
Ahmad sebenarnya orang yang baik sekali, walaupun jailnya kebangetan. Saat ulangan dia juga tidak pelit memberikan jawaban. Aku pun demikian, karena Ahmad tidak pelit, makanya aku tidak sungkan memberikan jawabanku dengan bebas ke Ahmad, sampai-sampai waktu itu Ahmad ranking ke-5 dan aku ranking ke-6, bermain-main saja di 10 besar itu.
Pernah sesekali aku masuk di ranking 5 besar, senang sekali rasanya. Aku dapat di urutan ke-4 tapi yang aku bingungkan kenapa si Ahmad malah menurun. Hmm yasudahlah ya. Anggap saja aku sedang hoki.
Di kelas 8 ini, aku bergaul oleh siapapun, baik itu cewek maupun cowok, karena cowok di kelas ini asik-asik semua. Berbeda dengan cowok di kelas 7. Semuanya asik, tidak mendiskriminasi dan tidak merendahkan orang lain. Makanya di kelas 8 itu gabung semua warganya.
Waktu cepat sekali berjalan di kelas ini, karena hari demi hari yang selalu berseri ketika ku jalani membuat ku tak sadar akan detikan jam yang membuatnya semakin cepat berlalu. Kenyamanan di kelas 8 membuat jam itu semakin cepat menurutku. Pada masa-masa yang bahagia, waktu itu pasti cepat berlalu, tapi pada masa keterpurukan, justru kebalikannya, jam terasa berjalan sangat lambat.
Pokoknya masa-masa di kelas 8 itu yang paling keren sekali, aku bisa bersama dengan para sahabatku, mendapatkan teman kelas yang sangat merangkul, dan mempunyai orang kesayangan walau hanya bisa ku pantau saja. Itu semua membuatku terlena. Seperti tertimpa hadiah yang menakjubkan dalam hidupku. Siapa yang sangka?
Aku berjalan menyusuri lorong dan naik beberapa tangga agar sampai ke perpustakaan, aku dan teman-temanku kadang pergi ke perpustakaan untuk mencari buku novel atau apapun itu yang bisa menghibur. Cerita-cerita yang mudah ku pahami dan menarik. Setelah mencari buku, aku mengambil sebuah cerita bergambar. Aku mulai membacanya, karena buku itu adalah komik, jadi dengan mudahnya aku mengerti isi dari buku itu, karena tidak perlu membaca panjang lebar. Males sekali aku.
Cerita dalam komik seru sekali, saking serunya aku menghabiskan sisa waktu ku di perpustakaan. Teman-temanku juga sedang mempunyai kehidupan di buku yang mereka pilih masing-masing. Sekalinya ketemu buku yang sesuai dengan selera, langsung dibabat habis oleh mereka. Setelah ku lihat sekeliling, akhirnya aku melanjutkan membaca komik.
"Dek, serius amat, baca apa?"
__ADS_1
"Eh, kok ada kakak? Sejak kapan ada di sini?" (sambil kaget saat menengok)
"Kakak ke sini karena ada tugas, biasalah cari referensi."
"Oalah, ya..yaudah ka, lanjutin aja nyarinya."
"Kakak udah dapet kok referensinya, kakak numpang dulu ya duduk di sini, boleh kan?"
"Hmm, i..iya ka boleh."
Berjam-jam aku jadi batu yang mengeluarkan keringat dingin. Tubuhku beku. Jantungku seperti memberontak. Perasaan pun tak karuan. Mau gerak saja aku kaku, karena aku takut gerakanku dapat menganggunya dan aku tersiksa banget, kaki ku sudah kesemutan, tangan ku juga sudah pegal memegangi komik yang jadi hambar ini karena kehadiran si misterius itu. Cepetan kek keluar dari sini.
Jam berjalan sangat lambat sekali. 1 jam kemudian, temanku Zena menjadi penolong ku, karenanya aku bisa keluar dari suasana itu. Huhhh, bebas juga akhirnya. Terima kasih Zena, sangat pengertian sekali.
Tipe yang cocok untuk orang seperti aku ini yaitu menyukai orang dari jarak jauh. Lihat saja kejadian tadi, aku mati kutu di sampingnya. Mau bergerak aja harus berpikir keras dulu. Memang dasar aku. Apakah kalian juga sama seperti ku?
__ADS_1
Kalau di dekatnya aku bisa tersiksa sampai-sampai aku berdoa untuk dijauhkan darinya, berbeda sekali saat aku sudah jauh darinya, seperti tadi, saat aku sudah keluar dari perpustakaan dan sudah ada jarak antara aku dan Kaki, aku baru bisa teriak-teriak enggak jelas, aku bisa menggila bahagia karena aku sudah bertemu dengan Kaki. Hahaha lucu ya aku ini. Ada kesempatan bagus malah ku buang begitu saja. Tapi, mau gimana lagi. Itulah Aku.
Sekolahan sudah sepi sekali, nampaknya hanya ada beberapa siswa yang masih tertinggal di sekolah ini. Mungkin mereka ada urusan di sekolah. Aku dan teman-temanku langsung mengambil tas dan balik ke basecamp. Sesampainya di basecamp temanku pada kepo sekali dengan kejadian di perpustakaan tadi, ia sangat penasaran kenapa aku bisa duduk sebelahan dengan Kaki, padahal tadi kan tidak ada Kaki di sana kok tiba-tiba bisa ada di sebelah ku.
"Pril, tadi si dia kenapa bisa ada di sebelah kamu? Kamu janjian ya berdua, biar bisa duduk bareng lagi" tanya Iren.
"Aku juga enggak tau kenapa dia duduk di sampingku, padahal tempat duduk kosong masih banyak banget, aku enggak pernah janjian sama dia, serius."
"Dia kayaknya naksir juga deh sama kamu, coba aja kamu pikir, kenapa dia milih duduk di sebelah kamu, pasti ada apa-apanya." ucap Zena.
"Mungkin di tempatku sejuk kali ya, karena pas banget di bawah AC. Kayaknya enggak mungkin deh dia naksir sama aku. Masa iya Kakak kelas sekece itu bisa naksir sama aku. Haha enggak mungkin banget."
Begitulah kira-kira obrolan sore kami, teman-temanku semangat sekali kalau membicarakan aku dengan Kaki. Heboh banget. Sampai pembicaraan itu selesai jam setengah 8 malam. Mereka baru mau balik kalau sudah puas mengobroli hal itu. Saat mereka sudah balik, Naren balik belakangan, Aku dan Naren memang sudah biasa mengerjakan tugas bersama setelah pulang sekolah. Jadinya, Naren sering main di rumahku sampai larut malam. Seru banget. Selain bisa cepat bebas dengan tugas, Aku dan Naren juga sering curhat-curhatan. Pokoknya sahabat-sahabatku sudah seperti saudaraku sendiri. Setiap hari bertemu kecuali hari Ahad untuk istirahat. Melukiskan kisah bersama sahabat itu indahnya bukan main. Pokoknya kalau kalian punya sahabat, jangan disia-siakan, apalagi jika datang saat butuh doang, itu namanya bukan sahabat. Mengertikan? Sahabat itu orang yang sudah kenal betul siapa kamu, tanpa kamu bilang sepatah kata pun, dia juga sudah tau apa yang ada dipikiranmu. Dia orang yang paling peduli denganmu, yang selalu hadir untukmu tapi jika dia tidak mampu selalu hadir, jangan salahkan dia, karena seorang sahabat pasti memiliki kesibukannya masing-masing. Ia juga memiliki hal-hal yang harus ia lakukan, bukan hanya kamu saja yang harus ia pikirkan. Ingat ya itu. Yang penting hargai kehadiran dan perbuatan mereka, jangan banyak menuntut apapun, terima apa adanya.
Salamku untuk kalian semua dan terima kasih karena sudah mengindahkan kehidupanku. Ku harap kalian akan selalu hadir sampai kita berkumpul di surga nanti. Aku cinta kalian, sob.
__ADS_1