Hai!! Kaki

Hai!! Kaki
Episode 5


__ADS_3

Bel berbunyi, semua siswa masuk ke kelas dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian ke dua. Pengawas pun masuk ke kelas dan melakukan hal seperti biasanya lalu membagikan kertas soal dan jawaban ke siswanya.


"Wah, gampang-gampang banget soalnya." ucapku dalam hati


Aku langsung mengerjakan dengan sepenuh hati, asik sekali saat mengerjakan ulangan ini. Aku mengerjakan ulangan dengan senyuman serta menganggukan kepala dengan hikmat. Aku menikmati kata tiap kata yang ada di soal itu.


Mungkin karena keasikan menganggukan kepala, aku tidak sadar kalau kakak rese itu sedang menertawakanku. Saat kakak rese itu memberitahu teman depannya, di saat itulah Ezri pun melihatku, lalu kakak rese itu menunjukku tapi aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Tiba-tiba Ezri mengacaukan kedamaian hari ini.


"Kak, kak, dia suka tuh sama kakak." ucap Ezri sambil menunjuk ke arahku.


Di situ aku merasa malu sekali, mungkin muka ku bukan berubah menjadi kepiting rebus tapi berubah menjadi merahnya banteng marah yang siap menyeruduk Ezri sampai terpental. Kakak rese itu menjawab Ezri dengan senyuman lebar selebar dunia. Tandanya apa ya kalau kakak itu tersenyum. Duh, jantung rasanya mau copottt, gaswat kalau copot beneran.


Setelah itu hening kembali, tidak ada yang iseng lagi dan mereka lanjut mengerjakan ujiannya. Aku masih terbayang-bayang senyumannya itu. Mimpi apa aku sampai bisa melihat senyumnya. Aku kembali mengerjakan ujian, karena terlalu semangat mengerjakan soal, akhirnya semua soal sudah aku selesaikan. Sekarang aku ingin sesekali langsung mengumpulkan ulangan dan ku coba untuk berbicara kepadanya. Bismillah.


"kak, kak, misi dong mau lewat." begitu ucapku.


kakak itu pun tidak menggubris perkataanku, cuek dan sok cool banget. Aku ulangi lagi perkataanku.


"kakak, misi dong ka mau lewat." begitulah ucapku sambil kesal.


Kakak itu tidak juga mempedulikan perkataanku. Lalu ia tiba-tiba berkata sesuatu yang enggak nyambung dengan ucapanku.


"Ohh iyaya, jawaban nomor ini ternyata ini toh." ucapnya dengan nada yang sengaja ditinggikan.


Aku langsung menyerah berbicara dengannya, mungkin saja ia tidak ingin aku meninggalkannya, makanya sengaja bilang begitu. Biar aku dan dia selalu bareng mengumpulkan ujiannya.


Teman bangku belakanganku menyadari hal itu, dan ia menahan tawa dengan suara yang cekikikan namun tertahan seperti itu.


Aku terus menunggu sampai kakak itu mengumpulkan ulangannya, mukanya si ok enggak nyebelin tapi sikapnya itu loh yang nyebelin banget, dasar kakak rese. Akhirnya kakak rese itu selesai dan aku segera mengekori kakak rese itu.


Aku mengambil tas di depan kelas, dan mengobrol dengan Zena, kebetulan Zena jangkauannya lebih dekat denganku daripada temanku yang lainnya. Aku sengaja mengobrol lama dengan Zena, sampai pengawas mengintruksi untuk duduk di tempatnya masing-masing.

__ADS_1


Bel berbunyi tiga kali pertanda pulang. Pengawas pun mengintruksi kepada ketua kelas untuk memimpin doa sebelum pulang.


Aku dan teman-temanku langsung cuss ke tempat biasa. Beristirahat sejenak sebelum kembali ke rumah masing-masing mengobrol hal apa saja yang terjadi pada hari ini. Aku masih belum siap untuk memberitahukan apa yang terjadi kemarin dan hari ini, untungnya para temanku mengerti akan hal itu, dan sekarang aku menjadi pendengar curahan emosi teman-temanku.


"Besok hari jumat ya?" tanya Iren.


"Iya besok hari jumat. Kenapa emangnya, Ren?" tanya Naren.


"Berarti besok hari terakhir ulangan ya?" ucap Iren.


"Iya, besok hari terakhir ulangan, enggak kerasa ya kayaknya kemarin baru dimulai ulangan." ucap Zena


"Seharusnya senang dong besok terakhir ulangan, memangnya kamu mau ulangan sampai satu bulan?" ucapku dengan semangat namun ada kesedihan di dalam hatiku karena berpisah dengan kakak rese itu.


"Enggak mau si, cuma sedih aja gitu."ucap Zena.


"sedih kenapa, Zen?" tanya Naren.


"Kirain sedih kenapa, Zena.. Zena.. bisanya bercanda terus." ucap Iren.


Kalau dilihat-lihat ketika Zena mengucapkan besok hari terakhir ada gambaran kesedihan di mukanya itu, entah ia mau kemana aku pun tak tahu. Sepertinya ada suatu hal yang membuatnya sedih seperti itu. Tapi mungkin saja gambaran kesedihan itu hanya sebatas candaan semata? Arghhh aku tak tahu.


Akhirnya semua kembali bercanda riang, moment yang paling ku suka pasti akan selalu ku ingat apalagi menyangkut para sahabatku, moment dimana para sahabatku berkumpul dengan komplit pake telur seperti ini. Bahagia sekali aku bertemu dengan kalian dihidupku. Aku harus banyak-banyak bersyukur karena tidak semua orang bisa mendapatkan rezeki yang begitu indah seperti ini.


***


"Besok ulangan Aqidah Akhlak kan ya?" tanya Naren.


"Iya, besok ulangan itu." jawab Iren.


"Apalagi setelah Aqidah Akhlak?" tanya Naren.

__ADS_1


"Cuma ulangan itu aja, enggak ada tambahan lagi, kalau kamu mau, kamu nambah ulangan aja lagi, aku si enggak mau ya." ucap Zena


"Hahaha nanya doang, Zen." ucap Naren.


"Pada mau belajar enggak buat besok?" tanya Iren.


"Aku ikut aja Ren." jawabku.


"Enggak dulu deh, Ren. Mendingan kita habisi waktu dengan bermain dahulu, penat nih kepalaku. Baru juga istirahat udah diajakin mikir lagi." ucap Zena.


"Hahaha yaudah kalau kayak gitu, nanti malem aja belajarnya di rumah sendiri-sendiri yaa." ucap Iren.


"Siapppp boss." jawab kompak dengan tangan hormat.


"Ehhhh kalian ini, ada-ada aja sikapnya, aku nanti pulang duluan ya soalnya sudah minta dijemput nih." ucap Iren.


"kamu mau pulang duluan? Yaudah aku juga deh." ucap Zena dan Naren.


Akhirnya mereka pulang satu persatu, dan aku menjadi sedih mengingat besok hari terakhir ku duduk bersamanya. Semoga nanti aku bisa bertemu lagi dengannya, yang penting aku masih satu sekolah dengan kakak rese itu berarti masih ada kesempatan untuk bisa bertemu kembali walaupun enggak bisa sedekat itu sih, tapi ya lumayanlah melihat wajahnya saja sudah bisa membuatku senang.


***


Aku bermain gawai terlebih dahulu sambil merefleksikan otakku, setelah itu aku mandi, makan dan sholat.


Kemudian aku menunggu jam 7 malam untuk menonton film yang sedang naik daun, pemainnya juga sedang tenar-tenarnya di saat itu. Pemain yang aku suka di film itu adalah Rafael, pasti kalian tahu film apa yang ku maksud itu. Sosok Rafael yang cool itu mengingatkan ku kepadanya. Film cinta monyet ini memang sangat digemari oleh anak remaja. Apalagi pemain filmnya personil smash pasti booming banget itu film. Film cinta cenat cenut yang selalu ku tunggu akhirnya dimulai.


Selesainya aku menonton film cinta cenat cenut, aku langsung membuka buku pelajaran Aqidah Akhlak, sebenarnya sih pelajaran itu mudah cuma kalau sedang mempelajari istilah pasti susah buat menghapalnya, aku takut kebolak-balik arti istilah itu jadinya aku harus belajar dengan bersungguh-sungguh.


***


Waktu berjalan dengan cepat.

__ADS_1


"Wah sudah jam 11 malem tidak terasa ya, aku siap-siap tidur dulu ah, jangan sampai kesiangan seperti kemarin." Ucapku.


__ADS_2