
Berapa banyak doa yang ku bacakan agar aku bisa seruangan lagi dengannya. Mungkin sudah beratus-ratus doa untuknya. Bukankah yang kulakukan itu wajar untuk seseorang yang ku sukai? Usaha itu pun membuahkan hasil, aku bisa satu ruangan lagi dengannya. Sekarang saatnya aku berdoa lagi dan lagi agar aku bisa seruangan lagi pada ulangan berikutnya.
Setiap jenjang pasti terdapat 4 ulangan, ada ulangan semester ganjil, ulangan perpindahan ke semester genap, ulangan semester genap, dan ulangan kenaikan kelas. Itu hanya ulangan yang ruangannya diacak dengan warga sekolah lainnya. Ulangan pertama di kelas 8 sudah terwujud agar bisa seruangan lagi, nahh sayangnya di ketiga moment ulangan berikutnya, ternyata aku tidak seruangan lagi dengannya. Sedih sih, mungkin Allah ingin aku fokus ulangan atau ingin aku lebih meningkatkan doaku dengan sungguh-sungguh.
Pada ketiga moment ulangan tanpa Kaki, hari berjalan sangat damai sekali. Detak jantungku tidak berantakan seperti kemarin. Sekarang lebih bisa mengontrol diriku. Tidak seperti kemarin, yang sangat lepas kendali. Terlebih lagi jika dia berbicara kepadaku.
Pada masa ulangan itu, aku sama sekali tidak bertemu dengan Kaki, kacau sekali rasa kegelisahanku. Aku benar-benar bingung dia ke mana. Akhirnya setelah pulang sekolah saat memiliki waktu sendiri, aku mulai stalk Pasbuenya, siapa tau ada informasi yang lain dari dirinya. Akun Pasbuenya senyap sekali, seakan tidak ada kehidupan di sana. Belum disinkron dengan pemiliknya. Masih sama dengan terakhir yang aku lihat.
Ingin sekali aku mengobrol dengannya lewat pasbue, sayangnya aku belum berani melakukan itu. Tanpa sadar aku mengetik kata-kata di ballon obrolan ku dengannya, namun ku hapus lagi kata-kata itu. Sudah ku bilang berulang kali, kalau aku tidak berani untuk sekedar mengirim pesan di Pesbue.
Aku pun curhat kepada para temanku mengenai ketidakberanianku, aku tuh orangnya pengecut sekali. Temanku memberikanku masukan-masukan yang membuat keberanian ku meningkat. Tapi sayangnya, mungkin aku akan mulai mengirim pesannya di hari lain. Saat aku benar-benar siap mencari topik pembicaraan. Aku lemah banget untuk urusan seperti ini.
Aku terbaring di tempat tidurku karena lelah menahan rindu, tiga kali ulangan aku tidak seruangan dengannya, dan saat tiga kali ulangan itu aku pun tidak bertemu dengannya.
__ADS_1
Waktu itu, setelah upacara di hari Senin, aku melihat Kaki bersama dengan temannya sedang menuju ke tangga, dan saat aku melihatnya, ia juga melihatku. Matanya tertuju denganku. Entah karena apa, aku sengaja menjauh darinya, saat itu aku bersama dengan Zena lalu aku berkata pelan kepadanya untuk menaiki tangga yang satunya. Zena pun menurut, dan Kaki terlihat sedih di mukanya, sangat jelas sekali kesedihan itu. Aku langsung bergegas ke tangga yang lainnya. Saat sedikit lagi aku datang ke kelasku, nahas sekali, aku masih saja bertemu dengannya, dia melihatku lagi, lagi-lagi dengan muka sedihnya. Apakah itu menunjukkan bahwa ia suka padaku? Aku sungguh tidak tahu mengenai hal itu.
Sebenarnya aku senang sekali dapat bertemu dengannya, apalagi setelah bertemu dengannya, bahagiaku meningkat, kekuatanku meningkat. Hanya karena bertemu saja sudah bisa menggerakkan diriku menjadi lebih bersemangat lagi.
Setelah ia hilang di depan mataku, aku baru bisa berteriak dan lompat-lompat seperti cacing kepanasan, temanku sudah mengerti sekali tentang sikapku itu. Ia justru membiarkan ku melakukan hal itu. Karena ia tidak ingin mengganggu kebahagiaanku.
Keesokan malamnya, aku mulai memberanikan diri untuk mengirim pesan di pesbue nya, aku ketik-ketik setiap kata yang ingin ku kirim, tanpa basa basi aku kirim pesan itu. Aku menunggu berjam-jam sampai dibalas, setiap detik ku pelototi gawaiku, untuk meyakinkan jika dia sudah membalas pesanku. Namun sangat disayangkan sekali, dia tak kunjung membalas pesanku sampai kapanpun. Sampai berahad-ahad, berbulan-bulan.
Kalian masih ingat tentang teman kelasanku yang sangat berlebihan sekali saat pertama kali melihat seseorang yang mirip Kaki di kelas?
Ternyata benar sekali dugaanku, dia sebenarnya suka juga dengan Kaki. Bayangkan dua orang di dalam kelas itu suka dengan orang yang sama. Waktu itu aku pernah meminta nomor Kaki, walaupu temanku yang minta langsug ke Kaki untuk mewakili ku yang sangat keluh jika berbicara dengannya. Kaki pun menyebutkan nama teman kelasanku, ia bilang minta ke Nana aja, dari situ aku sangat berhati-hati dalam melangkah, tapi akhirnya aku minta juga nomor Kaki ke Nana. Saat ku mintai ke Nana, Dia tidak mau memberikan nomor Kaki kepada ku. Yaiyalah siapa yang rela memberikan nomor orang kesukaannya kepada musuhnya sendiri.
Nana pun mengelas agar meminta izin dahulu ke Kaki sebelum memberikan nomornya. Aku tahu sebenarnya itu hanya alasan saja karena dia tidak ingin memberikan nomor Kaki kepadaku, tapi aku berubah menjadi rentenir, yang setiap hari pekerjaannya menagih janji. Maju tak gentar untuk mendapatkan nomor gawainya si Kaki.
__ADS_1
Sampai akhirnya beberapa ahad kemudian, Nana baru memberikanku nomor. Di situ aku sangat senang sekali. Padahal kenyataannya bukan aku saja yang mempunyai nomornya, buktinya aku kalah cepat dengan Nana.
Pada suatu waktu, Nana sedang membicarakan Kaki kepada teman-temannya di kelas, ia berkata dengan nada yang cukup kencang sampai aku mendengar semua perkataannya. Aku jleb banget mendengarnya. Tiba-tiba saja Iren langsung mengajakku ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Iren bilang padaku, jika ingin nangis, nangis aja jangan ditahan. Mendengar perkataan Iren, aku ingin sekali mewek, tapi yasudahlah, toh Nana juga belum ada ikatan dengan Kaki, biarkan aku menangis di balik bantal ku. Aku ke kamar mandi hanya mencuci muka saja, biar kelihatan fresh. Sesampainya di kelas. Ada satu orang yang mengingatkan agar jangan memusingkan soal lelaki, ia adalah teman dadakanku yang baru namanya Ahmad.
Ahmad sama seperti Ezri, tetapi Ahmad kadang suka bermain denganku. Pokoknya di kelas 8 ini sangat solid sekali, semuanya ngumpul, warga kelasnya asik-asik sekali, tidak seperti warga kelas 7 yang mainnya kelompokan dan merendahkan orang lain. Memang kelas 8 itu paling keren dibanding kelas lainnya.
Aku dan Nana tidak berhubungan buruk, justru aku dan dia juga sering main bareng. Nana berkata padaku bahwa ia hanya sebatas adik dan kakak saja dengan Kaki. Dia sangat bersungguh-sungguh bilang seperti itu, walaupun aku masih tidak percaya dengan perkataannya.
Berbulan-bulan lamanya, ada kabar bahwa Nana jadian dengan teman kelasannya sendiri. Setiap istirahat mereka so sweet banget, berduaan selalu. Kisah di sekolah itu memang sesuatu ya.
Dari kabar itu aku pun lega karena akhirnya aku percaya kata-kata Nana saat itu. Aku melihat Nana dengan pacarnya yang sangat saling mencintai. Terlihat jelas di matanya. Syukurlah.
__ADS_1