pernah mengalami ini."


"Aku juga belum Pril, makanya aku mau belajar dari kamu hehe."


Aku belajar ngomong, saking gugupnya suaraku jadi serak. Sahabatku panik, ia lari ke dapur mencari lemon dan memeras lemon serta menuangkan air hangat ke dalam cangkir, lalu menyuruhku untuk meminumnya. Aku nurut-nurut saja yang disuruh olehnya, dan itu berhasil menghilangkan serakku.


Esok harinya, semua terbangun saat pagi-pagi buta. Ada yang sudah pergi ke pasar, ada yang mempersiapkan alat-alat memasak. Ada yang menghias-hias. Pokoknya sibuk sekali.


Aku dan para sahabatku juga turut membantu. Di hari ini, aku dipanggil dengan sebutan pengantin baru, selalu diledeki dengan keluargaku yang sedang menyiapkan acara.


Semua sibuk di hari itu, sampai malam tiba, tubuh yang kusam dan berkeringat telah berubah menjadi anggun dengan polesan make-up di wajah. Dua keluarga sudah berkumpul menjadi satu, disertai dengan ustad yang nantinya menjadi dalang dalam acaraku.


"Bagaimana Aprilia, apakah kamu bersedia untuk menjadi calon istrinya?"


Aku tidak bersuara, aku hanya mengangguk-angguk saja, karena saat itu malu sekali jadi bahan perhatian. Dua keluarga itu pun setuju dengan tanggal yang diajukan, tanggal 21 Juni aku akan melangsungkan pernikahan, berarti dua bulan lagi akan dilangsungkan. Cepat sekali.


Seperti itulah rencana-rencana Allah yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya, rencana yang sangat sempurna, dibuat dengan kasih sayang untuk hamba-Nya. Terima kasih ya Allah.


Kemudian kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya, aku dan kak Pio sibuk mempersiapkan pernikahan. Semua berjalan mulus sampai saat ini, aku sedang menikmati waktu berdua di pantai sambil memikirkan saat ia pertama kali berani bertemu dengan kedua orang tuaku.

__ADS_1


__ADS_2