Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 25


__ADS_3

Pada liburan kenaikan kelas ini, aku menyibukkan diriku untuk mengirim pesan ke Kaki. Aku rindu banget. Jika aku tahu dimana rumahnya, pasti akan ku datangi walaupun aku hanya memantaunya dari jauh. Aku tidak senekat itu. Serindu-rindunya aku hanya bisa melampiaskan lewat foto. Aku sering sekali berbicara dengannya lewat foto. Aku menghayal seakan-akan foto itu nyata, biar aku bisa membagikan rinduku dengannya.


Sedikit demi sedikit aku menjadi tegar, sudah biasa menanggung kerinduan yang semakin membludak, aku menjadi orang yang kuat. Melewati hari libur tanpa dirinya. Saat kelas 9 pun aku juga tidak akan bertemu dengannya lagi. Jadinya, aku belajar untuk menahan rindu. Membiarkan rasa ini terus tumbuh walaupun tidak terurus.


Penuh harap dengan dirinya, sehingga percaya suatu saat nanti aku akan jadi miliknya. Milik sesungguhnya dihadapan Allah. Kemana pun aku melangkah, aku akan selalu menjaga hatiku untuknya, akan ku pastikan hatiku tetap utuh. Aku akan setia. Tidak akan mendua. Semua perasaan ku hanya tertuju padamu saja, walaupun aku tidak tahu bagaimana perasaan mu. Hanya dengan kamu membalas pesanku saja, aku sudah bahagia kok. Bahagia ku itu tidak muluk-muluk, dengan bersamamu saja sudah bisa buatku bahagua, semua hidupku jadi lebih indah. You yellow I.


Liburan berjalan cepat sekali, hari ini aku akan masuk ke kelas 9, baru kemarin aku jadi anak bontot, sekarang aku sudah jadi anak sulung di sekolah ini. Maksudnya sudah jadi senior. Aku sekelas lagi dengan teman-temanku, senang sekali rasanya, tapi aku tidak sekelas dengan teman dadakan ku. Aku penasaran, kelas 9 ini seperti apa si situasinya? atau mungkin situasi seperti kelas 8 kemarin? Baguslah kalau seperti kemarin, tapi kalau seperti kelas 7, habislah aku. Tidak enak sekali, anak-anaknya suka merendahkan orang lain, tidak ada rasa mengalah, egois, tidak ingin menyatu, tidak ada rasa welcome ke orang lain, seakan di kelas itu mempunyai sekat khayalan dari kelompok yang satu ke kelompok lainnya.


Mimpi buruk, pasti ini benar-benar mimpi buruk, mungkin saat kemarin kejatuhan durian motong, dagingnya sudah diambil, durinya belum sempat dibuang, jadinya aku terkena duri itu. Kesal, kesal. Teman kelas juga tidak enak, tidak seru, saat ini juga tidak ada Kaki, apalagi yang membuat mood ku naik? Untungnya masih ada sahabat-sahabatku yang cantik dan imut. Kalian memang selalu ada ya. Dengan sahabat aku pasti bisa melewati ini semua. Pasti bisa. Siapa dulu, SSTB.


Di kelas 9 berjalan normal walaupun ada hambatan dari anak-anak kelas yang membuat aku tidak nyaman. Oiya, di kelas 9 ini berat badanku semakin naik. Baju olahraga ku yang tadinya berukuran L bahkan M saja mungkin masih muat secara bertahap naik. Saat kelas 8 aku memakai ukuran XL, kelas 9 ukurannya pun naik jadi XXL, baju olahraga ku sempit sekali, sangat ngepress tubuh. Aku tidak suka kalau pelajaran olahraga, untungnya guru olahraga pernah bilang, kalau di kelas ini boleh pakai baju olahraga bebas, asalkan saat pengambilan nilai praktik harus memakai baju olahraga dari sekolah. Ahad berikutnya aku membawa baju olahraga pribadi. Aku pakai baju olahraga ku, saat aku selesai ganti baju di kamar mandi, teman-teman perempuan ku yang mengganti baju di ruang kaca kamar mandi memandangku, semua plongo melihatku. Aku tidak suka sekali situasi seperti ini, saat dimana aku jadi bahan perhatian semua orang. Akhirnya satu persatu orang bertanya padaku. Aku seperti artis pada waktu itu.

__ADS_1


"Pril, kok bajunya beda?"


"Ahahaha, iya nih, soalnya udah ngepress banget baju olahraga sekolahnya."


"Emangnya boleh ya pake baju olahraga bebas?"


"Boleh, waktu itu kan pak itu pernah bilang sendiri."


Aku jadi bingung sendiri, padahal beliau yang bilang boleh, masa beliau lupa dengan ucapannya sendiri. Ahad depannya aku terpaksa membeli baju olahraga. Terima nasib, guruku lupa dengan perkataannya sendiri.


Boleh dibilang, aku ini jail-jail diem. Kenapa? Karena sebenarnya aku itu mumet melihat guru olahraga ku yang pilih kasih dengan siswa cantik yang ada di kelas ku. Kebetulan banget, saat pemanasan, siswa yang katanya cantik menurut versi pak olahraga itu salah mengangkat kaki saat pemanasan, seharusnya kaki kiri malah kaki kanan yang diangkatnya, otomatis pak olahraga ngomel-ngomel dengannya. Betapa isengnya aku, akhirnya aku mengganti posisi kakiku yang semula benar jadi aku salahkan. Aku juga kepo dengan guru itu, apakah dia menegur ku seperti dia menegur siswa cantiknya itu. Btw barisanku aku di samping siswa cantik itu. Ternyata guru itu menegurku dengan cara yang sama juga. Hahahaha aku puas sekali mengerjai dia, aku sengaja buat dia marah siapa tau tidak jadi olahraga. Makanya pak, jangan pilih kasih sama siswanya.

__ADS_1


Selesai olahraga aku dan teman-temanku langsung berganti baju. Kemudian, aku dan para temanku berisitirahat di dalam kelasku, dengan dinginnya AC di kelas. Sudah gerah banget habis olahraga.


Saat kelas 9 ini, aku masih saja mencari wajah itu, wajah yang sudah aku sadari bahwa ia tidak akan pernah ada di sekolah ini lagi, tapi tetap saja aku keras kepala untuk gigih mencarinya. Aku ingin sekali diberikan satu kesempatan saja bertemu dengan kakak itu, agar aku bisa melepas beban rinduku padanya. Kakak ke sekolah dong. Aku sudah rindu sekali.


Setiap hari aku melamun, dalam lamunanku selalu berkata seperti itu, "tolong diberikan kesempatan sekali lagi agar aku bisa melihat wajahnya" secara terus menerus berkata seperti itu.


Selepas sholat Isya, aku juga selalu meminta kepada Allah agar aku bisa bertemu dengan Kaki, "aku kangen dia ya Allah, tolong berikan aku kesempatan agar aku bisa melihatnya lagi." Biasanya mataku sembab setelah berdoa, aku sangat bersungguh-sungguh berdoa agar Allah dapat mengizinkan aku bertemu dengannya. Tanpa pernah putus berdoa. Selalu saja melontarkan kata-kata seperti itu di dalam doaku, bukankah kata-kata itu ada banyak? Kenapa hanya kata-kata itu saja yang selalu ku lontarkan? Bukan dilihat dari banyaknya jenis kata yang dilontarkan tetapi dilihat dari ketulusan ucapan-ucapan itu. Lagipula perkataan itu identik dengan perasaan, mereka berdua perkataan dan perasaan) saling melekat dan tidak bisa dipisahkan, seperti aku dan Kaki, bisa melekat dan tidak bisa dipisahkan. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, semoga jauh diorang yang tepat.


"Kak, aku rindu"


hanya tiga kata tapi susah untuk mengetiknya, pada akhirnya aku tidak jadi mengirim pesan ke Kaki.

__ADS_1


__ADS_2