
Jadi guru itu sesuatu banget, apalagi saat usiamu masih muda, kamu secara langsung bisa belajar bagaimana cara mendidik anak walaupun belum nikah dan belum punya anak, tapi anak kelasmu banyak bisa puluhan, ratusan, pokoknya banyak. Mau tidak mau kamu harus menjadi ibu bagi mereka, harus memperhatikan mereka tidak hanya memberi pelajaran tetapi juga mengajari akhlak, bagaimana adab saat bertemu orang tua, adab di kelas, adab di rumah, intinya berat sekali jadi guru. Saat dunia semakin bebas serta perilaku yang mengikuti bebas. Tanggungjawab yang besar dalam mengajarinya.
Semakin hari menjadi guru, aku jadi enjoy menjalaninya, aku menganggap anak muridku sebagai anakku sendiri, tidak ingin pilih kasih dengan bintang kelas, tapi seluruh penghuni kelas harus mendapatkan haknya, mereka semua baik-baik sekali, sangat menerimaku sebagai gurunya. Aku merasa ada kehangatan di sekolah ini.
Mengajar di sekolah SMP ku yang bangunannya masih sama seperti dulu, membuatku teringat akan masa lalu. Saat aku dan dia bertemu, saat aku malu-malu kucing, saat detak jantungku berdetak cepat, aku sangat rindu suasana itu. Aku memperhatikan setiap sudut sekolah sampai membuat bayangan yang seolah-olah nyata dalam pikirku. Ilusiku membawanya hadir di sini, aku sedang memperhatikan dia. Wajahnya yang tidak pernah ku lihat lagi, kini hadir dalam khayalku. Seakan semua yang ku bayangkan benar-benar nyata.
Sampai akhirnya aku yang sedang melamun di ruangan guru langsung disadarkan oleh kencangnya suara bel, sepertinya bel tidak suka saat aku melamunkan Kaki. Aku sontak kaget karena memasuki jam mata pelajaran ku, aku harus cepat-cepat masuk ke kelas.
Seperti itulah kegiatanku, ditambah lagi, Iren juga akan mengajar di sini, jadi aku dan Iren bisa temu kangen lagi dong. Aku menunggu kehadiran Iren esok hari. Sangat tidak sabar sekali. Satu sekolah, satu kerjaan.
Hari ini pun berjalan lancar seperti biasanya, tanpa ada hambatan dan rintangan. Semua berjalan sesuai dengan keinginan.
"Pril, besok aku berangkat jam berapa ya?"
"Berangkat jam set 7 aja Ren, kamu ke rumah aku aja, nanti berangkat bareng ke sekolah."
"Oke deh, duh dag dig dug nih."
"Awal-awal emang kayak gitu, tapi lama-lama juga kebiasaan kok, tenang-tenang, siswanya juga nurut."
"Oke-oke, semoga besok lancar ngajar di hari pertama."
"Aamiin, semangat Ren."
Hari itu aku pun istirahat dan tertidur nyenyak. Esok harinya, Iren sudah berada di rumahku sejak jam 5.30, katanya karena dia sangat panik, jadi biar bisa nenangin diri dulu di sini. Sekiranya Iren sudah tenang, aku mengajak ia ke sekolah untuk simulasi mengajar, agar ia mempunyai gambaran saat mengajar nanti dan bisa mengurangi kegugupannya.
Setelah simulasi, aku dan Iren ke ruang guru. Aku duduk di mejaku, dan Iren duduk di mejanya, kebetulan meja kami bersebelahan jadinya kami bisa curcol setiap saat.
__ADS_1
Saat bel masuk berbunyi, aku langsung menuju ke kelas, Iren pun menuju ke kelasnya juga. Ia sudah agak tenang kok, pasti ia bisa. Jam terus berjalan, sampai waktu istirahat datang. Aku kembali menuju ke ruang guru, di sana sudah ada Iren yang baru saja duduk di bangkunya.
"Gimana nih pengalaman pertama mengajar di kelas?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya ketakutan yang berlebihan membuat aku makin anjlok ke bawa, btw makasih loh Pril."
"Hoho iya sama-sama."
"Btw, sekolah ini banyak kenangannya, tadi saat ngajar, aku jadi membayangkan waktu kita masih SMP, ahhhh jadi kangennnnnn."
"Hahaha, sama Ren. Setiap masuk kelas pasti keinget kenangan dulu."
"Oiya Pril, kabarnya si Kaki gimana? Udah lama kamu gak cerita tentang dia, keinget lagi dong sama kenangan di sini sama dia?"
"Wahh, kalau itu kurang tahu deh. Iya nih, keinget lagi, padahal belum juga bisa move on."
"Husshh, jangan gitu lahh, siapa tahu yang nikah duluan aku wkwk. Jangan sombong dulu cuiii, mentang-mentang punya doi padahal belum nikah, situ juga masih satu penderitaan tau, hahaha."
"Yehh, yaudah aku doain, semoga kamu langsung ketemu jodoh kamu, biar gak jadi zombie beneran wkwk, Zomblo Abadie."
"Gini nih, model-model doain tapi ngeledek mulu."
"Hahahahahahahahahaha."
Asik sekali obrolan kita saat itu, maklum sudah lama tidak berjumpa sampai keasikan ngerusuh berdua di ruang guru sampai guru yang lain pun ikut-ikutan meledek. Senang bisa akrab kembali.
Hari itu berakhir sangat indah penuh kenangan.
__ADS_1
***
Beberapa tahun kemudian.....
Hari itu saat aku jaga piket, kebetulan aku jaga piket barengan dengan Iren, uhh enak banget bisa barengan sama sahabat. Kerja jadi makin betah sampai bertahun-tahun lamanya.
drapp....drapp...drap...
"Assalamu'alaikum Bu, misi, saya mau titip buku anak saya yang bernama Assyifa Tyas Putri Ferdiki (sambil berbicara dengan Iren yang jangkauannya lebih dekat dengannya)."
Aku terkejut ketika mendengar nama akhir yang dilontarkan oleh wali murid itu. Aku langsung menoleh orang itu.
"Ha..hai, kamu kak Diki kan? apa kabar? sekarang anaknya sekolah di sini juga?"
"Eh, adek, kok ada di sini? Iya, anak aku sekolah di sini."
"Aku jadi guru di sini ka, kakak kapan nikahnya kok gak undang-undang? sombong banget nih."
"Wih, selamat ya Bu guru. Sekarang, kakak panggil kamu dek guru ya. Maaf ya kakak gak undang, kakak nikah muda dek dengan banyak pertimbangan karena saat itu kakak belum bekerja, tapi akhirnya kakak memutuskan untuk menikah, kakak takut istri kakak diambil orang, hehehe jadinya kakak nikah secara sederhana dek."
"Ohh, kalau gitu selamat ya ka.
(sambil menunjuk seorang siswi SMP yang baru saja tiba untuk mengambil bukunya). Ohh, ini anaknya ka? Cantik yaa, semoga jadi anak yang sholehah dan sukses dunia akhirat."
Apa yang aku pikirkan ternyata benar-benar terjadi. Seorang wali murid datang dengan senyuman yang tidak asing buatku. Dia adalah orang yang selama ini ku nanti, selama ini ku idam-idamkan, dan selama ini yang terus menghiasi pikiranku. Ternyata dia sudah memiliki seorang putri yang cantik.
Hari itu adalah hari yang indah saat ku bisa lihat wajahnya lagi dari sekian lama hilang tanpa kabar, tapi itu juga hari terburuk saat ku ketahui kalau ia sudah memiliki seorang gadis cantik yang sangat mirip dengannya.
__ADS_1
Namun sayangnya, rasa itu tetap saja muncul kalau aku bertemu dengannya, detak jantungku, keringat dingin, grogi, gemetar, itu semua tidak ada yang berubah dan tidak ada yang hilang, masih sama seperti waktu itu, saat pertama kali aku jatuh hati padanya, aku tidak boleh terus-terusan seperti ini, dia sudah menjadi milik orang lain, aku harus merelakannya secepat mungkin. Aku juga harus bahagia.