Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 35


__ADS_3

Saat Iren mulai sadar kalau itu kak Diki, Iren langsung otomatis membuat kak Diki sibuk berbicara dengannya, Iren tahu kalau hatiku pedih. Ingin sekali rasanya aku teriak ataupun menangis, tapi mana mungkin aku menangis saat ada dia dan anaknya yang berada di dekat ku. Aku juga malu kalau sampai siswa yang lain melihatku.


"Makasih ya, temennya April dan makasihhh ya Dek guru. Kakak pulang dulu ya."


"Iya ka, sama-sama."


Aku memperhatikan punggung itu sampai hilang dari pandangan ku. Mataku bengap, entah kapan air mata ku jatuh, sampai Iren pun kalang kabut ketika melihatku sudah banjir dengan air mata.


"Maaf Ren, aku enggak bisa menahan lagi, aku juga manusia kali Ren yang bisa kehilangan kontrol. Kenapa sih Ren, Kaki tidak pernah melihatku sebagai perempuan, kenapa ia suka sekali memanggilku adik, atau mungkin selama ini ia menganggapku seperti adiknya? Apa aku jelek ya Ren? Jadi, karena itu ia tidak suka padaku?"


"Yaudah tangisin aja Pril, keluarin kesedihanmu. Aku tau kok seperti apa sakit yang kamu rasakan. Mungkin, kamu mirip adiknya kali Pril, jadinya ia juga sayang sama kamu walaupun sayangnya untuk adiknya sendiri. Setidaknya kamu pernah disayangkan? Kamu cantik kok, sebenarnya dari dulu banyak yang ingin dekati kamu cuma kamunya aja yang selalu fokus ke Kaki dan menutup diri kepada cowok-cowok yang kalah telak sebelum perjuangin kamu. Kamu itu orangnya kuat banget ya Pril, buktinya kamu bisa tahan menunggunya selama berabad-abad, rasa cintamu bahkan tidak berkurang sedikit pun, kamu itu setia banget Pril, aku aja salut sama kamu. Orang kuat juga butuh nangis Pril, kamu keluarin aja semua kesedihanmu."


Mataku benar-benar tercetak kepedihan, untungnya hari ini aku tidak ada jadwal ngajar, saat bel akan berbunyi, aku langsung ke kamar mandi untuk merapikan wajah, pakaian, dan diriku. Terlihat setegar mungkin, seceria mungkin di depan siswa yang sepertinya sudah mumet dengan pelajaran yang tadi ia pelajari.


Aku bergegas menyuruh para siswa agar segera ke musholah untuk melaksanakan sholat Dhuha, aku mengecek kelas satu persatu agar tidak ada siswa yang tidak sholat. Untuk siswi yang sedang berhalangan, aku dan Iren bertugas untuk memeriksanya satu persatu dengan memperlihatkan roti jepangnya. Kalau ada yang kedapatan berbohong, maka siswa itu kena sanksi. Kalau pemeriksaan seperti itu, khusus dilakukan oleh guru piket perempuan yaa.


Saat sholat Zuhur pun seperti itu, aku dan Iren melakukan hal yang sama, tapi bedanya, karena sudah ada data siswi yang berhalangan sholat, jadi aku dan Iren tinggal mengabsennya di ruangan kelas siswi itu. Satu persatu kelas pun dicek kembali.


Setelah sholat, siswa boleh istirahat. Aku mengawasi keadaan sekolah, dan juga menutup gerbang jika istirahat sudah selesai. Pokoknya aku ingin mengajari para siswa untuk disiplin waktu.


Hari itu terus berlanjut dengan ketegaran yang pura-pura, sebenarnya Iren dari tadi sangat cemas, karena ia melihat diriku seperti ini, ia sangat tidak suka jika aku terlihat seperti tidak ada apa-apa, ia sangat khawatir karena aku tidak bisa mengeluarkan emosi seluruhnya.


Akhirnya sedikit lagi jam 3, bel pun akan berbunyi. Semua siswa keluar kelas dengan muka bahagia dan letih. Harapan hampir semua siswa agar cepat pulang sekolah sudah terkabul, semua berlomba-lomba keluar gerbang dan melesat dengan pesat agar sampai ke rumahnya. Aku pun yang sedari tadi menghayalkan kamarku akan terwujud, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah, sampai Iren pun istirahat di kamarku, dan ia terus memaksaku untuk menangis, mengeluarkan unek-unek yang masih mengganjal di hatiku.


Seakan-akan Iren sangat tahu sekali tentang diriku, bahkan ia sampai tidak ingin pulang jika aku tidak kunjung lega. Akhirnya aku menangis dengan sesegukan, mengeluarkan semua kesedihan yang terpendam, melihat dunia yang tak lagi indah, serta warna yang menjadi biru kelam mengelilingiku.


Aku sampai berpikir keras, apakah aku melakukan kesalahan yang begitu besar? Karena kesalahan itu, aku ditimpa musibah seperti ini. Mengapa aku masih saja percaya dengan pikiranku yang selalu beranggapan kalau aku memiliki tali yang bisa menghubungkanku dengan dirinya? Sangat percaya diri sekali. Akhirnya aku terpecah belah seperti ini karena anggapanku.

__ADS_1


Kenapa perasaanku tetap ada untuknya? Kenapa hanya aku yang tidak bisa pindah ke lain hati? Padahal aku lihat di luar sana, banyak orang dengan mudahnya berganti-ganti hati. Kenapa aku tidak bisa seperti itu? Kenapa aku membuang-buang waktu ku untuknya? Sampai aku rela disakiti lagi seperti ini. Kabar yang sangat mengejutkan buat ku apalagi melihat ia mengklarifikasi kabar itu.


Aku sangat remuk sekali, setidaknya kenapa ia melupakanku dengan mudahnya, Apa benar yang dikatakan Iren, kalau sebenarnya ia menganggapku sebagai adiknya, bukankah saat ia menikah, dia harus meminta persetujuan dariku? Padahal aku selalu membuka hatiku untuknya, aku selalu menyambut dia dengan sangat baik tapi dia tidak pernah datang kepadaku.


Kaki, kamu itu beda dari yang lain, yang aku tahu, kamu itu bagaikan emas, sekecil apapun dirimu, pasti akan selalu dicari sampai dapat, nilaimu sungguh tinggi, maka dari itu kamu dicari oleh banyak orang.


Aku tahu, setiap orang pasti memiliki Kaki, sepasang Kaki yang selalu menemani diri dalam menjelajahi dunia. Aku tahu semua orang mempunyai Kaki, tapi Kaki untukku itu berbeda dengan yang lainnya, hanya ada satu Kaki di hidupku, yaitu kamu. Tapi sangat disayangkan sekali, kamu sudah dipunyai oleh orang lain, sekarang kamu sedang membuat jejak bersama orang itu. Aku yang sudah sedari dulu memperhatikanmu, kini hanya bisa melihatmu berjalan lurus menatap ke depan tanpa melihat ke arah ku yang berada jauh di belakangmu. Aku melihat kebahagiaan terpancar nyata dari dirimu Kaki, ketika kamu sedang berdua dengannya.


Untukmu wanita pilihan Kaki, Kamu sangat beruntung sekali bisa memilikinya. Tolong jaga dia ya, dia kakakku, kakak yang paling kejam sedunia karena tega meninggalkan adiknya sendirian bersama mimpi yang harus dikuburnya.


Aku terus menangis sampai tertidur, saat aku tertidur, Iren membelikan coklat dan menaruhnya di meja samping tempat tidurku. Ia pun pulang ke rumahnya.


Aku yang terbangun langsung bingung dengan keadaanku, aku tersadar kalau Iren tadi berada di kamar ku, sekarang ia sudah tidak ada, aku bertanya pada Ibuku, ternyata Iren sudah pulang.


Saat aku sadar, aku melihat bingkisan coklat yang tergeletak di meja. Pasti itu kerjaannya si Iren, aku langsung meminta maaf karena ketiduran dan berterima kasih karena dia sudah menemaniku dan memberiku coklat. Memang teman terdebest.


"Eh Puma, tumben, ada apa nih? Sini masuk."


"Pril, sebenarnya aku ke sini mau kasih undangan untukmu."


"Wah, terima kasih Pum, ada pengantin baru nih."


"Hehe, doain aja ya Pril, oiya aku mau main di sini dulu deh, kangen udah lama enggak ketemu, besok aku mau ke rumah Lia mau ngasih undangan sekalian main, kamu mau ikut enggak? ."


" Besok kayaknya aku enggak bisa Pum, kirim salam aja ya buat Lia. Ayo sini, main dulu. Udah lama banget gak main sama kamu, oiya Lia masih sama yang lama?"


"Iya Pril, dia masih sama yang lama, awet banget ya pacaran dari SMA."

__ADS_1


"Iyaya keren banget."


Hari itu aku dan Puma bercerita-cerita sambil mengenang masa SMA. Katanya, Puma kangen banget berangkat sekolah jalan kaki, kangen main bunga pletekan, kejar-kejaran dengan waktu, dan lain-lain.


"Oiya Pril, aku inget banget, waktu itu kita pulang hujan-hujanan, lalu kita buka sepatu, terus kamu taro sepatu di kantong jas hujan, kita lari-larian kayak bocah kecil. Eh pas sampai rumah, sepatu kamu hilang satu. Hahahaha ngakak banget sumpah Pril."


"Stttt, malu nih, masih inget aja Pum. Itu juga aku enggak sadar, kalau sepatunya hilang satu. Untungnya belum hanyut ke got. Bisa mewek kalau ampe hanyut, itu sepatu kesayangan aku."


"Coba aku videoin Pril, muka kamu lucu banget pas nyamper aku, minta temenin nyari sepatu yang hilang. Hahahaha, muka-muka panik."


"Terus aja ngeledekin, wkwkwk."


"Oiya, si Kaki gimana Pril?"


"Kabar dia baik kok, sangat baik, justru yang seharusnya kamu tanyain itu kabar aku Pum, jangan kabar dia, yang sangat sengsara itu aku Pum bukan dia."


"Kenapa emangnya Pril?"


"Dia udah punya anak Pum, anaknya sekolah di tempat aku ngajar, mukanya mirip dengan dia. Tadi tidak sengaja aku bertemu dengan Kaki, ia lebih terlihat dewasa Pum."


"Maaf ya Pril, kamu jadi sedih lagi. Yaudah mending kita inget kejadian yang lucu-lucu aja yuk. Waktu itu, kita kan berangkat pagi, terus kamu inget gak? Kita dikejar hujan?"


"Oiya inget banget, sampai akhirnya kita kehujanan juga, padahal tempat kita berpijak belum hujan walaupun dari sana kita sudah terlihat hujan yang lari dengan cepat ke arah kita. Terus akhirnya kita basah kuyup."


"Waktu itu kita pernah tiba di sekolah dan timing nya pas banget saat gerbangnya mau ditutup, coba telat semenit aja, pasti kita enggak bisa masuk."


Saat itu aku dan Puma menceritakan semua kejadian yang pernah terjadi, bukan hanya yang lucu saja, tapi kejadian abstrak tidak kalah serunya.

__ADS_1


__ADS_2