
Hari kedua ulangan,
Setelah selesai mencari ruangan pada hari pertama, otomatis di hari kedua bisa nyantai. Teman-temanku datang ke rumah untuk belajar bareng, di hari itu aku masih saja mendengus kesal karena kejadian kemarin.
"Udah lah pril, jangan dipikirin lagi". Ucap zena
"Gimana gak dipikirin coba, kamu bisa dengan mudahnya bilang begitu, aku yang ngerasain gimana kesentuh badan dia". Ucap ku
"yowis lah, belajar wae belajar, biar ntar bisa jawab soalnya. Kamu juga pril, jangan semakin sebal, jangan benci." ucap Naren
"kenapa emang gitu? Namanya juga kesal mau gimana lagi." ucap ku
"kalau kamu bawaannya kesal terus, benci terus nanti yang ada jadi cinta lohhh." Ledek Iren.
"enggak mungkin lah, ngapain cinta sama kakak kelas rese itu! Fokus, fokus belajar." Kesalku.
Setelah beberapa menit belajar di rumah, akhirnya kami berangkat ke sekolah, agar bisa melanjutkan belajar di kelas. Sesampainya di kelas, ada tas yang sudah menempati kursi kakak kelas itu, nampaknya dia sudah datang. Tapi untungnya, bangku dia kosong dan ternyata dia duduk bareng dengan temannya di sana. Bagus deh.
****
Kringg... Kringg...
Bel berbunyi tanda ulangan akan segera dimulai. Semua siswa pun segera duduk di tempatnya, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.
Pengawas pun datang dan segera memulai dengan ucapan khasnya, seperti ayo ketua kelas dipersilakan untuk memimpin doa setelah berdoa kerjakan sendiri tidak nyontek dan tidak berisik. Setelah itu kelas hening, semua siswa fokus mengerjakan ulangan.
Awal ulangan pasti kelas sangat sunyi, seperti tidak ada orang. Namun, setelah beberapa menit kemudian, kelas berubah menjadi pasar. Sampai pengawas pun berulang kali menuntut untuk tidak berisik dan tidak menyontek. Tapi omongan pengawas hanya sekedar angin lewat saja, nanti juga ramai lagi.
****
"5 menit lagi selesai, yang sudah selesai boleh langsung dikumpulkan". Begitulah ucap pengawas
__ADS_1
Disaat itu, sebenarnya aku ingin sekali mengumpulkan kertas ulanganku. Tapi lagi-lagi, kakak kelas rese itu masih berkutat dengan soal-soalnya.
Susah banget rasanya bilang, "misi kak, mau lewat. Pasti selalu begitu, selalu kikuk. Sampai-sampai teman di belakang ku terus mendesak agar aku cepat bilang. Walaupun pada akhirnya aku hanya bisa menunggu kakak itu mengumpulkan ulangannya, jadi secara enggak langsung, kita selalu bareng mengumpulkan ulangan.
****
Di hari berikutnya, aku menjalankan rutinitas seperti biasanya, hidup ini memang membosankan ya, hanya menjalani itu-itu saja, berulang kali seperti itu tanpa lelah, tanpa sadar pula.
Jadi, ketika aku berada di kelas, ternyata kakak kelas itu sudah duduk menempati tempatnya, tumben banget duduk di tempatnya, karena aku fokus untuk ulangan hari ini, mau gak mau aku harus duduk di bangku ku. Tumben kakak itu peka, memberiku lewat sebelum aku kesal. Mungkin sudah insaf kali yaa.
Hari ini sama seperti hari biasanya, tapi aku merasakan ada hal aneh yang terjadi. Mungkin karena semalam aku menonton ftv "cintaku yang membawa monyet putih", otak ku jadi eror menyerap bucin-bucin terlucknat, hooooaahh itu hanya film, itu hanya film. Enggak ada kehidupan cinta yang terlalu seperti itu wkwk terlalu mulus.
"WOI!!!!" Ezri menegurku
"Kenapa si?" tanyaku
"Kamu kenapa? Bukannya ngerjain ulangan, malah bengong kek gitu! ". Ucap ketus
" ini juga lagi ngerjain kok. " ucapku
" B" jawabku
" nomor berapa yang belum?" tanya Ezri
"Nomor 9". Ucapku
"A". jawab Ezri
"Ok anak-anak, yang sudah selesai boleh dikumpulkan!" perintah guru.
Seperti biasanya, aku menunggu kakak itu keluar dari tempat duduknya. Saking lamanya, aku enggak sadar kalau bengong.
"WOII Pril!!!!" Ezri menggertak
"Ha, Kenapa si? Ngagetin mulu daritadi". Ucapku
"Udah selesaikan? Kumpulinlah". Tanya ketus Ezri
__ADS_1
"Udah, nanti dikit lagi ngumpulinnya". Sambil melirik ke kakak kelas sebelahku
"Yailah, tinggal bilang permisi doang apa susahnya!" tanya Ezri
"Nanti ajalah, dikit lagi juga kelar tuh." ucapku
"Yaudah terserah." Ezri berdiri dan mengumpulkan kertas ujiannya.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kakak rese itu keluar juga dari tempat perjuangannya. Aku pun langsung mengumpulkan kertas ulangan, dan lagi-lagi aku mengumpulkan bareng dengan kakak kelas itu.
Guru pengawas memberi instruksi agar tidak keluar kelas dahulu, karena masih ada waktu 5 menit lagi. Seketika kelas itu berubah menjadi pasar, tiap penghuni sudah berkeliaran di mana-mana. Aku pun duduk di bangku ku dan ditemani oleh Zena. Aku duduk dengan menempelkan bahu ke dinding sambil melihat ke depan, ternyata aku berhadapan dengan kakak kelas sebangku ku walaupun dia di pojok kiri dan aku di pojok kanan, entah apa yang aku pikirkan atau mungkin aku masih terbayang-bayang oleh ftv tadi malam. Aku melakukan tindakan bodoh, entah itu pikiran apa yang mengelabui akal sehatku.
"Kalau dia nengok ke arah ku dalam hitungan ke-3, berarti dia suka padaku. Saa..tu, duu...a, tii... ga." ucapku dalam hati.
"Kok, kok, dia nengok beneran? dengan heran melihat kejadian tersebut, aku masih diam melihat kejadian itu.
Aku pantau ke sekeliling kelas, pantauan ku berakhir di kakak kelas rese itu, dan entah kenapa aku mengulangi kejadian itu, aku hitung lagi di dalam hati, dan melakukan hal ini sampai tiga kali antara penasaran dan bodoh ya begini, tapi anehnya tiga kali juga kakak kelas itu menengok di saat yang pas. Aneh sekali bukan? Apakah benar dia jodoh ku karena aku melakukan hal ini? Masa iya jodoh hanya karena permainan iseng ku saja. Mungkin karena pengaruh ftv tadi malam, secara gak sadar aku mencontoh ftv itu.
Sisa hari ini ku habiskan dengan berpikir hal konyol itu. Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal bodoh yang membuat aku penasaran seperti itu, apakah tiga kali menengok itu hanya kebetulan saja? Apakah hanya keberuntungan saja? Antara keberuntungan dan penyesalan yang ku dapat.
Aku jadi tidak bisa fokus karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian tadi. Aku gak boleh terus menerus seperti ini, bisa gila kalau aku tidak bisa mengontrol pikiran ku ini, aku harus fokus ulangan karena ulangan itu pasti lebih penting daripada mikirin hal gak jelas yang menyita waktuku saat ini. Berulang kali ku kendalikan pikiranku, namun nihil yang ku dapat, aku masih saja memikirkan kejadian konyol itu.
"Pril, pril, pril, pril." ucap Zena dengan cemas karena April masih saja diam tak bergerak sama sekali dengan mata dipenuhi tanya.
"HEIII, APRIL!" ucap Zena dengan tegas agar membuyarkan pikiran kosong April.
"Ooitt ya, kenapa Zena? Jangan teriak juga Zen, aku gak budek kok." ucap April
"Iya, aku tau kamu gak budek, tapi aku takut kamu dimakan setan pikiran kosong!" ucap Zena
"mana ada setan pikiran kosong." saut April
"Ada tuh." ucap Zena dengan nada serius
"dimana?" tanya April dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Nih, di depan muka ku, wleee." ucap Zena sambil meledekku.