
Waktu berjalan secepat kilat, Tak terasa ulangan kenaikan kelas sudah di depan mata. Aku mempersiapkan matang-matang ulangan kenaikan kelas ini. Main boleh tapi belajar juga harus serius. Esok adalah hari pertama UKK, aku harus berangkat pagi ke sekolah untuk mencari ruangan kelas.
Keesokan harinya, aku berangkat pagi-pagi buta, karena rumah ku yang paling dekat dengan sekolah, makanya aku dijadikan tumbal oleh para sobatku. Aku datang sendiri ke sekolah, benar saja dugaanku, sekolah masih sepi sekali. Belum ada yang datang, kalau sudah datang ke sekolah, aku malas balik ke rumah, mending belajar di kelas mumpung sepi.
Saat aku masuk ke sekolah, di tempat ruang guru piket, aku melihat sosok yang sangat ku kenal. Yap, benar sekali, sosok itu adalah Kakak Diki. Wah, pagi-pagi sudah kejatuhan durian montong.
Dia masih menggendong tas sambil duduk sendiri di kursi piket. Mungkin ia menunggu teman-temannya datang. Untung saja aku lewat jalan belakang, jadi dia tidak engeh kehadiran aku deh.
Aku langsung mencari satu-persatu kelas, pencarian ku ini tidak sesusah kelas 7 kemarin, kelas yang ku tempati untuk ulangan berada di lantai bawah. Kelas itu berhadapan dengan tempat guru piket. Bagaimana caranya agar aku tidak terlihat kakak itu ya? Tak ada cara lagi. Anggap aja dia enggak ada.
Aku memutuskan untuk pura-pura tidak tahu, jalan seperti biasanya dan saat aku ingin memasuki kelas, kakak itu memanggil ku.
"Dek" dengan senyum sumringahnya.
Aku tidak membalas senyumannya dan langsung masuk ke kelas. Ah sial, kakak itu kenapa si, masih pagi jangan buat olahraga jantung dulu kek.
__ADS_1
Aku mencari-cari namaku yang sudah terpasang rapi di atas meja. Yeay, di bagian ini lagi. Bagian ke dua dari belakang. Alhamdulillahnya, aku ke bagian di ruang kelas 8 karena kalau di ruang kelas 8 pasti bangkunya sendiri-sendiri jadi bisa bebas ngumpulin soal tanpa harus menunggu diberi jalan dulu.
Aku pun duduk di bangku sambil membaca-baca materi, belajarku kurang fokus karena aku harus terus-menerus memperhatikan jam dinding di kelas. Teman-temanku sudah janjian datang jam 7 lewat 20 menit. Saat jam segitu, aku harus menunggu di luar kelas agar temanku tidak bingung mencariku.
Sambil membaca materi, kadang aku mencuri-curi pandang ke arah kakak itu, samping tempat duduk ku terdapat kaca yang mengarah ke dia, untungnya ada gorden yang bisa menjadi umpatanku untuk mencuri pandang. Ku lihati dalam-dalam kakak itu, terus-menerus ku pandangi.
"Assalamualaikum." dengan suara menggertak.
"Wa'alaikumsalam, Mad, biasa aja dong."
"Sttt, ganggu aja."
Ahmad datang ke kelas dengan gertakan suara yang sangat nyaring di dalam kelas. Memang rese sekali itu orang. Untung masih berguna itu orang, coba kalau enggak berguna, sudah ku habisi kali. Akhirnya aku memutuskan keluar kelas dan menunggu para temanku, beberapa menit lagi mereka akan sampai. Aku juga males di dalam kelas karena ada Ahmad si biang rese itu.
Tak menunggu lama, temanku pun datang. Iren, dan Zena menghampiriku sedangkan Naren langsung masuk ke ruangannya yang berada di samping ruanganku. Naren langsung masuk ke kelasnya karena ingin buru-buru mencari tempat duduknya. Tenang saja, Naren itu tidak akan sendirian kok.
__ADS_1
Jam 07.30 sudah masuk, bel berbunyi dering. Banyaknya murid yang masuk bersamaan sampai membuat gaduh di kelas. Saat ku lihat orang terakhir yang masuk kelas sambil menutup pintu, orang itu, orang itu Kaki. Wahh, ketiban durian motong lagi. Rezeki anak sholehah.
Kakak itu duduk di belakang. Detak jantungku masih bisa ku kendalikan karena aku tidak melihat langsung wajah kakak itu. Hari pertama dan kedua berjalan normal walau sesekali teman-temanku mengadu kepada Kaki bahwa aku menyukainya, ngadu saat Kaki sedang bersama teman-temannya, malunya bertambah-tambah, apalagi teman pasti identik suka meledek. mungkin dari situ teman-temannya Kaki jadi suka bercanda dengan aku dan teman-temanku. Lucu-lucu sekali tingkah mereka.
Saat ulangan hari ketiga, ada kenangan yang sangat tidak bisa ku lupakan. Ada salah satu temannya Kaki yang sangat lucu, ia orangnya gendut mungkin bajunya udah rada sempit gitu. Ia duduk di barisan depan ku. Saat kelas sedang sunyi-sunyinya mengerjakan ulangan, tiba-tiba ada suara cekikikan dari barisanku, kakak Aisyah dan satu orang teman kelasku. Cekikikan itu sangat heboh sekali, sampai suasana kelas jadi bingung apa yang sedang mereka tertawakan.
"Ketawain apa kak?"
Kak Aisyah tidak menjawab pertanyaan ku dengan suara, tapi ia menjawab sambil cekikikan menunjuk-nunjuk bagian belakang teman di depannya. Aku pun bingung, tidak bisa menemukan suatu hal yang jadi bahan tertawanya itu. Semakin lama tertawa itu semakin kencang, dan bertambah banyak orang-orang yang juga ikut tertawa. Kak Aisyah pun memberitahukan lagi dengan cara yang sama sampai akhirnya aku sadar apa yang sedang ditertawakannya.
Ternyata ada tompel, sepertinya bukan tompel, tapi aku juga tidak tahu itu apa. Bentuknya bulat seperti duit gopean tapi warnanya hitam sekali, beneran hitam dan lingkaran gopean itu beneran rapi sekali apalagi hitam pekat lingkarannya. Nyata banget warna hitamnya ada di bagian atas bokongnya itu. Mungkin karena kakak itu sedang mengambil penghapus yang jatuh, saat itu baju belakangnya ketarik ke atas sampai terbuka. Makanya bisa seperti itu. Muka kakak kelas itu pun bingung, karena yang tertawa terbahak-bahak ada di barisan belakang dia, muka bingungnya itu malah jadi bahan ketawaan lagi, karena lucu banget muka bingungnya.
Saat aku sadar bahan tertawaan mereka, aku pun juga ikut cekikian bersama mereka, bahkan tertawaku menyaingi mereka. Hahahaha, saat itu, Iren nanya kepadaku dan aku tunjukan mirip saat kak Aisyah menunjuk-nunjuk seperti tadi. Iren langsung sadar dan ikut terbahak-bahak juga. Saat itu Kaki juga nanya padaku, sudah berulang kali aku tunjuk-tunjuk bagian yang membuat tertawa, tapi dia tetap saja bingung. Hahahaha. Sampai guru pengawas pun juga bingung ada hal apa sampai siswanya tertawa terbahak-bahak seperti itu. Berulang kali guru pengawas menyuruh diam, tapi tak bisa berhenti. Karena saking lucunya jadi masih saja terus tertawa. Sampai bahan tertawanya sadar dan mulai merapikan pakaiannya. Disaat itu tertawa mulai reda, dan Kak Aisyah izin untuk pergi ke kamar mandi, setelah diizinkan, teman sekelas ku yang duduk di samping kak Aisyah pun juga ikut ke kamar mandi. Mereka berdua kebanyakan tawa jadi mereka pada kebelet pipis. Saat kak Aisyah kembali ke kelas. Ia masih saja cekikikan kecil, mungkin masih teringat akan hal tadi. Sumber lucunya persis di depan ia langsung, bagaimana bisa dengan mudahnya melupakan kejadian lucu itu.
Baru kali itu aku ulangan dibuat ngakak oleh kejadian-kejadian yang tidak terbayangkan. Kelas pun jadi sunyi kembali.
__ADS_1