
Aku berusaha agar bisa melupakan Kaki, berusaha dengan keras, sampai aku tidak mampu melupakannya, semakin aku berusaha, Kaki semakin kuat dipikiranku.
Berjalannya waktu, lama-kelamaan jadi terbiasa tanpanya, mungkin aku hanya sesekali masih memantau lewat media sosialnya. Hakikat sebagai orang penyuka seperti ku, ya.. hanya itu saja yang dapat ku lakukan.
Ujian sebentar lagi tiba, aku berusaha keras untuk belajar. Aku ingin sekali mendapatkan hasil terbaik. Kenyataannya, hasil ujian ku pas-pasan tapi aku sangat bahagia. Ada sensasi yang berbeda, aku senang sekali mendapatkan nilai segitu.
Selesainya ujian, aku mencari-cari tempat perkuliahan, waktu itu aku pernah mengikuti SNMPTN tapi kurang beruntung, pertama kali disaring sih sudah lolos, tapi saat disaring lagi, aku tidak lolos. It's ok, no problem, walaupun rada nyesek sihhh.
Aku langsung stres memikirkan kuliah, apalagi aku belum terbiasa mencari ilmu di tempat yang jauh, coba saja bayangkan, tempat SMP ku dekat sekali dari rumah, kepeleset juga nyampe, SMA ku juga masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Aku tidak pernah sekolah jauh, selalu cari yang terdekat dari rumah karena ibuku selalu panik, selalu kepikiran jika anaknya sekolah di tempat yang jauh.
Pada hari itu, aku sedang bermain bersama dengan para sahabatku, waktu itu aku ingin daftar STAN, semoga aja lulus. Daftar bareng, berangkat bareng, tes bareng, semua dilakukan bareng-bareng, sampai akhirnya semuanya pun bareng-bareng tidak diterima masuk STAN, lucu kann.
Lalu setelah itu temanku bilang kalau ia ingin kuliah di salah satu kampus yang jaraknya jauh bagiku. Setelah aku dan temanku mengunjungi kampus itu, akhirnya aku dan Iren menetap ke kampus itu, yang lainnya mencar. Aku dan Iren juga memilih fakultas yang sama walaupun beda jurusan.
__ADS_1
Kak Pio juga ngampus di sini, dan kebetulan banget, Kaki pernah bilang kalau ia ingin kuliah di sini. Berarti aku bisa bertemu dengannya di sini dong. Itu juga yang menjadi alasanku untuk masuk ke kampus ini, agar bisa bertemu Kaki lagi.
Setelah berlalunya 2 semester, aku tidak kunjung bertemu dengan Kaki. Aku pun heran, walaupun bukan satu gedung, pasti setidaknya pernah melihat mukanya lah. Ini kok sama sekali tidak pernah ku lihat. Akhirnya aku memantau media sosialnya lagi, btw Kaki sudah jarang main Pasbue, ia seringnya main Tuit. Aku selalu mendapatkan berita tentang Kaki melalui Tuit. Sangat bagus sekali karena ada Tuit, aku bisa memata-matai orang.
Aku membaca satu-persatu berita tentangnya, sampai aku tahu, kalau Kaki tidak jadi kuliah di tempatku. Ia telah berbohong. Aku yang sudah terlanjur kuliah di sini harus menjalani sampai akhir.
Aku terima semua itu, aku juga terus berusaha untuk membuka hatiku, tapi bukan karena Kaki yang menyebabkan hatiku tertutup walaupun dia juga termasuk alasan ke sekian aku menutup hati, alasan utama aku menutup hatiku karena aku ingin menjaga hati dari hubungan tanpa status, hubungan yang belum diketahui secara sahnya. Lagi pula bermain hati itu tidak mudah, harus pandai menjaga, apalagi di zaman seperti ini.
Aku sangat dingin dengan laki-laki, tapi aku masih normal loh ya, aku hanya ingin menjaga jarak saja dengannya. Di tempat kuliah, aku hanya dekat dengan beberapa orang saja itu pun perempuan semua, aku model orang yang seperti itu, yang berteman dengan sedikit orang namun bisa langgeng sampai beribu-ribu tahun. Lebay wkwk, tapi beneran deh, aku tipe orang yang setia.
***
Aku langsung buru-buru ke depan masjid agar dia tidak dapat menemuiku diantara lautan orang. Saat aku kabur, temannya memberitahukan kepada kak Pio kalau ada yang melihatnya, buktinya temannya kak Pio tunjuk-tunjuk aku saat aku ingin kabur.
__ADS_1
Aku menjalani dunia kampus dengan berat hati, banyak hal yang membuat aku stres dan lain-lain, apalagi bayangan ku saat aku akan memasuki dunia perkuliahan, aku melihat orang-orang kuliah pasti dewasa. Kenyataannya tidak sama sekali, namanya juga bocah yang baru lulus dari SMA.
Selama aku di SMA dan SMP, aku jarang sekali sakit sampai izin tidak masuk sekolah, pokoknya absenku selalu hadir, tidak ada satupun izin, sakit, alpa. Tidak pernah ada. Saat teman-teman SMP ku kebanjiran pun, aku selalu masuk ke sekolah. Daerahku itu tidak pernah terkena banjir, cuma akses jalanan pasti banjir, jadinya tidak bisa kemana-mana, kebetulan rumahku dekat sekali dengan sekolah SMP, makanya aku selalu hadir, sama seperti saat aku di SMA.
Saat di perkuliahan, awal-awal kuliah aku masih jarang sakit, tapi lama kelamaan, aku sering sekali sakit, sampai tiap semester aku selalu sakit, dan dokter selalu bilang aku ini gejala tipes ataupun gejala DBD.
***
Pada masa ini, aku senang sekali bernostalgia, apalagi saat melihat obrolan-obrolan zaman dulu. Saat itu aku melihat obrolan ku dengan Kaki, dan ketika baca itu, aku nyesek sekali, karena di pesan itu sangat memperlihatkan kebodohan ku, aku sangat mengejar-ngejar dia, kelihatan sekali. Aku jadi sadar diri, kalau sebenarnya dia memang dari dulu tidak suka padaku. Aku terima semua kenyataan ini.
Kemudian saat aku melihat chat yang lain, aku tertawa terpingkal-pingkal kalau membaca chatanku dengan sahabatku. Lucu sekali. Selain itu aku juga membaca chatan ku dengan kak Pio. Aku membaca chatan dari awal seperti saat aku baca chat lainnya.
Aku baru mengerti mengapa dia mengakhiri obrolan, atau tidak menjawab obrolan terakhir yang aku kirim. Aku tahu, dia sudah tidak lagi mengirim pesan kepada perempuan, karena dia juga sedang jaga jarak dengan perempuan, sampai akhirnya ia mempunyai perempuan yang tepat, sehingga ia bisa mengobrol dengannya.
__ADS_1
Saat memasuki bulan puasa, aku melihat story dia di media sosial, intinya dia gembira karena dia sudah bisa dipercaya oleh orang-orang di lingkungan rumahnya untuk menjadi imam. Aku lihat ia sangat senang sekali. Namun entah mengapa, aku malah berkata sok atau apalah. Sampai akhirnya, ketika aku melihat chat darinya lagi, aku baru mengerti mengapa ia sangat senang akan hal itu, itu adalah impian dia selama ini, dan itu sudah terwujud. Hebat sekali. Selamat ya kak.
Aku juga memikirkan hal itu, memikirkan cita-citaku, orang lain sudah pada maju untuk menjadikan dirinya sebagai bintang yang bersinar, tapi kenapa aku masih saja seperti dulu. Tidak bersinar, tidak ada bintang. Semuanya terhempas, sepi, sunyi, dan gelap.