
Hari-hariku yang awalnya berjalan cepat berubah menjadi lambat. Sangat drastis perubahannya. Seandainya aku lahir pada tahun yang sama dengannya, pasti saat ini aku bisa satu sekolah lagi dengannya, tapi di satu sisi, pasti aku tidak akan kenal dengan sahabat-sahabatku. Enggak apa-apa deh jadi adik kelasnya, yang terpenting aku bisa terus dekat dengan para sahabatku. Siapa lagi manusia yang menemaniku di lingkungan sekolah selain sahabat? Rencana Allah itu paling keren, banyak sekali hal terbaik yang Allah rencanakan tanpa kita ketahui.
Walaupun hari berjalan lambat tapi tetap ku jalani, aku tidak mau menyerah hanya karena faktor luar yang tidak ada sangkut pautnya denganku. Yang terpenting, jika ada sahabatku, itu sudah cukup membuatku menjadi lebih kuat walaupun sering mengeluh sihhh.
Pada kelas 9 ini, aku dan sahabatku giat sekali belajarnya, bagaimana tidak, toh kelas 9 itu jenjang akhir di SMP dan nantinya kita menghadapi ujian-ujian mental hehe maksudku ujian yang bisa membuat kita kepikiran terusss. Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, ataupun Ujian praktik. Bertambah banyak ujian yang nantinya akan ku hadapi.
***
Pada pertemuan ahad ini, sudah memasuki masa ulangan harian, kalau ulangan harian bisa bebas sedikit, karena ulangan harian itu tidak seahad full, lebih ke suka-suka gurunya kapan ulangan itu dilakukan. Nah, pada hari Senin, di mata pelajaran terakhir, aku ada ulangan harian IPA. Ulangan pertama di kelas 9. Ulangan harian IPA ini boleh buka buku atau open book. Ulangan ini dibagi menjadi 2 sesi, dibagi berdasarkan absen. Aku, Iren, dan Zena satu sesi karena nama kami urutan awal daripada namanya Naren.
Pada sesi pertama akan melaksanakan ulangan terlebih dahulu, setelah sesi pertama selesai dilanjutkan ke sesi kedua yang memulai ulangan. Ulangan ini banyak sekali peraturannya, jarak tempat duduk 1 bangku sama yang lain, duduk sendiri-sendiri, soal berbentuk isian singkat dan uraian yang nantinya akan didikte oleh guru, setelah soal didikte, siswa diberi waktu 5 menit untuk menjawab soal yang telah didikte itu. Makanya, bagi kalian jangan senang dulu kalau ulangan open book, walaupun ulangan buka buku, tetap saja harus belajar terlebih dahulu, jangan anggap remeh belajar, kalau kamu sudah belajar, pasti kamu hapal dimana letak atau halaman jawaban atas pertanyaan itu, jadi tidak harus mencari-cari jawaban disetiap pertanyaan, nanti waktunya keburu habis. Itu nasehatku untuk kalian yaa.
Saat itu, aku benar-benar hapal dimana letak jawaban tiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan itu. Senang sekali rasanya saat membuka halaman buku langsung ketemu jawabannya. Belajar giatku membuahkan hasil. Semangat Pril. Btw, saat ulangan harian ini, kelas sepi banget kayak kuburan. Mungkin karena gurunya killer tapi suka bercanda. Gurunya pandai menempatkan kekillerannya hehe.
Setelah satu jam setengah berlalu, kertas jawaban dikumpulkan. Aku langsung mengumpulkan jawabanku, aku pede, sangat sangat pede atas jawabanku, pasti aku dapet nilai gede, yakin 100%.
"Silakan keluar kelas, jangan lupa suruh teman yang di luar masuk!"
__ADS_1
Aku langsung keluar kelas bersama yang lainnya. Karena kelasku di lantai 2, aku bisa memandang keadaan di bawah. Kalau soal memandang pasti sangat menyejukkan hehe.
Saat aku melihat-lihat situasi di bawah, yang merupakan lapangan sepi. Aku melihat sosok wajah yang ku rindukan sedang berada di meja guru piket, ia bersama dengan kawan-kawannya di meja itu.
"Pril, Pril, sadar." sambil menepuk-nepukan pipiku, karena ketidakyakinan ku mengenai kedatangannya dia.
Saat aku pastikan bahwa itu adalah dia, real dia, aku langsung terus memandangnya dari lantai 2, mataku tidak mau berkedip sedikitpun, aku tidak mau melewatkan melihatnya walaupun cuma sedetik. Aku benar-benar melihatnya, sampai-sampai sosok itu juga melihat ke arah ku. Saat dia melihat ke arahku, aku langsung jongkok dan membiarkan diriku terhalang oleh dinding. Jantungku kumat lagi, berkedut dengan tempo yang berantakan dan cepat sekali. Sial. Lagi-lagi dia buatku begini, tanganku pun mulai dingin, aku mulai salah tingkah sendiri.
Saat diriku sudah agak tenang, aku langsung berdiri lagi, dan melihat sosok itu lagi. Kak Diki. Dia masih saja menatap ke arahku, aku pun melihatinya. Aku tatap dia juga, sampai akhirnya aku berharap agar dia bisa mendekat ke arah ku. Tidak terlalu jelas penglihatan ku saat dia berada jauh denganku. Aku bergumam di dalam hati.
Entah mengapa, aku juga tidak tahu. Dia berjalan sedikit demi sedikit sampai akhirnya dia tepat di depan ku, walaupun aku hanya melihat dari atas, Kak Diki berjalan sambil mengikuti garis hatiku, aku juga bingung, apakah dia mempunyai koneksi dengan ku? Apalagi saat dia mengerti perkataan di dalam hatiku. Ohh tuhan, senang sekali hari ini, aku sangat bahagia sekali, bahagia karena aku merasa puas banget ketika ulangan dan bahagia juga karena setelah mikir keras aku bisa bertemu dengannya. Terima kasih atas rezeki yang engkau beri kepadaku Ya Allah. Aku tidak akan melupakan hal ini.
Kaki senyum ke arah ku, senyuman yang sudah lama ku rindui, senyuman yang telah kembali ke pelukan ku, aku sangat terharu sekali, semoga saja senyuman itu menjadi milikku. Aku pun membalas senyumannya.
"Hei, hei yang di luar, udah boleh masuk ke kelas."
Akhirnya, aku memutuskan pandanganku untuknya, aku buru-buru masuk kelas. Walaupun aku tidak melihat wajahnya lagi, tapi rasa senangku sangat membekas. Lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Ibu akan membagikan kertas jawaban kalian."
Wah, gila banget, langsung dikoreksi saat itu juga. Aku pede sekali nilaiku akan tinggi tapi aku juga cemas sekali kalau nilaiku rendah. Setelah dibagikan kertas ulangannya. Jeng, jeng, jeng, jeng, aku dapet 95. Waahhhhh, senang banget rasanya. Alhamdulillah sekali. Paling d'best. Di hari ini aku semangat sekali.
Karena pelajaran IPA adalah pelajaran terakhir di hari ini, setelah bel berbunyi, aku langsung melangkah ke basecamp, teman-temanku langsung mengecek jawabannya satu persatu, kalau aku justru tidak ingin mengecek, mager cek jawaban, apalagi kalau misalkan ada jawaban yang seharusnya salah tapi dibenarkan. Mending aku mengirim pesan ke Kaki.
"Kak"
"Kakak, ngapain ke sekolah? Kangen ya sama aku?"
Tidak ada jawaban sama sekali dari dia, aku menunggu berjam-jam sampai pesan itu pun dijawab, mungkin saja ia sedang tidak memegang gawai. Positif thinking.
Saat malam tiba,
Puing....puing....puinggg
kamu memiliki pesan masuk yang belum terbaca.
__ADS_1
Aku langsung buru-buru membuka gawaiku, dan tetap saja, itu bukan pesan darinya.