
Liburan setiap ahad telah berlalu, sekarang aku melanjutkan ke kehidupan sekolahku, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir di kelas tujuh, setelah remedial sekolah diliburkan dan para siswa tinggal menunggu hasil ujian kemarin. Aku tahu hal itu sangat berat sekali, aku harus menanggung kerinduan ini, kerinduan pada teman sekolah bisa diatasi dengan bermain tapi kalau kerinduan dengan kakak rese tak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasi kerinduan ku. Bagaimana caranya? Mungkin hanya untaian doa yang bisa ku lakukan.
Remedial diadakan sampai tiga hari, berarti masih ada tiga kali kesempatan untuk melihatnya, aku juga tidak tahu akankah dia masuk atau tidak, dan aku tidak tahu dimana kelasnya, walaupun satu sekolah tapi kan susah juga mencari kakak rese diantara seluruh penghuni sekolah.
Saat remedial seperti ini, kelas hanya dibuka beberapa saja yang nantinya akan digunakan untuk pelaksanaan remedial. Semua siswa menempati tempat yang setidaknya bisa digunakan untuk menunggu.
"Yahhhhh, di depan kelas kita sudah penuh lagi. Tidak ada tempat yang kosong." ucap Naren
"Hmm, kita duduk di mana yaa, pegel nih diri terus."ucap Zena
"Kita puterin dulu aja sekolah ini, siapa tau dapet tempat yang bisa kita duduki." ucap Iren
"Serius mau puterin sekolah ini?" Ucapku
"Iya mau gimana lagi, semoga aja masih ada tempat." Ucap Iren
"Ke basecamp aja yuk! Kan enak di sana bisa nyantai kayak di pantai." Ucap Zena
"Iihh jangan ke basecamp dulu, nanti kalau ada pengumuman remedial mata pelajaran gimana, kalau kelewat bisa berabe." Ucap Naren
"Yaudah yuk, mending kita puterin aja sekolahan ini, itung-itung ngilangin rasa gabut." Ucapku dengan senang
Kamu tahu tidak, mengapa aku begitu senang sekali untuk memutari sekolah? Karena itu kesempatan berharga untuk ku, kalau memutari sekolah otomatis aku akan mengamati kelas-kelas dan melihat siapa saja yang ada di kelas itu dari jarak kejauhan, tapi karena banyak kelas yang ditutup jadinya membuatku lebih mudah untuk melihat sekeliling dan mencari kakak rese itu. Bukankah itu langkah yang bagus untuk mencari belahan jiwa? Duh, gilaku kumat lagi hehe.
Penjelajahanku dimulai, aku dan temanku mengitari sekolah dari lantai satu lalu mengitari musholah yang ternyata ramai juga, banyak yang melakukan sholat Dhuha. Lantai satu dan Musholah bukan tempat yang cocok untuk dijadikan berkumpul.
Setelah ke lantai satu, aku dan temanku mengitari lantai dua, yang ternyata ramai sekali serta penuh orang pada duduk di depan kelas, semua bercampur aduk membuatku pusing melihatnya, dirasa sudah tidak tepat dengan tempat ini, maka pencarian dilanjutkan ke lantai tiga. Lantai tiga ini lumayan ramai, tetapi situasi di tangga sangat kosong melompong, bisa duduk di tangga asalkan tidak menghalangi orang jalan. Mungkin hanya tangga yang kosong melompong.
Aku dan ketiga temanku memutuskan untuk duduk di tangga, di saat itulah aku kucing-kucingan dengan temanku. Aku izin dengan temanku ke toilet, ketika aku izin ternyata ada temanku yang ingin ikut ke toilet. Rencana ku gatot alias gagal total, mau enggak mau aku harus pergi ke kamar mandi dengan temanku, karena aku dan temanku lebih suka di toilet lantai dua makanya aku memutuskan untuk ke situ.
Toilet lantai dua berada di ujung sebelum kelas 84, Saat aku dan temanku hampir sampai di toilet, aku yang berjalan dekat dengan pintu kelas 84 seketika kaget karena ada seseorang yang papasan dengan ku, hampir saja aku dan orang itu bertabrakan. Ia ingin keluar kelas dan aku ingin ke toilet.
"Astagfirullah." Ucapku
__ADS_1
"Duh, kaget." Dengan tempo berbarengan dengan ucapku
"Jalan lihat-lihat dong, untung enggak jantungan." ucapku
"Maaf, maaf, dek. Kakak enggak sengaja." Ucapnya
Ternyata orang itu adalah kakak rese, entah kenapa selalu saja tidak baik-baik saat pertemuan pertama.
"Eh, kakak rese, maksud saya kakak. Hati-hati dong ka!" ucapku
"Maaf ya dek, kakak buru-buru." ucap kakak rese itu sambil menuju ke bawah.
Setelah papasan tadi, aku melihat name tagnya tetapi namanya hanya ada satu kata saja yaitu Diki, bukankah seingatku ada tiga kata. Membingungkan.
Aku baru tersadar kalau temanku sedang menyimak.
"Pril, siapa?" Ucap Iren
"Kakak kelas yang kemarin duduk sebangku." ucapku
"Yeee, jangan mikir hal-hal aneh kayak gitu ah, gak baik." Ucapku
Sebenarnya aku senang sekali Iren berkata seperti itu, hanya saja aku malu. Omongan itu adalah doa jadi Iren mendoakanku dengan kakak rese itu dong, terima kasih temanku sudah mendoakan ku berjodoh dengannya.
Kemudian Iren masuk ke kamar mandi, dan aku menunggu di depan pintu kamar mandi, sesekali aku melihat ke arah kelas itu. Kakak rese itu pun kembali, ia berjalan ke kelasnya dan dia tersenyum ke arah ku. Arggggghh lagi-lagi senyumnya itu membuat jantungku berolahraga, senyum maut sang kakak rese. Kakak rese itu suka buat anak orang tersiksa ya.
Setelah Iren keluar dari kamar mandi, aku pun ingin balik ke tangga.
"Loh, Pril kamu enggak jadi ke kamar mandi?" Tanya Iren
"Aku enggak jadi kebelet nih, kamu kelamaan jadinya masuk lagi deh airnya." Kataku
"Kok bisa gitu? Cepetan gih sana, enggak boleh tahu nahan pipis." Ucap Iren
__ADS_1
"Aku udah enggak kebelet lagi, Ren. Ayolah kita balik ke tangga." Ucap ku
"Serius nih enggak jadi?" Tanya Iren
"Iya, enggak jadi, udah jangan bawel. Ayo ke tangga." Ucapku
Sesampainya di tangga, aku duduk dahulu sambil memikirkan plan B. Sepertinya bakal susah untuk menjauh sebentar dari temanku. Gimana ya caranya, bingung.
Setelah teman-temanku sedang bernyanyi-nyanyi dan mendapatkan posisi PWnya, akhirnya aku memberanikan diri untuk izin ke mereka karena sudah yakin bahwa mereka tidak akan ikut dengan ku.
"Hei, aku ke atas sebentar dulu ya." izinku
"Mau ngapain?" tanya Zena
"Aku mau lihat-lihat dulu, daripada duduk di sini terus." Ucapku
"Yaudah sana, jangan lama-lama ya nanti kita tinggal." Ucap Zena
"Oke deh." Ucap ku.
Akhirnya aku bisa ke atas juga. Aku pun langsung gembira menjemput nama jiwaku. Aku langsung melihat kaca kelas itu, tempat ditempelnya nama siswa yang ada di ruang itu. Jadi, selain ada tempelan di tiap meja kelas, ada juga tempelan nama siswa di kaca kelas.
"Ohh ternyata benerkan, ada tiga kata Alzikra Ahmed Ferdiki. Nama yang sangat bagus." Ucapku
Setelah mengetahui nama itu, aku pun menghapalnya dan selalu mengingatnya. Ingatanku jadi tajam sekali apalagi namanya sudah terukir di dalam hati. Uhhh gilanya kumat deh.
Pada hari pertama remedial ini, aku dan teman-teman ku tidak terkena remed. Setelah jam menunjukkan pukul 12 kami memutuskan untuk pergi ke basecamp.
"Akhirnya bisa selonjoran juga, pegel banget." Ucap Zena
"Kita istirahat dulu, nanti jam 2 balik ya." Ucap Iren
"Oke deh." Ucap Naren
__ADS_1
Setelah teman-temanku pulang ke rumahnya masing-masing, aku tidak sabar untuk menjadi stalker. Ku buka pesbue aplikasi yang semua orang pasti memilikinya, aku ketik namanya dan ternyata ada. Wahh beruntung banget.
Akhirnya aku mulai menyelidikinya. Yeayy bisa selangkah lebih dekat dengan kakak Diki. Kakak rese itu dipanggilnya Diki dengan teman-temannya.