Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 27


__ADS_3

Setiap gawaiku berbunyi, aku langsung melihatnya, berharap bunyi itu berasal dari Kaki. Aku terus menerus menunggu jawaban dari Kaki, sampai aku terlelap karena terlalu lama menunggu balasan darinya.


Menunggu pesannya sampai kebawa-bawa dalam mimpi. Bermimpi pesanku langsung dijawab olehnya, dan dia tidak membuatku menunggu jawaban darinya. Seru rasanya bisa berbalas pesan dengan speed yang tinggi.


Pagi tiba, aku bingung, karena tiba-tiba aku terbangun, saking kelelahannya sampai tidak sadar kalau aku tertidur nyenyak. Aku memeriksa gawaiku, di sana ada pesan masuk dari Kaki, aku tidak bisa membiarkan pesan itu lama-lama, padahal aku ingin sesekali membalas lama agar dia tahu apa yang aku rasakan, tapi aku tidak mampu melakukan itu. Seperti ada magnet saat melihat pesan darinya. Aku langsung membalas pesan itu.


"Hai,hai. Haha, Kakak kangennya sama sekolah dek, bukan sama kamu."


"Kirain ka, kan udah lama gak ketemu."


Setelah membalas pesannya, aku langsung prepare ke sekolah, apalagi aku lupa menyiapkan buku-buku pelajaran yang nantinya akan dipelajari, alhasil persiapanku semakin lama.


Saat ku rasa sudah beres semua bawaanku, aku langsung ke basecamp menunggu kedatangan teman-teman ku.


"Hai Pril, pagii, ada tugas enggak hari ini?


"Haii, pagi juga, enggak ada tugas kok, sini duduk sambil nunggu yang lain dateng."


Jika teman-temanku sudah komplit, aku langsung berangkat ke kelas. Biasanya kalau ada tugas, aku mengerjakan dahulu di basecamp. membagikan projek tugas, aku mengerjakan dari halaman sekian sampai sekian, dan begitu juga dengan yang lainnya, sampai selesai tugas-tugasnya. Jadi lebih cepat selesai, bukan?

__ADS_1


Aku sudah duduk di bangku kelasku, aku ngobrol-ngobrol dengan temanku, aku duduk sebangku dengan Naren, kalau Iren duduk sebangku dengan Zena. Aku duduk di belakang Iren dan Zena. Bisa tiap hari kami bermain, mengobrol, dan melakukan hal-hal gila, tetapi kami tidak pernah satupun kehabisan obrolan ataupun mainan.


Di sekolah, aku sangat cemas sekali, aku ingin cepat-cepat pulang karena tidak sabar melihat gawaiku. Aku ingin langsung membalas pesan darinya, kalau ada.


Di sekolah aku jarang membawa gawai. Aku pikir percuma saja membawa gawai jika jarak rumah ku sangat dekat sekali, terlebih lagi, gawai akan dikumpulin di dalam box dan dikumpulkan ke meja guru piket. Bukannya percuma saja kalau bawa, sama-sama tidak bisa memainkan gawai.


Sepulangnya sekolah, aku melewati cafe yang ada di samping sekolahku, saat aku lihat pintu masuk cafe itu, ternyata aku melihat sosok itu lagi, dia sedang berdiri di depan pintu, dan dia juga sadar kehadiran ku, dia melihat ke arah ku, lagi-lagi aku tersihir dengan wajah alimnya itu bersama dengan sinar di sudut bibirnya yang membuat aku membalaskan senyuman ke arahnya.


Aku berjalan pulang menuju basecamp dan menjauh darinya, melangkah berat untuk meninggalkannya, aku ingin sekali lebih lama melihatnya. Tapi aku malah mengikuti langkah temanku yang semakin maju ke depan. Aku mengikuti drap kaki temanku, aku menjauhinya, padahal jika aku bilang kepada mereka, pasti mereka akan menyuruhku untuk lebih lama diam disitu agar bisa menatap Kaki, tapi setelah itu, mereka akan menjahiliku.


Singkat cerita, aku sampai di basecamp, aku menceritakan ke mereka bahwa aku melihat Kaki. Mereka meledekku.


Malem itu aku menghabiskan waktu ku untuk mengirim pesan ke Kaki, tumben banget Kaki jawabnya cepat, sampai aku ketiduran.


Setiap hari aku seperti itu, berjalan seperti itu sama seperti hari-hari lainnya, mungkin yang membedakan, Kaki tidak lagi muncul di lingkungan ku. Ia menghilang, tidak lagi datang ke sekolah. Padahal aku sangat kangen dengannya. Aku hanya bisa mengirim pesan dan doa untuknya agar suatu saat nanti aku bisa melihatnya lagi.


Tetapi, dia berubah. Dia tidak mengirim pesan lagi sampai tidak ada kabar sama sekali, menghilang tanpa jejak, aku pun bingung untuk memulai kembali, aku ingin sekali memulainya, tapi aku belum bisa mengirim pesan ke dia karena kehabisan obrolan. Sampai pada saat puasa, aku bisa memanfaatkan situasi itu untuk mengirim maaf kepadanya, akhirnya aku bisa chatan dengannya sampai lebaran, sebulan full aku bisa chatan dengannya. Aku juga memberitahu agar dia tidak hanya puasa saja yang penuh, tapi sholat tarawihnya juga harus penuh. Aku seperti ini bukan karena ingin dianggap sok banget, tapi aku berharap agar dia bisa memanfaatkan semaksimal mungkin bulan Ramadhan ini. Untungnya dia menerima saran dariku.


Sampai lebaran tiba, aku masih chatan untuk mengirimkan pesan "Minal Aidin wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin". Dia pun juga membalas pesanku seperti itu. Setelah itu aku dan dia senyap kembali, tidak ada pesan masuk darinya lagi. Aku takut sekali, karena tidak ada kabar darinya.

__ADS_1


Berbulan-bulan lamanya tak ada kabar, saat ujian praktik tiba, aku baru memulai chat ke dia lagi.


"Assalamu'alaikum ka, apa kabar?"


"Wa'alaikumsalam, baik dek, kamu apa kabar? Sudah masuk ujian praktik ya?


"Iya ka, kak aku mau nanya, kakak ujian praktik seni budaya nyanyi apa?"


"Kakak nyanyi lagu natural dek, semangat ya ujian praktiknya."


Aku memulai chat dengannya agar aku bisa menguatkan diriku di tengah masa memusingkan ini, Kaki adalah salah satu dari sekian penyemangatku, setelah kedua orang tuaku dan sahabatku. Saat ujian datang bertubi-tubi, aku menjadi stres. Pokoknya kalau aku lagi banyak pikiran, pasti orang lain yang ngomong denganku, jawabanku pasti tidak nyambung dengan omongan itu. Teman-temanku juga hapal sekali dengan perilaku ku yang seperti itu.


Akhirnya aku bisa menjalani rentetan ujian yang memuakkan itu, semua sudah beres, tinggal menunggu kelulusan dan mencari tahu informasi pembukaan sekolah menengah atas, aku akan jadi anak bontot lagi. Jadi adik kelas lagi, akan ada masanya yang di atas akan turun ke bawah, dan di bawah akan naik ke atas, karena prosesnya seperti itu.


Setelah kelulusan, Alhamdulillah nem ku lumayan bagus, aku akan daftar SMA negeri. Aku ingin sekali satu sekolah lagi dengan Kaki, tapi Ibuku tidak mengizinkanku untuk sekolah disitu, karena kata Ibuku, sekolahnya jauh, dekat jalan raya. Akhirnya ku kubur harapanku, dan aku memilih sekolah yang berada di ujung perumahan. Sedih banget rasanya, teman-temanku, Iren dan Zena pun sekolah di satu tempat dengan Kaki, aku sendirian sekolah di sini.


Aku mengikuti MBS atau masa orientasi siswa, masa yang sangat memusingkan banyak pihak, mungkin masa ini lebih pusing daripada menghadapi ulangan. Masa yang diharuskan membeli barang sesuai dengan nama samaran barang yang telah diberikan, dan masa yang memakai atribut layaknya pergi ke pesta, menggunakan topi kerucut dan mengalungi name tag berbentuk baju, aku berada di kelas atau disebutnya Clara Oren. Jadi, Clara itu ada banyak sekali, ada Clara merah, kuning, biru, dan yang lainnya.


Aku memakai kerudung oren, dan pita oren. Seperti orang gila. Aku malu sekali.

__ADS_1


__ADS_2