Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 23


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya sama seperti hari kemarin, berputar-putar saja seperti itu. Berangkat - duduk di kelas - belajar - masuk - mengerjakan ulangan - kumpulkan - Kaki duduk di sampingku - Istirahat - Aku dengan teman-temanku belajar bareng - masuk - dan lain-lainnya.


Tidak ada yang istimewa di hari ini, sampai di hari terakhir ulangan. Aku sengaja berangkat pagi banget, saat semua siswa belum datang ke sekolah. Aku ingin cepat-cepat sampai ke sekolah sekaligus biar belajar lebih tenang. Aku menghubungi temanku karena aku sudah berangkat lebih dulu agar para temanku bisa langsung ke sekolah saja tanpa menunggu bayangku di rumah.


Aku jalan Kaki ke sekolah, sampai di sekolah masih sepi sekali, udara juga masih sejuk banget. Otak jadi lebih fresh. Menyejukkan.


Saat Kaki ku memasuki kelas, aku terheran-heran ada seseorang yang sudah duduk di samping bangku ku.


"Wah, gila sih, siapa orang yang berangkat sepagi ini. Waduhh, gimana ini, kalau berdua doang sama orang itu malah canggung pasti suasananya, apa duduk di depan kelas aja kali ya." ucapku sendiri.


Aku yang berbicara dengan diri sendiri pun masih saja di depan pintu yang sedikit terbuka sambil memegangi gagang pintu. Masih perang batin dengan diri sendiri.


"Dek, masuk aja, ngapain di depan pintu kayak gitu?"


Wahh, pikiranku tambah kacau dong, bukannya dapat kenyamanan yang ada malah keresahan, lalu gimana dong, mana udah ditegur lagi. Dengan berat hati, aku melangkah masuk ke dalam kelas.


Aku dikagetkan lagi dengan kehadiran Kaki, ternyata orang yang duduk di samping bangku ku itu adalah Kaki. Bukannya tempat duduknya di belakang ya, kenapa dia duduk di bangku kak Aisyah kayak gitu. Bisa ribet urusannya kalau aku duduk di bangku ku.


Aku seperti terjatuh dilubangku sendiri. Mana aku datang pagi banget, harus tunggu 1 jam baru semua siswa datang. Memang dua orang gila ini yang sangat menyukai datang pagi. Aku menaruh tas dan duduk di bangku depan. Sengaja aku tidak duduk di bangkuku. Jantungku kumat lagi, dag-dig-dug cepat sekali.


"Dek, kok duduk di depan?"


"Eh, emangnya salah ya ka?"


"Salah dek, kamu kan duduk di sini." sambil menunjuk bangkuku.


"Oh, iya ya ka, kakak juga kenapa duduk di situ"


"Enggak apa-apa dek, Kakak suka aja duduk di sini."


"Ohh, gitu. Berarti aku juga suka aja duduk di sini ka." ucapku untuk membela agar aku bisa duduk berjauhan dengannya.

__ADS_1


Suasana kembali hening, aku menyibukkan diriku untuk membaca buku. Saat aku baca buku, Kaki pindah duduk di dekatku. Aku panas dingin, enggak berani nengok ke arahnya. Diam kikuk.


"Nah, belajar yang rajin ya dek."


"Iya Kak, Ka..kak juga."


Aku dan Kaki pun belajar masing-masing. Aku sangat tidak fokus sekali. Keringat berjatuhan. Padahal AC dingin, tapi aku keringatan. Sampai kapan aku kayak gini, waktu lambat sekali berjalan, walaupun hari ini pasti akan aku ingat, tapi aku juga menderita jika seperti ini terus. Kak, plis pindah dong, setidaknya biarkan aku bebas. Aku seperti terhimpit kak. Benar-benar sesak.


Aku bertahan pada posisi seperti itu sampai ada yang datang, setelah 20 menit berlalu.


Braaaaakkk...


"Hei, Pril."


"Ahmad, tahu enggak jawaban yang ini? Hmm, Ka, aku mau ke situ dulu ya."


Aku langsung buru-buru ke Ahmad, sebenarnya aku sudah tahu jawabannya apa, tapi karena pura-pura agar bisa menghindar dari Kaki, makanya aku langsung mengambil kesempatan emas itu.


"Pril, temen-temen belum pada datang?"


"Belum, tadi sengaja berangkat pagi."


"Kenapa sengaja berangkat pagi? Biar bisa berduaan sama kakak itu? Keknya aku jadi nyamuk nih diantara kalian berdua."


"Bukan, bukan karena itu, April aja enggak tau kalau kakak itu udah datang duluan. Justru kehadiran Ahmad itu sangat dibutuhkan disituasi sekarang ini!"


"Giliran ada maksudnya baru dibaik-baikin."


"Yee gitu doang, maaf deh kalo gituu haha."


Akhirnya aku dan Ahmad belajar bersama sampai teman-teman ku datang.

__ADS_1


Temanku datang lama sekali, tumben mereka lama kayak gini, biasanya cepat-cepat banget.


5 menit kemudian teman-temanku datang, saat itu, dia langsung menghampiriku, dia mengajakku duduk di tempat Iren, karena saat itu tempat Iren paling sepi.


Aku mengobrol-ngobrol dengan teman-temanku, aku cerita mengenai peristiwa tadi pagi. Aku datang ke kelas dan aku dikejutkan karena ada Kaki sedang duduk di sebelah bangku ku. Kemudian, karena aku tidak mau duduk dengannya, makanya aku duduk di depan. Ini loh jantung aku enggak kuat detakannya, makanya aku pindah. Terus tiba-tiba Kaki malah nyamperin aku, lalu dia duduk di sampingku, gimana yaa, aku sih senang cuma kalau terlalu dekat, itu jadi menyakitkan buat ku. Aku dan dia sama-sama belajar, kelas hening sekali, mungkin saja detak jantungku mengirama kelas ini. Untungnya si Ahmad datang lalu aku langsung pindah ke Ahmad, aku sebenarnya enggak enak sama kakak itu, tapi mau gimana lagi.


Teman-temanku mengerti maksud ku, ia hanya kasih saran, kalau aku harus berani bilang ke dia saat aku tidak nyaman di dekatnya. Aku tidak yakin bisa berani karena berani itu bukan aku tapi aku menerima saran-saran dari temanku kok.


***


Saat jam-jam pengawas menyusun jawaban sesuai absen, Kaki pun melakukan hal yang sama lagi, ia duduk di sampingku tanpa berkata sepatah kata pun.


Kriiing...krinnggg


Bel berbunyi tanda istirahat.


"Ki, ayo jajan, gua enggak mau maksa-maksa lu kayak kemarin lagi." ucap temannya Kaki


"Iya, duluan aja."


"Cepetanlah, nungguin apa sih?"


Kaki pun tersenyum sambil melirik ke arah ku. Aku bingung arti dari gerakannya itu.


"Dek, senyum dong."


Mukaku langsung memerah, lagi-lagi aku menerima perkataan itu darinya. Kenapa si ka? Kenapa?


Untuk kali ini, aku tidak tahu kenapa bibirku bergerak tersenyum dengan sendirinya. Setelah aku senyum, Kaki pun langsung cabut bersama dengan teman-temannya.


Aneh bukan gelagat dia? Aku benar-benar tidak mengerti mengenai hal ini. Dasar kakak rese. Pagi-pagi udah buat jantung berkedut sampai kapan jantungku dapat menampung detakan yang kencang seperti itu? Sabar ya jantung, kamu harus kuat pokoknya!!!!

__ADS_1


__ADS_2