Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 6


__ADS_3

Kalau kemarin aku kesiangan, kalau sekarang aku kepagian, aku ingin sekali cepat-cepat masuk kelas biar bisa melihat kakak itu. Maklum hari terakhir duduk bareng sama si kakak rese itu. Teman-temanku pun datang kepagian juga, akhirnya setelah lengkap semua aku dan teman-teman langsung menuju sekolah. Hari haru ini akan ku nikmati.


Aku sudah tiba di kelas, baru beberapa orang saja yang sudah datang tapi kakak rese itu belum datang, sedihnya.


"Yahhh, belum datang lagi. Kenapa si ka enggak datang cepat?"tanyaku dalam hati.


Aku duduk di bangkuku lalu Zena duduk di sampingku.


"Kenapa, Pril?" ucap Zena dengan heran.


"Kenapa apanya, Zen?" tanyaku


"Ditanya kok balik nanya si, kamu kenapa? Pas berangkat mukamu cerah banget tapi kenapa sampai kelas jadi gelap begini? Sampai-sampai kamu enggak kelihatan loh, saking gelapnya." ucap Zena


"Apa si, Zen. Jangan bercanda teruslah masih pagi." ucapku


"Gitu aja kok ngambek, Pril. Maaf deh kalau gitu. Yaudah mending belajar aja yuk. Aku ambil buku dulu ya." ucap Zena


"Yaudah, cepetan sana ambil." ucapku


Aku dan Zena terhanyut dengan teori yang sedang kita pelajari. Semakin lama anak kelas pun ramai, nampaknya satu demi satu berdatangan menempati tempatnya. Sedangkan aku tidak menyadari bahwa kakak rese itu sedari tadi berdiri di samping Zena. Kakak itu seakan berbicara kepadaku tergambar dari bola matanya yang hitam pekat itu.


"Zen, pindah yuk. Udah ada kakak rese. Eh salah, maksudku kakak kelas yang duduk di sini." ucapku sambil menunjuk bangku yang di duduki oleh Zena.


Aku dan Zenapun berdiri lalu pindah ke bangkunya Zena.


"Eh, maaf ka kirain aku belum ada kakak." ucap Zena.


Kakak itu diam saja, tidak menjawab apapun. Mungkin suara yang pernah ku dengar darinya hanya saat dia tertawa melihat ku sedang mengangguk-anggukan kepala sambil mengerjakan ulangan serta di saat kakak itu menggibahi ku bersama temannya itu.


Tiba-tiba saja mukaku memerah karena memikirkan kakak rese itu. Aku tidak konsen lagi untuk belajar.


"Eh, Pril mukamu kenapa merah?" tanya Zena.


"Merah? Ohhh mungkin tadi aku kebentur tembok." ucapku dengan meyakinkan Zena.


"Kapan kamu terbentur? Daritadi kamu kan sama aku terus, masa iya aku tidak tahu kalau kamu terbentur." ucap Zena.


"hmmm... " aku pun bingung mau menjawab apa.


"Ohhh aku tau nih penyebabnya." ucap Zena.


"Aaa.. Apa? Emang apa penyebabnya?" ucapku sambil ketakutan.

__ADS_1


"PASTIII......" ucap Zena lalu berhenti sejenak.


"Pastii tadi kamu menempelkan pipimu di meja, iya kan? Terus ada bekas pulpen merah di mejamu itu, jadinya nempel deh ke pipi." ucap Zena dengan yakin.


"Hahaha, iyaa mungkin kali ya." jawabku dengan lega.


Sebenarnya aku mau berterus terang dengannya, tapi aku masih malu. Aku takut dipojokin karena kemakan omongan mereka, yang bilang jangan terlalu benci nanti suka loh. Kan malu banget kemakan omongan teman.


Tidak terasa bel sudah berbunyi, aku pindah ke bangkuku. Di sana sudah ada pasanganku yang sedang duduk sendirian. Eh jangan harap deh wkwk. Aku berjalan menghampirinya, eh maksudku menghampiri bangku ku. Ku lihat mukanya yang tersenyum kepadaku serta memberiku lewat.


Kenapa si kak sukanya buat anak orang menderita kayak gini, apalagi kalau kakak tersenyum. Deg... Deg... Jantungku seakan ingin melompat keluar. Pagi-pagi sudah dibuat olahraga jantung. Kakak itu kalau senyum seperti ada cahaya di mukanya.


***


Akupun sedang mengerjakan ulangan.


"Pril, nomor 15 dong." ucap Ezri.


"Mikir sendiri." ucapku.


"Ih pelit banget, bilang ah ke kakak kelas, kalau April jatuh hati padanya." ucap Ezri.


"Ihh, jangan gila. B jawabannya." ucapku


sambil melotot padanya.


Akhirnya aku sudah selesai mengerjakan ulangan, guru pengawas pun memberi perintah jika yang sudah selesai boleh dikumpulkan. Aku yang sudah selesai memilih tidak langsung mengumpulkannya, lebih baik aku bengong daripada berbicara dengan kakak itu. Tapi anehnya.


"De, de, mau lewat ya?" ucap kakak itu dengan lembut sekali suaranya.


Aku langsung terbang dan tidak bisa berbicara apa-apa, lidahku keluh. Aku hanya bisa menganggukan kepala karena bahasa tubuhku itu, akhirnya kakak itu memberiku lewat dan masih saja berdiri sampai aku duduk kembali di bangku ku.


Kakak rese itu pun langsung mengerjakan ulangannya lagi, aku yang sedari tadi tidak ada kerjaan, memilih untuk melihati kertas ulangan kakak itu dari kejauhan. Saat aku melihat kertas itu, kakak itu melirik kepadaku.


"Kenapa dek? Mau bantuin kakak?" ucapnya dengan suara lembutnya itu.


Muka ku pun langsung memerah, aku menahan diri agar tidak terlihat menyukainya. Kakak rese sepertinya gemar banget buat anak orang menderita. Paling tidak itu perkataan terakhir yang nantinya akan selalu ku ingat.


"Enggak kak, cuu....cumaan penasaran aja soalnya gimana, siapa tau tahun besok soalnya sama, jadi aku bisa tau gambarannya." ucapku.


"Ohh gitu, yaudah jangan lihatin kakak terus ya." ucap kakak rese itu.


Aku pun tidak menjawabnya, aku tidak menyangka kalau kakak itu memperhatikanku. Aku itu seperti maling yang sudah tertangkap basah oleh polisi, tidak bisa memberi alasan lagi karena perbuatanku sudah direkam. Kakak rese itu pun menjadi batu es kembali, sepertinya kakak itu irit sekali dengan kata-kata. Walaupun ia dingin banget tapi disaat dingin justru ia terlihat lebih menawan. Daya tariknya lebih kuat 100% dari sebelumnya.

__ADS_1


Andai saja aku membawa gawai ke sekolah, aku tuh males banget bawa gawai ke sekolah, percuma saja bawa gawai tapi dikumpulkan ke pengawasnya lebih baik tidak usah bawa, toh rumahku juga dekat dengan sekolahan. Untuk saat ini aku menyesal tidak membawa gawai, jika gawai ku sudah ada digenggaman ku, pasti akan ku rekam semua kejadian agar aku bisa terus menerus mengingat kejadian ini dengan detail.


Namun sangat disayangkan, aku tidak membawa gawaiku, aku hanya bisa mengingat kejadian ini dipikiranku yang hanya memiliki memori kecil dan cepat lupa. Aku akan menyesal sekali jika melupakan semua kejadian UKK ini. Rasanya tak ada yang tega melupakan kejadian itu, jika kalian merasakan apa yang aku rasakan saat ini.


***


Bell berbunyi tiga kali


"selesai tidak selesai dikumpulkan." begitulah ucap pengawas.


Kakak itu pun maju mengumpulkan ulangannya, lalu ia mengambil tasnya, tetapi di saat aku ingin berdiri dari tempat dudukku, kakak itu mengambilkan tas ku juga. Aku langsung tersipu malu, kakak itu memberikan tas ku dengan senyum coolnya itu. Arghhh kenapa si suka banget buat orang menderita, jantung ku pun berolahraga lagi. Aku takut jantungku bisa kelelahan karena berolahraga non stop seharian akibat kakak rese itu.


"Ini tasnya, sudah kakak ambilin, maaf ya kemarin kakak suka buat onar ke kamu." ucap kakak rese dengan nada lembutnya


Aku pun cepat-cepat mengambil tas milikku agar tidak terlalu lama berhadapan dengannya, sungguh aku tidak kuat lagi menahan debaran di jantungku. Emang rese banget ya kakak itu.


"Iiiya ka, terima kasih, jangan rese lagi ya ka." balasku.


Lagi-lagi kakak itu membalas dengan senyumannya, bisa gila aku kalau di dekatnya terus menerus seperti ini.


Aku pun pulang ke rumah dengan teman-temanku, sepertinya temanku bernapas lega karena sudah selesai ulangan. Muka mereka happy sekali, tapi kenapa kalau aku melihat Zena dan iren ada gambaran kesedihan di mukanya. Apa itu hanya asumsiku saja ya.


"Assalamua'laikum, Aprilia." ucap temanku.


Begitulah kelakuan mereka, padahal aku ada di samping mereka, tapi tetap saja iseng memanggil namaku sebelum masuk ke basecamp.


"Ayolah kita nyantai, dikit lagi liburan panjang nih." ucap Naren.


"Liburan aja ya yang kamu pikirin." ucap Iren.


"Hehe gapapa dong, kan kita udah selesai ujian." ucap Naren.


"Nilai aja belum keluar sudah mikirin liburan, jangan lupa ada remedial oi besok." ucap Iren.


"Oiyaya, aku lupa, tapi seenggaknya remedial pulang cepet kan." ucap Naren.


"Mau kemana si, Ren." jawab Zena.


"Ya, jangan kemana-mana main aja di sini juga udah cukup, yang penting bisa main." ucap Naren.


Akhirnya mereka berunding dan memutuskan menonton film di Laptop.


"Besok,setelah pulang sekolah kita beli cemilan dulu, Okee."ucap Namun.

__ADS_1


"Okeeedeh." ucapku.


Perundingan itu membuat mereka kelaparan, akhirnya aku memasakan mie untuk mereka, maklum hanya ada mie saja Hehe. Mie itu favorit semua orang, jadinya harus stock mie. Makanan simpel dan mengenyangkan dan kami suka mie goreng.


__ADS_2