
Bertahun-tahun lamanya ia jadian, hubungannya tetap awet. Mungkin itu efek dari doaku untuknya, apalagi saat aku doa agar hubungan mereka awet saat itu aku sedang tersakiti, jadinya langsung dijabah doaku.
Aku di sini merindu, rindu akan sosok Kaki, aku sering sekali membayangkan hadirnya ia, namun saat ku bayangkan sosok perempuan itu pasti datang juga dibayanganku. Di dunia nyata aku tak bisa dapatkan dia, malangnya aku, di dunia bayangan pun aku tak bisa gapai dia. Sulit sekali.
Aku melewati hariku dengan kebahagiaan, seolah tak ada masalah dalam hatiku. Aku bungkus patah hatiku dengan senyuman palsu yang ku tunjukkan kepada orang-orang sekitar di sekolahku. Tegar sekali. Hanya ada beberapa orang saja yang tahu mengenai hal itu.
Aku dan kedua teman baruku juga terus bersama. Aku dan Oni satu kelas sedangkan Puma, ia beda kelas sendiri. Saat kelas 11, aku dan Oni tidak sekelas. Jadi, kami semua tak ada yang sekelas, beda-beda kelasnya, untungnya karena aku mengikuti ekskul paskibra, aku jadi bisa mengenal teman yang nantinya akan sekelas denganku.
Perbedaan kelas antara aku, Oni, dan Puma, membuat hubungan retak. Oni semakin lama semakin menjauh, sedangkan hubungan aku dan Puma tidak pernah menjauh, Puma memang orang yang setia. Dia teman setiaku.
Sakitnya patah hati tidak membuat diriku terjatuh sakit, bahkan saat di SMA, aku tidak pernah hampir pingsan seperti SMP dahulu. Ehh, pernah deh sekali, saat latihan paskibra pertama kali, aku dibina di lapangan, berdiam diri di tengah hari yang sinar mentarinya langsung terfokus kepada para calon paskibra. Sepertinya aku salah memilih ekskul, semakin lama aku semakin membatin ikut ekskul ini. Kakak seniorku gila hormat, apalagi saat dibentak-bentak, waktu itu tanganku pernah diinjek oleh senior yang menggunakan sepatu pantopel. Pokoknya banyak kejadian yang tidak aku sukai. Mengapa saat paskibra makan harus cepat? Padahal makan itu tidak boleh cepat-cepat, bukankah di dalam Islam, makan tidak boleh cepat-cepat? Bagaimana kalau ada yang tersedak? Ia tidak bisa napas dan akhirnya tewas? Aku selalu memikirkan hal itu. Mengikuti ekskul paskibra, juga ada point plus tersendiri, karena di sana diajarkan bagaimana caranya solid dengan kawan yang lainnya, kalau ada satu orang yang salah, semua juga salah. Egois tidak diperlukan di dalam ekskul ini.
__ADS_1
****
Berjalannya waktu, aku naik ke kelas 12, jadi kakak kelas lagi. Kelas 12 tidak ada perpindahan kelas. Alhamdulillah, aku tidak usah mencari tempat dan teman duduk lagi. Saat kelas 12, aku pernah sekali melihat Kaki. Waktu itu, aku sedang ke suatu mall di dekat rumahku, pokoknya daerah mall itu tidak terlalu jauh dengan sekolah dan rumahku. Aku bersama teman sebangku ku, namanya Lina, aku dan dia sedang mencari kado untuk temanku yang berulang tahun. Saat aku melihat-lihat sendal di salah satu toko yang ada di mall itu, aku pun membeli satu yang menurutku pas dengan seleraku. Setelah aku membayarnya, aku pun ingin melihat-lihat toko yang lainnya, aku juga ingin mengantar temanku untuk mencari kado. Suasan mall pada saat itu sepi sekali, hanya ada penjual saja, pembelinya belum berdatangan.
Drap..drapp..
Suara langkah Kaki dengan wajah yang sangat ku rindukan itu. Itu Kaki, dia berjalan bersama mamanya, ada calon mertuaku hehe. Saat aku melihat dia, jantungku berdetak cepat, persis seperti dulu, saat aku lagi suka-sukanya dengan Kaki. Ku kira, aku sudah tidak ada rasa denganmu, tapi ternyata perasaan itu otomatis muncul saat melihatmu. Aku tidak bisa menahan detakan ini. Selama tiga tahun tidak melihatmu, sekarang aku dan kamu tidak sengaja bertemu. Aku yang shock karena detakan jantungku yang terlalu cepat, dan aku tidak bisa menahan detakanku, akhirnya aku mengumpat darimu.
Setelah Kaki lewat dan sudah menjauh, aku langsung mengejarnya, bukan mengejar agar sejajar dengannya, tapi aku mengejar agar melihat dia menghilang oleh jarak. Sampai terakhir aku melihat punggungnya.
Seketika tubuhku langsung berenergi, aku bersemangat lagi. Kegembiraan yang nyata terlihat jelas dirautan mukaku. Gembira sekali, walaupun aku hanya bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
Pada malam hari, aku gegana (gelisah, galau, merana), ingin sekali aku mengirim pesan untuk menanyakan pertemuan di mall itu, aku ingin nanya sedang apa dia di mall, ataupun menanyakan kabarnya. Sepertinya aku tidak bisa melakukannya, aku gelisah sekali. Akhirnya aku putuskan untuk tidak mengirimnya pesan.
Berulang kali aku melihat profilnya, membuka tempat obrolan dan menutup lalu membuka kemudian menutup, berulangkali melakukan hal seperti itu, aku sangat ingin sekali memulai. Buat apa aku memulai kalau dia tak juga menganggap perjuanganku. Ku kubur dalam-dalam rasa keinginanku. Biarkan aku melihatnya dari jauh saja. Apalagi dalam bio masih ada nama itu, dan sering kali ia bergonta-ganti foto dengan ceweknya. Foto-fotonya sangat romantis sekali.
Aku seperti remahan rengginang, hanya remahan yang tidak ada apa-apanya, tapi yang ku tahu, kalau dia sangat menyukai rengginang, dia pasti akan menghabiskan remahan-remahan itu, tinggal tunggu tamu yang datang lalu dengan senang hati menghabiskan remahan rengginang itu.
Tak ada yang spesial di kelas 12. Apalagi saat Ujian Nasional berbasis komputer, angkatan ku sebagai uji coba menggunakan komputer, sebenarnya enak sih, karena tidak harus membulatkan satu persatu jawaban saat ulangan di kelas. Pegal kalau membulatkan satu persatu.
Kalau menggunakan komputer juga pegal sih, muka yang selalu menghadap komputer, belum lagi cahaya komputer yang terang itu, bisa merusak mata secara bertahap, tapi keren kok, teknologi semakin canggih, kita harus terjun langsung, jangan sampai kita tertinggal teknologi dan norak dengan kecanggihan teknologi.
Kelas 12 difokuskan untuk menghadapi ujian, bagaimana aku bisa fokus kalau aku sedang mengobati luka. Apalagi aku hanya bisa memantaunya dari jauh saja, aku juga baru tahu kalau dia tidak kuliah dan menunggu setahun dulu, lalu masuk lagi bersamaan dengan angkatanku. Aku juga tahu dia ingin kuliah di mana, semoga saja aku bisa satu kuliah lagi dengannya.
__ADS_1
Belajar, belajar, dan belajar. Itulah kegiatan ku di kelas 12. Untungnya aku tidak ikut les, coba kalau ikut, pasti pusing sekali. Sekolah pulang jam 12 kemudian lanjut dengan tugas kelompok lalu sampai rumah sudah sore, kemudian beres-beres, ishoma, dan belajar lagi. Daur hidupku seperti itu. Aku juga jarang temu kangen dengan sahabat-sahabatku. Iren, Naren, Zena. Nanti kita bertemu ya, kita main sepuasnya saat liburan tiba.