Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 13


__ADS_3

Waktu liburan terus berjalan membuatku semakin tidak beres, semakin berjalannya waktu maka semakin cepat perpisahan ku dengan Zena. Pikiranku rancu, tidak teratur.


Sudah dihadapi dengan rindu ditambah lagi dengan perpisahan. Enggak bisa kebayang bagaimana perasaan ku nantinya saat berhadapan langsung dengan situasi itu. Situasi pindahnya Zena. Miris sekali hidup jika berkurangnya seorang sahabat.


Tadinya aku sangat menginginkan liburan, bahkan sudah ku tunggu-tunggu saat pertama kali masuk SMP. Jika ku tahu akan seperti ini, aku akan berdoa untuk dilamakan jalannya waktu. Aku ingin menikmatinya dahulu. Jangan libur dulu. Plissss.


Semangat Pril, masih ada sahabat yang lain kok. Semoga bisa sekelas dengan lainnya. Ikhlaskan Zena. Ikhlas. Ikhlas.


Aku mengamati foto-foto yang akan ku cetak, ku tatapi foto itu, foto kebersamaan. Foto kenangan. Aku akan mencetak semua foto-foto itu, mau itu aib ataupun tidak tetap akan ku cetak. Itu semua adalah kenangan berhargaku.


Indahnya pertemanan walau hanya satu dekade saja. Semoga ada hal baik yang nantinya akan datang berkunjung. Sepertinya hanya Ahad kemarin aku dan temanku bisa ngumpul. Zena sudah sibuk mengurus kepindahannya. Jika ada satu yang tidak bisa main, yang lainnya juga tidak akan main. Wajib komplit.


Berdiam diri di kamar, mencerna setiap peristiwa. Semua hal ku pikirkan di dalam kamarku. Tempat terakhir selepas aktivitas yang bisa ku gunakan untuk mencairkan suatu pikiran yang belum jelas. Menahan diri atas amarah atau emosi yang lainnya, membuang semua perasaan yang tertahan dan ku simpan dalam diri di kamarku. Memang kamar itu tempat ternyaman. Tempat privasi diri.


Begitulah penderitaan ku jika berbicara soal sahabat.


***


Omong-omong soal kaki. Dia sedang aktif di Pesbue. Kira-kira apa yang dia lakukan saat online di Pasbue?Apakah stalking aku? Halah kepedean banget. Apa mungkin sedang chat dengan seseorang? atau sedang mengomentari status orang? Ahh, aku tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan.

__ADS_1


Kaki. Kaki. Kaki. Seandainya aku bisa menyapanya sekarang, melihatnya, mungkin bebanku akan berkurang satu. Beban yang sangat berat ku pikul. Beban rindu. Selalu menggerogotiku.


Ingin sekali ku putar waktu agar aku bisa kembali di saat ulangan kemarin. Aku ingin lebih bersyukur karena kaki duduk sebangku denganku. Kesempatan emas sekali bisa mengetahui dirinya. Nanti akan ku pastikan, kita akan bertemu lagi ka, walau ada jarak sejengkal diantara kita.


Aku tersenyum semeringah. Pipiku memerah. Malu akan pikiranku sendiri. Sangat pede sekali. Terlalu mulus harapan ku. Ketika harapan itu mulus, aku takut berubah jadi mules saat melihat harapan-harapan itu hanya tergantung dan tidak akan pernah tercapai.


Liburan ku jalani dengan kebengongan, main Pasbue, bengong dan main Pasbue. Seperti itu saja siklus kehidupanku. Suram. Gelap. Pengap. Jika di depan mata ku sudah pasti akan kehilangan sahabat dan sudah pasti memikul rindu.


Hari terus berjalan, Zena memberikan kabar kepada ku dengan sangat dadakan sekali. Ia bilang bahwa ia telah berangkat menuju pesantren. Ia harus segera ke sana, dan merapikan barang-barangnya di tempat yang baru. Pasti banyak hal yang membuat Zena segera ke pesantren tanpa berpamitan dahulu. Besok merupakan hari pertama ia di pesantren, ia sangat antusias sekali. Antara sedih dan senang saat mendengar semangatnya dalam menyambut hari pertama masuk pesantren.


Lupakan soal kesedihan, seperti biasanya, kalau di rumah aku selalu menunggu film favoritku tayang. Cinta cenat cenut. Pas sekali untuk menghiburku yang sedang sedih.


Disaat film itu tayang, aku sedang berkomunikasi via gawai dengan Iren. Sekedar mengobrol hal-hal biasa. Ia juga sedang menonton film cinta cenat cenut. Memang film yang lagi naik daun. Siapa si yang tidak tau film itu pada masanya?


Aku sangat tidak menyukai kata itu. Sungguh sangat tidak suka. Bagaimana kamu suka sahabatmu satu persatu menghilang? Baru saja bersenang ria mendapatkan sahabat seperti kalian. Tapi mengapa kalian tega meninggalkan? Kehilangan Kaki memang bisa menyakiti tetapi jika kehilangan sahabat. Kelar semua hidupmu.


Iren dengan teganya bilang kalau ia ingin pindah ke Sulawesi, ia ingin tinggal di sana, di tempat baru. Ia mengikuti kemauan kedua orang tuanya untuk tinggal dan menetap di Sulawesi, tempat kampung ayahnya Iren.


Tadinya aku senang karena telah menonton film Cinta Cenat Cenut, kesenangan itu langsung jatuh. Aku menangis sejadinya di balik bantal. Aku bingung, kenapa harus mereka yang pindah? Masih banyak siswa yang lainnya, kenapa tidak mereka saja yang pindah?

__ADS_1


Kemarin Zena, sekarang Iren, besok siapa? Kenapa tidak bisa menetap di sini? Ayo kita bersama-sama lewati masa SMP, apakah kalian tidak ingin melewati bersama denganku? Hai sahabat, apa kalian tega? Aku di sini hanya berdua dengan Naren. Kalian tidak ingin tertawa bersama, tangis bersama, marah bersama.


Lagi-lagi Iren memberi kabar saat ia sudah dalam perjalanan ke Sulawesi. Sama seperti Zena, ia tiba-tiba bilang saat sudah berangkat ke pesantren. Kalian menakjubkan sekali. Aku sedih, kesal. Kenapa tidak ada perpisahan yang nantinya bakal jadi kenangan yang indah. Kenapa harus seperti ini?


Ya Allah, semoga itu pilihan yang baik untuk mereka, jika tidak baik, tolong kembalikan mereka ke sini, agar aku bisa bersama-sama dengan mereka. Agar hidupku lebih terkesan setidaknya agar kisah SMP ku berakhir dengan mereka. Aamiin.


Aku larut dari kesedihan, semua begitu dadakan. Tidak ada ancang-ancang. Jleep, langsung terjadi begitu saja.


***


Liburanku tinggal beberapa ahad lagi. Aku berlatih membiasakan diri tanpa dua sahabatku, setidaknya aku masih memiliki Naren. Tinggal Naren yang tersisa.


Naren akan datang ke rumahku esok hari. Semoga saja kedatangannya dapat menghibur kesedihan. Semoga saja memberikan kabar gembira buatku. Semoga saja ia datang tidak dengan kabar bahwa ia akan pindah sekolah juga. Aku mengatur jam bertemu, kami sepakat jam 9 Naren sudah berangkat ke rumahku. Naren sangat bosan sekali di rumahnya, makanya aku suruh dia main ke rumahku. Aku juga kangen bertemu dengan kawanku. Setidaknya aku harus terbiasa dengan keadaan ini, dimana hanya tersisa aku dan Naren saja.


Keesokannya, aku bangun pagi dan langsung bersiap-siap. Tak lama akhirnya Naren datang, sekilas aku dan Naren bertanya-tanya tentang Iren. Ternyata Iren sudah memberikan kabar kepada Naren tentang kepindahannya. Begitupun Zena, yang tiba-tiba memberikan kabar jika ia sudah berangkat ke pesantren.


"Udahlah Pril, jangan sedih, seharusnya kita dukung semua keputusan mereka, mungkin itu pilihan terbaik mereka. Kita harus merelakannya, Pril" ucap Naren


"Iya, walaupun aku masih kesal dengan mereka berdua, awas aja kalau ketemu, akan ku cubit sampai kulit mereka ke kupas." ucap April

__ADS_1


"Hahaha, April kejam banget. Tapi mereka juga kejam." ucap Naren


Begitulah obrolanku di hari itu.


__ADS_2